Selamat, Kamu Berhasil Lolos Dari Hubungan Toksik. Ini 4 Tips Bagi Penyintas

Selamat! kamu baru saja lepas dari sebuah hubungan yang melelahkan. Berhasil lolos dari hubungan yang penuh kekerasan dan kamu menjadi seorang penyintas, merasa bebas. Lalu apa yang harus kamu lakukan sebagai penyintas?

Kamu sudah bebas untuk bahagia, bebas untuk berperilaku dan berkreasi, bebas untuk menentukan jati diri tanpa campur tangan orang lain.

Tapi ketika kebebasan itu telah kamu dapat dan kamu berhasil keluar dari sebuah hubungan abusive, kadang malah muncul sebuah pertanyaan lain:

“Apa yang harus kulakukan selanjutnya?”

Bukan hal yang mudah bagi sebagian orang untuk menjalani hidup selayaknya manusia biasa setelah berkutat dengan insiden kekerasan dalam hubungan toksik.

Badan kesehatan dunia, WHO pada tahun 2012 menjelaskan jika penyintas dapat mengalami trauma akibat kekerasan yang mereka alami seperti terkena persoalan kesehatan mental, fisik sampai dengan risiko kembali mengalami hubungan yang abusive.

Namun, meski banyak jurnal menggarisbawahi bagaimana hubungan tersebut dapat berpengaruh buruk bagi mereka yang pernah mengalaminya, beberapa dari mereka juga menemukan bahwa kekuatan dan kesuksesan bisa juga berhasil dikembangkan oleh penyintas setelah selamat dari kekerasan.

Pandangan ini mendemonstrasikan bahwa penting bagi penyintas untuk mengerti langkah dan proses yang dapat mendukung mereka mengatasi dampak – dampak negatif dari pengalaman buruk tersebut

Beberapa tahap dalam proses penyembuhan ini saya sarikan dari penelitian oleh Judith Wuest dan Marilyn Merritt-Gray dengan tujuan agar penyintas mampu pulih dari trauma setelah mengalami insiden kekerasan dalam hubungan mereka, yaitu :

Mendapatkan dan Menciptakan Kembali Identitas Penyintas

Seorang penyintas dapat merasa linglung setelah ia terbiasa diatur oleh pelaku kekerasan—mulai dari mengatur hal – hal kecil seperti bagaimana ia harus berpakaian atau dengan siapa ia dapat bertemu, sampai dengan pilihan – pilihan penting dalam hidupnya. Sehingga ketika sosok tersebut menghilang, berawal pula kewajiban penyintas dalam memutuskan segala sesuatu sendiri.

Penyintas disarankan menggunakan waktu ini untuk memilih jati diri seperti apa yang ia inginkan, dan gambaran apa yang hendak ia tanamkan pada orang lain mengenai dirinya sendiri. Pada awalnya kebebasan ini mungkin terasa membingungkan, namun bak kata pepatah,“If there’s one person who could help you to make your choices, it’s yourself.”

Sembuh atas Gejala Kesehatan Mental dan Fisik dari Kekerasan yang Dialami

Seseorang yang pernah mengalami kekerasan dalam hubungannya dapat memiliki gejala kesehatan baik secara mental maupun fisik. Sedangkan definisi kata ‘sembuh’ sendiri bermacam – macam bentuknya, dengan waktu penyembuhan dan proses yang berbeda – beda. Seseorang dapat merasa baik – baik saja pada enam bulan pertama, kemudian menemukan sesuatu yang mengingatkannya pada trauma yang dimiliki dan merasa resah selama berhari – hari setelah itu.

Meskipun begitu, waktu menyembuhkan segalanya. Dengan tekad yang kuat dan dukungan sekitar untuk bangkit dari tekanan mental yang dialami, seorang penyintas lambat laun dapat menemukan interval gangguan dari gejala trauma yang semakin pendek atau bahkan cara menangani gejala tersebut agar tidak menganggu kehidupannya sehari – hari.

Menumbuhkan Perasaan Menerima dan Memberi Pengampunan untuk Diri Sendiri dan Pelaku Kekerasan

Penyintas perlu untuk mencari alasan mengapa kekerasan dapat terjadi dan mengapa ia dalam suatu waktu memutuskan untuk bertahan dengan keadaan tersebut.

