Obrolan Tentang Vagina Selalu Dianggap Tabu; Stop Tabukan Vagina!

Obrolan tentang vagina selalu dianggap tabu. Penggantian kata “Vagina” menjadi miaw-miaw, memew, berakibat semakin mudahnya masyarakat mengolok-olok vagina dan hak seksual perempuan

Ini bukan cerita baru: ketika orang-orang menganggap vagina dan menstruasi pada perempuan adalah cerita yang tabu untuk dibicarakan

Apa penyebabnya?. Penyebabnya karena cerita apapun yang berhubungan dengan vagina sudah sejak zaman dulu memang dianggap sebagai cerita yang tabu untuk diceritakan. Maka akibatnya, sampai sekarang cerita tentang haid atau apapun yang berhubungan dengan vagina selalu dianggap tabu

Penggantian kata “Vagina” menjadi miaw-miaw, memew, berakibat semakin mudahnya masyarakat mengolok-olok vagina dan hak seksual perempuan

Pengalaman- pengalaman berikut ini semakin menguatkan tentang kisah para perempuan yang ditabukan karena bicara haid dan vagina: cerita tentang perempuan yang membeli pembalut layaknya transaksi narkoba, diam-diam, takut, gak boleh ketahuan orang lain.

Ini juga yang dialami Aiswara. Serupa dengan Aiswara, Ersya juga bergelut dengan dilema mengenai vagina dan organ reproduksinya hingga ia dicibir. Begini cerita tentang vagina dan pembalut yang diambil dari novel dan pengalaman perempuan:

Tubuhnya didera kenyerian tatkala aliran deras darah mengucur di sela pangkal paha kanan dan kirinya. Tulang panggulnya bagai tertusuk puluhan duri tajam. Sambil merintih, ia mencoba meraih handuk yang sudah ia rendam dengan air panas sejak lima menit lalu. Rasa sakit itu berlangsung terus-menerus hingga terkadang, saat manusia lain terlelap, belum juga reda.         

“Di antara banyaknya hal luar biasa yang ada pada saraf panggul Anda, terdapat satu kehebatan lain,” sambil menahan rasa sakit, bibir mungilnya mengeja satu per satu kata dalam buku Naomi Wolf berjudul V*gina: Kuasa dan Kesadaran. Tangannya mencengkeram erat handuk hangat yang sudah mendarat di perut bagian bawahnya. Belum sempat ia memakan habis satu kalimat di dalam buku tersebut, ia mendengar seseorang mengucap namanya lirih.

“Vulgar banget, sih, bacaan kamu.”

Tuh, pembalut jangan diumbar-umbar begitu. Nanti kalau ada yang lihat kan malu.”

Sesaat ia menyadari bahwa tanda bintang pada kata “vagina” di buku yang ia baca menyiratkan suatu hal. Ya, dunia yang ia jalani masih terlalu tabu untuk secara gamblang, menyebut organ yang Naomi ucap “luar biasa” ataupun kumpulan serat sintetis yang disebut sebagai pembalut.

Ia merasa malu atas pembalutnya, vaginanya, dan aliran deras darah yang mengalir di sela pahanya.

“Bukannya vagina dan menstruasi itu hal yang luar biasa?” tanyanya dalam hati.

Selanjutnya, satu lagi cerita dari perempuan lain di hari pertama menstruasinya. Melirik kanan dan kiri, ia memasukkan hasil belanjaan secara cepat ke kantong rok atau kantong belanjaan tidak tembus pandang. Ia berharap tak ada lawan jenis yang melihatnya. Menyadari tak ada sepasang mata yang menangkap pergerakannya, ia bergegas lari ke kamar mandi.

Adegan tersebut bukan lah transaksi narkoba atau barang haram lainnya. Itu hanyalah usaha seorang remaja perempuan yang membeli pembalut agar tak ketahuan teman sebayanya. Hal ini diungkapkan oleh Aiswara, seorang remaja perempuan berusia 16 tahun. Ia enggan membeli pembalut menggunakan plastik transparan. Bahkan, dengan cepat ia memasukan pembalut tersebut ke kantong rok sekolahnya. Hanya tiga kata yang keluar dari mulutnya untuk menjelaskan situasi tersebut

Ya malu, lah.”

Period Shaming dan Tabunya Menstruasi pada Perempuan

Menurut laporan GEAS-Indonesia Baseline 2019, sebanyak 38% perempuan yang pernah mengalami menstruasi merasa malu pada tubuh mereka. Sementara itu, sebagian yang lain, yakni  54% perempuan merasa penting untuk merahasiakan menstruasi mereka.

