Sesat Pikir, Keterlibatan Perempuan Dalam Aksi Terorisme Bukan Bagian Dari Feminisme

Keterlibatan perempuan dalam aksi ekstrimisme dan terorisme yang dikonotasikan sebagai bagian dari feminisme merupakan sesat pikir. Nilai feminisme tidak sama dengan nilai yang dikembangkan para teroris. Para perempuan menyatakan soal anggapan salah ini dalam acara Open Mic Perempuan Indonesia Melawan Ekstrimisme

Nanda Olivia, korban bom kedutaan Australia di Jakarta bercerita, ketika ia menjadi korban bom pada 9 September 2004, ia tak pernah berpikir bahwa akan mengalami kejadian sepahit itu.

Setelah menjadi korban, Nanda lalu menjadi seorang penyintas. Bagi Nanda, ini merupakan peristiwa berat yang ia hadapi, tapi selama berjalannya waktu, Nanda yang dulu tak percaya diri karena perubahan fisiknya sejak terkena bom, menjadi kuat menerima kondisi ini karena dukungan lingkungan sekitarnya.

“Saya menjadi orang yang tidak percaya diri, namun perlahan berkat dukungan keluarga, teman-teman kami selama ini menimbulkan kepercayaan diri saya tumbuh kembali. Saya yang malu dengan kondisi fisik saya, kemudian disadarkan karena banyak korban yang lebih parah kondisinya dari saya namun mereka bisa tersenyum, ini yang membuat saya bisa menjadi penyintas seperti sekarang ini, dukungan ini sangat penting bagi saya.”

Seperti Nanda, Andi Dina Noviana, adalah korban bom Thamrin, Jakarta di tahun 2016 yang punya pengalaman serupa. Menjadi korban bom Thamrin tidak pernah ia bayangkan sebelumnya, apalagi ia harus menanggung luka dan perubahan fisik seumur hidupnya.

“Sebagai penyintas bom, sebagai perempuan, saya merasa sakit sekali.”

Maka ketika ia mendengar kejadian pengeboman di Gereja di Makassar dan Mabes Polri Jakarta yang melibatkan perempuan sebagai eksekutor baru-baru ini, ia merasa sedih, karena perempuan dijadikan eksekutor atau penghancur.

“Saya sedang berada di Makassar ketika bom kemarin terjadi. Saya berharap tidak ada lagi Dina-Dina lain seperti saya sebagai korban, dan tidak lagi melibatkan perempuan sebagai eksekutor bom, karena melibatkan perempuan adalah tindakan yang eksploitatif.”

Nanda Olivia dan Andi Dina Noviana mengungkapkan ini dalam acara “Open Mic Suara Perempuan Indonesia, Perempuan Indonesia Melawan Ekstrimisme dan Kekerasan” yang diselenggarakan The Asian Muslim Action Network/ AMAN Indonesia, 3 April 2021. Acara ini menghadirkan Menteri, para perempuan yang bekerja di pemerintahan, mewakili organisasi masyarakat, kampus dan organisasi keagamaan

Ruby Kholifah, Direktur AMAN Indonesia memaparkan, melihat aksi di Gereja di Makassar dan Mabes Polri, ini bukan pertamakalinya perempuan dijadikan esksekutor. Keterlibatan perempuan ini melibatkan laki-laki dan media sosial yang kemudian mengubah pendekatan kelompok teroris yang mengajak perempuan dan mengubah daya pikat perempuan

Ruby Kholifah menyatakan tentang asumsi yang keliru yang mengatakan bahwa keterlibatan perempuan dalam terorisme disamakan dengan gerakan feminisme. Ada yang menyatakan bahwa aksi bom yang melibatkan perempuan ini merupakan perlawanan dari feminisme, padahal feminisme tidak mengajarkan ekstrimisme dan terorisme

“Ini hanya upaya untuk memojokkan feminisme, karena terorisme bukan bagian dari feminisme,” kata Ruby Kholifah

Peneliti Hukum dan HAM Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) Milda Istiqomah mencatat seperti dilansir dari Tempo.co 2 April 2021 tentang peran perempuan dalam terorisme. Sebelum tahun 2016, kata Milda, perempuan terlibat sebagai pembawa pesan, perekrutan, mobilisasi dan alat propaganda, serta regenerasi ideologi. Namun, di atas tahun 2016, peran perempuan mengalami pergeseran. Perempuan telah menjadi pelaku bom bunuh diri atau penyedia senjata, perakit bom. 

