Maafkan Kami Kawan Queer Muslim, Sekarang Kami Baru Paham Rasanya Lebaran Sendirian

Maafkan kami kawan-kawan queer Muslim, saat ini kami baru paham bagaimana rasanya lebaran sendirian, jauh dari keluarga. Maafkan kami yang terlalu terbiasa dengan segala hak istimewa atau privilege yang kami miliki sebagai heteroseksual selama ini

Lebaran tahun 2021 ini benar-benar beda dari sebelumnya. Tak ada lagi acara bangun kesiangan dan bergegas pergi ke masjid untuk salat Ied, apalagi sungkem-sungkeman dan makan ketupat opor ayam.

Bagi mahasiswa maupun pekerja perantauan seperti saya, tradisi tersebut rasanya jadi sangat istimewa sekali. Kami tak bisa pulang ke kampung halaman karena keadaan saat ini, semuanya demi kesehatan dan kebaikan bersama.

Bersyukur sekali bahwa teknologi benar-benar sangat membantu. Kami tetap dapat terkoneksi dengan keluarga meski secara virtual. Tetap bisa melihat tawa bapak, ibu dan keluarga. Tetap bisa saling maaf-maafan meski berjauhan. Tetap juga bisa memakai baju terbaik kami, bedanya yang kami hadapi adalah layar handphone. Rasanya lucu sekali punya pengalaman ini, suasana yang sepertinya sangat wajar tiap tahun dirasakan, menjadi hal yang kami syukuri di tengah pandemi. Walaupun tetap saja pertemuan langsung secara tatap muka tak bisa tergantikan. Meski semua sudah tersedia di layar monitor, rasanya tetap saja ada yang kosong.

Di saat-saat seperti ini, kami jadi belajar untuk menakar ulang privilege atau keistimewaan yang selama ini rupanya kami miliki namun tak sepenuhnya kami sadari. Menjadi cisgender heteroseksual membuat kami berpikir bahwa semuanya seolah taken for granted, ya seharusnya memang begitu. Padahal ada banyak sekali kawan-kawan saya yang queer Muslim atau  minoritas seksual seperti LGBT yang tak memiliki hak istimewa tersebut, bahkan untuk sekadar menjalankan tradisi dan keyakinannya sendiri.

Tak sedikit kawan-kawan queer Muslim yang tak bisa berkumpul bersama keluarga di Hari Raya Idul Fitri. Kawan-kawan saya ini ada yang tak bisa pulang karena diusir dari rumah dan bahkan dicoret dari daftar silsilah keluarga. Kehadiran mereka tak dianggap oleh keluarga sedarah mereka sendiri.

Ada pula yang tak bisa lagi pulang karena takut akan mendapat cemoohan dan penolakan dari tetangga maupun lingkungan sekitar. Kawan-kawan ini tak mau keluarga intinya mendapat perlakuan diskriminasi serupa, jadi mereka memutuskan untuk meninggalkan rumah dan tak pulang-pulang.

Sebenarnya ada banyak pula kawan-kawan saya queer Muslim yang bisa berlebaran bersama keluarga, namun mereka tak bisa menjadi dirinya sendiri. Mereka tak bisa merdeka menjalankan ibadah solat Ied sesuai dengan identitas gender yang mereka hayati. Kawan-kawan ini tak bisa pula memakai baju lebaran sesuai dengan apa yang mereka ingin ekspresikan.

Belum lagi ketika punya kesempatan berkumpul bersama keluarga besar, beberapa dari kawan-kawan queer Muslim harus bertarung dengan gender dysphoria di sepanjang tradisi sungkem-sungkeman dan perjamuan opor ayam. Penyebabnya bukan sekadar pertanyaan “kapan nikah?” yang sering kami resahkan. Bahkan kalaupun kawan-kawan queer Muslim menjawab sudah siap menikah, negara dan masyarakat heteronormatif ini yang justru tak siap melihat mereka menikah

Kawan-kawan queer Muslim ternyata telah merasakan Fitri yang sunyi seperti yang saat ini baru kami rasakan, dan itu sudah berlangsung sejak lama mereka rasakan. Maka tak elok rasanya bila kami hanya meromantisasi segala memori tradisi lebaran tanpa kembali mensyukuri nikmat-nikmat privilege apa saja yang masih bisa kami rasakan.

Hak-hak istimewa yang sebenarnya telah lama terenggut dari kawan-kawan sesama manusia yang lain di luar sana. Bahkan sebenarnya kami tak pernah benar-benar paham sebab apa yang kawan-kawan queer Muslim rasakan. Pasti bukan sekadar perkara ruang dan jarak, melainkan kekerasan sistemik yang membuat mereka tak bisa lagi berkumpul bersama keluarga ataupun menjadi diri sendiri di hari yang katanya  penuh kemenangan.

Masih di momen suci Idul Fitri, kiranya kami hendak meminta maaf. Maafkan kami yang kerapkali tak sadar dan bahkan kelewat bebal. Maafkan kami yang terlalu terbiasa dengan segala hak istimewa atau privilege yang kami miliki. Maafkan kami yang tak miliki cukup ruang bagi kemanusiaan, terima kasih juga sudah bertahan dan menjadi hebat sampai sejauh ini.

Maaf lahir dan batin dari kami, yang baru paham bagaimana rasanya lebaran sendirian.

(Ditulis saat lebaran pertama bersama pandemi, 24 Mei 2020)

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Himas Nur

Penulis dan kini tengah tercatat sebagai mahasiswa Pascasarjana Kajian Budaya dan Media, UGM. Dapat ditemui melalui akun instagram @himasnur

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email