“Padahal itu nggak apa-apa, itu  (pembalut) ‘kan barang bersih,” ujar komisioner Komnas Perempuan, Retty Ratnawati ketika meluruskan eksistensi pembalut adalah hal yang wajar.

Bahkan menurutnya, adalah hal lumrah ketika pembalut dipajang  di supermarket, minimarket, sekalipun beberapa warung kecil pinggir jalan.

Selain itu, Retty juga menyorot kenyataan di kehidupan nyata maupun sosial media, masih sering terdengar kalimat

“Baper amat kaya cewek PMS” atau

Marah-marah mulu, lagi mens ya, lo?”

Tak jarang pula, ia menemui banyak remaja perempuan mendapat sebutan “senggol bacok” karena jika mengganggunya saat menstruasi, ia akan marah bukan kepalang, seperti akan membacok. Kenyataannya, menurut Retty, kalimat tersebut atau pun kalimat serupa adalah bentuk period shaming yang sering terjadi di Indonesia.

Ia menambahkan, period shaming terjadi karena masyarakat masih menganggap tabu topik menstruasi. Retty juga menegaskan bahwa masyarakat itu sendiri yang membuat pernyataan tabu tentang menstruasi.

“Ketika orang zaman dulu belum mengetahui apa itu menstruasi, mereka (masyarakat zaman dahulu) cenderung membuat cerita-cerita aneh atau tidak menyenangkan mengenai menstruasi,” sambung Retty.

Menurutnya, tabu juga terjadi karena tidak adanya pemahaman atas menstruasi sehingga dianggap sebagai sesuatu yang menjijikan. Selain itu, ia menegaskan jika menstruasi tidak seharusnya menjadi topik tabu untuk masyarakat.

“Mentabukan bahkan menjadi kesalahan yang fatal karena menutupi atau melarang orang untuk menjelaskan menstruasi secara apa adanya, secara medis,” tuturnya.

Mengutip Retty, selain faktor menstruasi dianggap tabu oleh masyarakat, ada beberapa hal yang menyebabkan khususnya remaja melakukan period shaming.

“Menurut saya, itu karena mereka (remaja) mengikuti pola masyarakat, karena jika ia tidak melakukan itu (period shaming) ia menganggap ia tidak sama dengan yang lain. Kenapa remaja ikut-ikutan period shaming?. Karena remaja tidak paham dengan menstruasi dan merasa kalau itu lebih baik kalau dilakukan ke seseorang,” jelas Retty.

Faktor penyebab lain yang diungkapkan Retty ialah karena period shaming masih dianggap bercandaan. Namun, menurutnya, suatu hal dianggap bercanda ketika yang memberi dan menerima candaan tertawa, jika tidak, itu bisa dianggap sebagai pelecehan.

Budaya Patriarki, Satu dari “Seribu” Pangkal Period Shaming

Seakan tak ada habisnya, kasus period shaming nyatanya tak hanya berpangkal dari apa yang Retty sebutkan. Menurut riset di dalam artikel “Makna Menstruasi Bagi Perempuan Suku Naulu-Dusun Rohua Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku”, masyarakat masih mengasosiasikan fungsi alami tubuh perempuan sebagai pembawa kecemaran.

Di dalam kebudayaan suku Naulu, perempuan yang mengalami masa pubertas menjadi tontonan menarik bagi seluruh masyarakat adat. Saat masa itulah perempuan Naulu akan dinilai kepantasannya ketika berubah dari gadis menjadi perempuan dewasa. Perempuan yang mengalami menstruasi pertama kali harus mengasingkan diri di dalam sebuah gubuk pamali.

Gubuk berukuran 4×3 meter tersebut menjadi tempat tinggal sementara bagi perempuan Naulu saat pertama kalinya merasakan sakit menstruasi. Susunan daun sagu sebagai atap dan dinding gubuk tak cukup memprihatinkan, perempuan akan diisolasi selama kurang lebih satu bulan. Selama periode menstruasinya, perempuan akan diawasi dan dijaga oleh seorang perempuan yang telah menikah. Perempuan yang mengawasi tersebut disebut sebagai Nuhu Ne Upu e.      

Keterasingan yang dialami perempuan Naulu nyatanya tak dirasakan laki-lakinya. Sebagai simbol kedewasaan, laki-laki yang menginjak usia dewasa hanya dipakaikan atribut kain merah di kepalanya. 

Pengabaian berbagai nilai kemanusiaan serta respons terhadap proses biologis perempuan adalah cerminan dari cara masyarakat suku Naulu dusun Rohua memaknai menstruasi. Perbedaan perlakuan antargender juga tergambar secara jelas di dalam keseharian, seperti pembagian tugas, kedudukan, dan perlakuan tradisi yang tidak proporsional. Tradisi di suku tersebut memperlihatkan posisi perempuan yang masih inferior jika dibandingkan dengan laki-laki.