Adapun motivasi perempuan terlibat dalam jaringan terorisme, Milda menilai, ada tiga alasan. Pertama adalah personal factors. Perempuan terlibat karena dijajah pemikirannya dengan pemahaman Islam radikal. Alasan kedua adalah social-political concerns, karena adanya ketimpangan sosial, ketidakadilan, diskriminasi. Terakhir adalah karena faktor personal tragedy di mana perempuan menjadi korban pemerkosaan atau pelecehan seksual lainnya

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, I Gusti Ayu Bintang Darmawati, yang juga berbicara dalam acara open mic ini ini menyatakan bahwa data menunjukkan keterlibatan perempuan dalam aksi terorisme memang meningkat. Data Badan Nasional Penanggulangan Terorisme/ BNPT di tahun 2018, terdapat 13 pelaku teroris perempuan, dan datanya berubah menjadi 15 orang di tahun 2019. Kondisi kemiskinan dan budaya diprediksi menjadi prinsip yang keliru yang diyakini perempuan, juga persepsi soal agama yang keliru dimana perempuan dipercaya harus tunduk pada suaminya. Dan ini semuanya bukan merupakan bagian dari kesetaraan gender, karena kesetaraan yang kita perjuangkan bukan melakukan aksi keji, namun untuk berjuang dalam pembangunan ini.

“Ini harus menjadi catatan kita semua. Kejadian di sejumlah tempat untuk mengenali faktor yang melibatkan perempuan dalam aksi keji ini. Peran perempuan memiliki intervensi pada keluarga dan anaknya, bisa membuka jalan dan dianggap strategis menjadi martir yang menyiapkan anak-anaknya. Padahal perempuan adalah pelopor perdamaian dan keberagaman.”

Siti Ruhaini Dzuhayatin dari Kantor Staf Presiden (KSP), menegasakan bahwa keterlibatan perempuan dalam ekstremisme bukan bagian dari kesetaraan gender. Ini adalah manifestasi subordinasi perempuan yang meyakini dan mengharuskan perempuan harus mempunyai imam untuk masuk ke surga yaitu laki-laki, padahal perempuan adalah individu yang bisa memperjuangkan dirinya sendiri untuk masuk ke surga.

“Mari kita menyebarkan narasi keislaman bahwa perempuan bisa menjadi diri sendiri untuk masuk ke surga, imam bisa memanipulasi perempuan dengan mudah melakukan sesuatu seperti kekerasan dan ekstremisme yang kemudian mengajak perempuan.”

Sejumlah aktivis perempuan lain seperti Aisyah Kara, guru besar UIN Alauddin Makassar, melihat bahwa menjadikan perempuan sebagai bagian dari eksekutor teroris adalah bagian atau strategi baru dari ideologi patriarki atau patriakal strategi untuk kepuasan nilai-nilai patriarki di Indonesia.

“Jika ada yang menyatakan bahwa terorisme adalah bagian dari ajaran Islam, ini salah, karena Islam adalah agama inklusif, damai dan otonom, masuk surganya perempuan adalah usahanya sendiri, jangan diimingi-imingi oleh nilai patriarki.”

Andy Yentriyani, Ketua Komnas Perempuan melihat bahwa kekerasan ini merupakan ketegangan negara yang sudah dialami sejak dulu, ini pentingnya negara memerangi kekerasan dan memperjuangkan hak asasi manusia

“Apa yang kita lihat dari peristiwa ini merupakan ketegangan negara sejak masa dulu dan perempuan dapat menjadi arah masa depan Indonesia dan bisa memberikan upaya koreksi dengan menegasakan bahwa pendidikan kritis dan hak asasi manusia penting untuk stop kekerasan dalam upaya memerangi ekstremisme dan kekerasan.”

Apa Yang Dilakukan Dalam Kondisi Ini?

Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani, menyatakan bahwa di dalam aksi-aksi terorisme, ia melihat peran ibu yang diajak untuk menggalang dana, merekrut kader baru, semua jaringan ini menggunakan perempuan. Maka di Banyuwangi, ia mengajak para perempuan untuk bergerak melawan terorisme dengan cara konsolidasi di tingkat PKK dan mengajak perempuan bicara dalam kegiatan Bupati Berkantor di Desa

“Gerakan ini harus mengajak perempuan, ini nanti akan diturunkan pada perempuan dan anak-anak akan menjadi garis depan karena perempuan yang diajak menjadi bagian dari terorisme. Di Banyuwangi, dilakukan konsolidasi di PKK untuk melawan gerakan ekstrimisme, bupati berkantor di desa untuk mengajak ibu-ibu bicara, sehingga tidak bisa dimasuki isu terorisme dan ekstremisme.”

Emma Husain dari Koalisi Perempuan Indonesia (KPI) Sulawesi Selatan mengatakan perlunya solidaritas seperti ini yang harus muncul terus, gerakan perempuan selalu konsisten dalam membangun keberagaman dan memperkuat perdamaian satu sama lain untuk menjaga semangat dan rasa kecurigaan dan kebencian dan tetap merawat kemanusiaan dengan akal sehat.

Senada dengan Aisyah Kara, Suraiya Kamaruzaman, aktivis perempuan Aceh dan Pendeta Kristi dari Srikandi Lintas Iman Jogjakarta menyatakan bahwa perempuan adalah perawat perdamaian dan keberagaman. Indonesia adalah satu tubuh, semua terluka dengan kondisi ini.

Indonesia dibangun dalam realitas keberagaman, dan perempuan harus menjadi bagian dari keberagaman yang menjadi jati diri bangsa

Open mic ini sekaligus meminta pemerintah untuk melawan terorisme dan ekstremisme yang banyak terjadi di Indonesia.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email