Hubungan Cinta dan Benci antara Instagram dan Perempuan

Perempuan ternyata ditemukan lebih aktif menggunakan Instagram dibanding laki-laki. Hubungan Instagram dan perempuan yang begitu dekat ini sayangnya mengandung beberapa aspek yang kurang sehat, jadinya: cinta Instagram, benci Instagram

Media sosial, atau lebih spesifik lagi Instagram, sudah menjadi bagian hidup yang sulit dipisahkan dari setiap aktivitas kita. Instagram mampu memfasilitasi ruang obrolan, ruang diskusi untuk berpendapat tentang isu sosial, berbagi foto, sarana memelihara hubungan, sampai untuk berbelanja. 

Dilansir dari Good News From Indonesia, perempuan ternyata ditemukan lebih aktif menggunakan Instagram dibandingkan laki-laki. Hubungan Instagram dan perempuan yang begitu dekat ini sayangnya mengandung beberapa aspek yang kurang sehat; bisa dibilang, ada dinamika cinta dan benci dalam hubungan ini.

Cinta Instagram, benci Instagram

Dalam feminisme, ada istilah cyberfeminism yang cocok untuk mendeskripsikan basis ideal dari hubungan perempuan dan Instagram. Dikutip dari buku Feminisme dan Postfeminisme oleh Sarah Gamble, cyberfeminism memiliki pemahaman bahwa teknologi telah memberikan angin segar bagi kelompok perempuan. Karena teknologi, perempuan dapat berekspresi tanpa batas di dunia maya daripada di dunia nyata. Donna Haraway dalam buku A Cyborg Manifesto juga menjelaskan bahwa jejaring yang diciptakan teknologi telah membuka ruang kebebasan bagi perempuan.

Di media sosial, suara kelompok marginal—salah satunya para perempuan—kerap mendapat audiens lebih besar daripada di dunia nyata sehingga banyak kelompok atau individu perempuan mulai menggunakan media sosial untuk menyuarakan pendapat atau menyorot isu tertentu. Bahkan ada istilah virtual sisterhood, di mana komunitas atau individu perempuan saling “berkumpul” dan terhubung satu sama lain di dunia maya untuk kampanye atau menjalankan gerakan sosial. 

Namun, Instagram dan sosial media secara umum bisa jadi pisau bermata dua bagi keamanan dan kenyamanan perempuan yang aktif di platformnya. Karena sifatnya yang cenderung bebas dan tidak terbatas, sosial media tak ayal juga dipelintir fungsinya oleh individu-individu yang tidak bertanggung jawab. Penyebaran informasi pribadi tanpa diketahui pemilik, pelecehan melalui online, ujaran kebencian terhadap gender, perundungan, peretasan akun media sosial adalah sedikit dari banyak contoh Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO) yang dipaparkan oleh Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet).

Selain dari faktor luar, diri kita sendiri mungkin kesulitan untuk menyaring informasi yang kita dapatkan melalui media sosial. Dikutip melalui National Geographic, penggunaan media sosial berhubungan erat dengan tingkat depresi seseorang. Media sosial menciptakan perbandingan yang negatif dan menjauhkan pengguna dari aktivitas di dunia nyata, sehingga berakibat pada perasaan kesepian. 

Instagram sendiri ternyata dicap sebagai media sosial yang paling buruk bagi kesehatan mental, menurut salah satu hasil penelitian di Inggris. Penelitian tersebut menemukan bahwa erat kaitannya antara Instagram dengan tingkat depresi, citra tubuh, bullying, dan FOMO (Fear of Missing Out). Bagi mereka yang sering mengakses Instagram, mereka cenderung rentan membanding-bandingkan diri dan hidup, dan merasa tertinggal dari orang lain. Salah satu responden juga menjelaskan bahwa Instagram dapat dengan mudah membuat perempuan merasa tubuhnya tidak ideal.  

Media Indonesia juga mengutip penelitian terhadap remaja perempuan yang ternyata lebih rentan mengalami depresi akibat penggunaan media sosial. Semakin banyak waktu yang dihabiskan di media sosial, semakin cenderung mereka tidak bahagia. 15% remaja yang menghabiskan waktu 30 menit/hari bermedia sosial dan 26% yang menghabiskan waktu > 6 jam/hari dilaporkan tidak bahagia. Sementara itu, terdapat 11% dan 18% laki-laki yang tidak bahagia di durasi yang sama. 

Keluar dari hubungan toxic dengan Instagram, bisakah?

Menurut film dokumenter The Social Dilemma, media sosial dibuat untuk memudahkan manusia saling berkomunikasi satu sama lain dan memenuhi kebutuhan informasi manusia. Sangat disesali jika akhirnya, rancangan manusia tersebut malah menguasai manusianya. 

Lalu, bagaimana solusinya dengan hubungan cinta dan benci ini? Kembali ke awal. Instagram benar-benar banyak manfaatnya jika digunakan dengan bijak; sayang jika ujungnya ia malah menguasai hidup kita.

Untuk sepenuhnya lepas dari Instagram mungkin kurang realistis. Tapi ada, kok, langkah kecil untuk mengambil kembali kontrol. Coba atur waktu aktifmu di Instagram sesuai kebutuhan dengan memanfaatkan fitur Set Daily Reminder yang bisa kamu temukan di Your Activity. Fitur ini akan memberitahumu ketika kamu sudah menggunakan Instagram lebih dari waktu yang kamu tentukan. Misalnya, kamu memasang timer 2 jam, maka setelah lebih dari 2 jam, Instagram akan mengirimkan notifikasi.

Dalam penggunaan media sosial sebagai ruang komunikasi yang tak terbatas, memang ada faktor-faktor di luar kendali kita, misalnya pengguna lain yang tidak bertanggung jawab, regulasi penggunaan media sosial yang perlu ditinjau lagi, dan lainnya. Tapi jangan lupa, kamu selalu punya otoritas dalam penggunaan Instagram dan media sosial lainnya.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Tulisan ini merupakan program KEDIP/ Konde Literasi Digital Perempuan www.konde.co bekerjasama dengan www.plainmovement.id, program berbagi pandangan personal dan perjuangan perempuan dalam berliterasi melalui media digital

Greta Theresia

Penulis Plain Movement

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email