Pendidikan Seksualitas, Panasea di Tengah Keriuhan Diskriminasi

Erika Hady, seorang psikolog perkembangan anak menyoroti kurangnya pendidikan seksual bagi para orang tua dan remaja. Menurutnya, kurangnya pendidikan seksual menyebabkan kekerasan seksual verbal yang dialami oleh sebagian besar remaja saat pertama kali mengalami menstruasi.

“Orang tua harusnya mengatakan bahwa itu semua adalah hal lumrah, nggak perlu takut, nggak perlu sedih, itu tandanya kamu (perempuan) sudah mulai dewasa,” ucap Erika saat diwawancarai via daring. Ia menambahkan, pendidikan seksual yang diterapkan kepada anak sangat penting untuk menghilangkan pandangan tentang menstruasi yang “jorok”.

Sudah seharusnya, kata Erika, orang tua dan remaja menormalisasi obrolan tentang pendidikan seksual. Menurutnya, penggantian kata “Vagina” menjadi miaw-miaw, memew, kata “Penis” menjadi burung, selang, berakibat semakin mudahnya masyarakat mengolok-olok hal seksual. Orang tua, ucap Erika, diharapkan mulai menyebutkan kata-kata tersebut dengan tepat.  Dengan menormalisasi berbagai kata tersebut di lingkungan remaja, maka rasa malu untuk membicarakan hal tabu akan hilang dengan sendirinya.

Selain pendidikan seksual dari orang tua, Erika menganggap sekolah juga berperan penting untuk perkembangan pemahaman remaja tentang pendidikan seksual. Kabar baiknya, di kota-kota besar seperti Jakarta dan Bandung, sudah cukup menerapkan pendidikan seksual dengan mengundang pembicara ahli untuk melakukan sosialisasi pendidikan seksual. Dirinya sering diundang ke berbagai sekolah untuk membagi ilmu pendidikan seksual kepada siswa-siswi.

“Pubertas Layaknya Gerbang Menuju Pendewasaan, Wajar, Kok …”

Hal yang dibahas oleh Erika tak sebatas perubahan bentuk tubuh pada saat pubertas. Lebih dari itu, ia membahas bagaimana menjadi remaja yang lebih produktif dan positif.  Kehidupan remaja, tuturnya, tak hanya bermain, tetapi juga mempersiapkan menjadi dewasa agar siap untuk berkontribusi di lingkungannya. Selain itu, diri yang dewasa akan siap untuk menjalani hubungan yang lebih serius dengan pasangan kelak. Dengan begitu, remaja dapat berpikir visioner dan menghindari kegiatan yang merugikan diri sendiri.

Yang terpenting, sebut Erika, adalah seorang remaja perempuan harus memiliki rasa percaya diri yang cukup. Ketika remaja perempuan berani untuk speak up dan memiliki self esteem yang cukup, maka kemungkinan untuk mendapatkan period shaming akan kecil.

Namun, perlu diketahui tak semua remaja laki-laki melakukan period shaming kepada teman perempuannya. Ialah Ariffin, seorang pelajar sekaligus kakak bagi satu adik perempuan.  Ia mengungkapkan jika ia tidak pernah melakukan period shaming karena ia mencoba mengerti keadaan perempuan yang sedang menstruasi.

Cewek lagi mens itu sama aja dan kalaumarah atau sensian, dikasih waktu sendiri buat redain emosinya. Soalnya, cewek juga mens cuma beberapa kali dalam sebulan dan harus ngertiin sakitnya pas mens itu kayak gimana,” ungkapnya.

Meskipun belum pernah dititahkan untuk membeli pembalut, tetapi jika suatu saat ia dimintai tolong, ia pun bersedia.

”Mau-mau aja, sih. Asal dikasih tau jelas mereknya apa.”

Jadi, ini hanya kebiasaan, tak ada yang tabu bicara vagina dan haid!

Referensi:

(GEAS, 2020)(Tanahitumesseng et al., 2017)GEAS. (2020). Early Adolescents’ Health in Indonesia : Evidence Base from GEAS-Indonesia Baseline 2019 (Issue February).

Tanahitumesseng, Y. E., Ratnawati, R., & Cholil, M. (2017). Makna Menstruasi Bagi Perempuan Suku Naulu-Dusun Rohua Kabupaten Maluku Tengah Provinsi Maluku. Ijws, 5(1), 1–15.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Firliana Hafiza, Tasya Kania Dan Ersya Fadhila Damayanti

Mahasiswi Jurusan Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email