Pada awalnya, seorang penyintas seringkali mempertanyakan hal – hal yang seakan – akan menuduh dirinya sendiri seperti, ‘mengapa aku yang mengalami hal ini?’, ‘apa yang salah denganku?’.

Dalam fase ini, dukungan dari lingkungan yang tepat sangat dibutuhkan karena ketika orang – orang di sekitar menvalidasi perspektif sang penyintas atas pelaku kekerasan, penyintas tidak akan memiliki kecenderungan untuk menyalahkan dirinya sendiri.

Para korban kekerasan juga seringkali disarankan untuk memaafkan dan melupakan pelaku—sebuah nasihat yang diakui hampir tidak dapat dilakukan karena tindakan pengampunan sendiri dirasa tak selalu membantu mereka untuk sembuh dan bangkit dari keterpurukan.

Oleh karena itu, penting bagi penyintas untuk tidak melupakan hubungan tersebut, sehingga kejadian – kejadian serupa tidak akan terjadi di masa depan. Yang perlu diperhatikan adalah untuk tidak menjadikan pengalaman dalam hubungan abusive sebagai pusat dari dunia seorang penyintas, melainkan menempatkan hubungan tersebut sebagai salah satu peristiwa yang patut dijadikan pelajaran.

Karena ketika seseorang berhenti mendefinisikan dirinya sebagai ‘pihak yang pernah mengalami kekerasan dalam hubungan’, ia akan menempatkan kejadian tersebut di masa lalu dan mulai menyadari konsekuensi positif yang didapatkan dari pengalaman yang menimpanya.

Menentukan Apakah Penyintas Ingin Memiliki Hubungan yang Baru

Merupakan salah satu langkah yang cukup sulit bagi sebagian orang, penyintas perlu untuk memiliki pikiran yang jernih dalam menyatakan bahwa ia siap menjalani hubungan intim yang baru. Hubungan tersebut perlu didasari kejujuran mengenai gejala trauma baik fisik maupun psikologis yang dimiliki agar dapat memastikan bahwa pasangannya memahami apa yang harus ia hadapi atau bahkan membantu penyintas dalam menyembuhkan trauma yang dimiliki.

Fase – fase yang telah dijelaskan bukanlah sebuah langkah pakem yang harus dijalani agar seorang penyintas dapat sembuh sepenuhnya setelah mengalami kekerasan dalam hubungan. Akan tetapi sebuah keyakinan bahwa setiap orang berhak mendapat kisah hidupnya masing – masing dengan segala cara dan akhir yang diinginkan, tidak peduli apa yang pernah menimpanya di masa lalu.

Bagaimana seseorang memperlakukan orang lain dalam suatu hubungan tidak mendefinisikan orang tersebut atau bagaimana ia patut diperlakukan seterusnya. Seek help. Komunikasikan masalah yang terpicu oleh trauma dari abusive relationship dengan mereka yang berpengalaman.

Tidak dapat dipungkiri bahwa fase penyembuhan dan bangkit setelah melewati sebuah hubungan yang abusive dapat menjadi sangat berantakan. Jangan menyerah, sekalipun di saat terberat atau menyakitkan dari proses tersebut.

Terdapat alasan mengapa fenomena ini terjadi pada beberapa orang dalam hidup mereka, salah satunya dikarenakan Tuhan percaya akan kekuatan orang – orang tersebut.

Dan jika terdapat satu hal yang mampu membantu kondisi seorang penyintas menjadi lebih baik, hal itu harus muncul dari dirinya sendiri.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Sumber:

1.World Health Organization. (2012). Understanding and Addressing Violence Against Women: Intimate Partner Violence.

2.Judith Wuest dan Marilyn Merritt-Gray. (2001). Beyond survival: Reclaiming Self after Leaving an Abusive Male Partner. Canadian Journal of Nursing Research.

Nadira Firinda

Junior Analyst yang gemar beropini, membaca, dan terobsesi dengan merajut. Sedang bekerja di sebuah bank sejak tahun 2019. Also someone who has lived through an abusive relationship and in the process of healing oneself for the last 4 years

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email