Saya Berhak Bahagia Walau Punya Orientasi Seksual yang Berbeda

Tak mudah buat saya agar diterima ketika saya punya orientasi seksual yang berbeda. Banyaknya caci maki di media sosial makin membuat saya down, tak mudah melalui ini semua

Dulu pada saat awal menyadari bahwa saya punya orientasi seksual yang berbeda, saya begitu sangat euforia. Berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Saya terlahir dengan orientasi seksual yang masih dianggap minoritas. Masih dibeda-bedakan, masih dianggap tidak utuh sebagai manusia.

Dulu awalnya ketika saya menyadari bahwa saya berbeda, saya sempat mengumbar di media sosial dan sharing tentang apa yang saya rasakan: bahwa saya mulai merasakan hal yang berbeda dengan yang lain. Cara mengumbar ini seperti memberontak kepada dunia, ingin diperhatikan, ingin diakui.

Tapi pada akhirnya, setelah saya menulis di sosial media, saya cuma dapat direct message cacian dan unfollow teman di Instagram.

Bisa dibilang dulu saya setelah itu sempat menjadi seseorang yang begitu rapuh. Dihujat, dicaci, diserang dengan ayat – ayat yang mengatasnamakan Tuhan bahwa orang-orang seperti saya ini dibenci oleh Tuhan.

Ketika di posisi seperti itu, otomatislah air mata saya sering berderai-derai deras. Meskipun di keramaian, tetap saja tangisan tak terbendung. Saya pernah juga mengalami banjir air mata ketika sedang menonton langsung konser Asian Paragames di Jakarta karena waktu itu saya banyak dihujat di media sosial, dan itu bikin nangis

Untungnya, ada sahabat perempuan di samping saya yang memang tahu dan menerima saya yang berbeda ini apa adanya. Dan pastinya pada saat itu dia langsung menguatkan saya yang selalu bersedih dan marah setiap membaca berita atau komentar buruk terhadap manusia dengan orientasi seksual yang berbeda.

Sekarang ini, saya merasa saya yang dulu begitu berbeda dengan diri saya yang sekarang, setelah begitu banyak proses yang saya lewati. Salah satunya adalah saya terpanggil untuk mendalami spiritualisme dan tentunya di dalam spiritualisme itu saya banyak belajar soal mental health issue. Spiritualisme yang saya pelajari adalah spiritualisme yang lebih mengarah ke Kejawen atau budaya Jawa, salah satunya yang mengajarkan saya untuk legowo, artinya menerima semua keadaan dengan pasrah

Istilah legowo dalam mental health issue bisa dibilang self love. Ya, menerima dan mencintai diri sendiri apapun keadaannya. Ini yang menjadi benteng kebahagiaan saya sekarang. Apapun omongan orang, sudah tidak mau ambil pusing (Emang Gue Pikirin/EGP).

Walaupun dalam perjalanan hidup saya kala itu itu, saya menemui teman-teman yang berbeda perspektif, seperti mereka menawarkan saya untuk kembali ke Tuhan, namun saya kemudian juga bertemu dengan banyak teman-teman yang menerima saya apa adanya. Walaupun ada yang berbeda, namun saya tetap bisa melanjutkan diskusi dengan mereka, saya juga masih berteman dengan mereka, karena saya tahu, mengapa dia mendekati saya dan saya juga lebih tahu siapa lawan bicara saya.

Ketika orang berbicara termasuk mengejek, mencaci, itu menunjukkan betapa rendahnya kualitas orang tersebut. Pernyataan ini yang saya pegang sampai saat ini. Jadi, ketika media sosial heboh dengan menjelek-jelekkan manusia dengan orientasi seksual yang berbeda, saya sudah mengambil sikap bodoh amat, karena saya sudah mulai memiliki benteng kebahagiaan. Ya mau diapakan lagi, karena yang berkomentar itu pasti orang dengan kualitas sumber daya manusia yang rendah yang tidak mau berkembang. Sudah tak menghargai perbedaannya, sempit pula pikirannya.

Di sisi lain, saya kemudian juga memilih untuk lebih fokus memikirkan teman – teman seperjuangan yang belum memiliki benteng kebahagiaan. Mereka harus membangun benteng kebahagiaan itu.

Sekarang, saya jadi lebih memahami bahwa manusia itu beragam, termasuk ragam dari pola pikir. Ada yang memahami keberagaman begitu luas dan adapula yang hanya memahami keberagaman hanya sebatas keberagaman agama. Jadi, mau atau tidak mau seseorang itu menerima saya, saya tidak lagi butuh penerimaan. Karena saya menerima diri saya sendiri secara utuh.

Setelah itu saya juga bertemu dengan banyak aktivis di lembaga swadaya masyarakat yang berfokus memperjuangkan keberagaman gender dan seksualitas. Saya baru menyadari bahwa saya tidak sendiri, ada banyak orang termasuk tokoh agama yang menerima saya apa adanya.

Kembali lagi, kunci besarnya adalah pada diri sendiri, maukah kita mencintai diri kita sendiri secara utuh? Karena masih ada yang berusaha terbuka dan bertemu dengan banyak lingkungan, namun tetap saja tidak mau menerima perbedaan. Yang penting adalah pasrah dan jangan lupa mencari kebahagiaan kita, buat saya ini kuncinya

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Muhammad Rizky

Pegiat Keberagaman, Tinggal di Surabaya

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email