Selepas Sarjana, Saya Bekerja Sebagai PRT; Kecelakaan Kerja Mengubah Hidup Saya

Setelah kuliah sampai sarjana, saya kesulitan mendapatkan pekerjaan seperti yang saya inginkan. Saya kemudian bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Kecelakaan selepas kerja, telah mengubah hidup saya

Saya terdampar di Jakarta. Setelah lulus kuliah, nasib membawa saya menjadi pekerja rumah tangga. Kecelakaan selepas kerja mengubah hidup saya

Semasa kecil, saya hidup dan besar sebagai anak seorang petani di sebuah desa yang dikelilingi pegunungan, tepatnya di Tulung Agung, Jawa Timur. 

Saya anak kelima dari enam bersaudara, tetapi saya tidak diasuh oleh kedua orangtua saya. Pakde dan bude mengangkat saya sebagai anak asuh, karena mereka tidak punya anak. Saya pun menjadi anak tunggal di salah satu keluarga atau saudara pakde dan bude saya. 

Sehari-hari kehidupan saya sangat bahagia sebagai anak tunggal. Kebutuhan dan keinginan saya selalu terpenuhi. Ayah asuh saya merupakan seorang pedagang dan bos tembakau, sedangkan ibu asuh saya berdagang kelontong di pasar desa tempat kami tinggal. Mereka juga bertani, menanam padi, tembakau, dan palawija. 

Saat itu, saya tidak tahu siapa orangtua saya walau ibu dan ayah kandung saya tinggal di sebelah rumah orangtua asuh saya. Selama itu saya memanggil orangtua kandung saya dengan paman dan bibi. 

Pada tahun 1977, keluarga paman dan bibi, yang sebetulnya adalah orangtua kandung saya, merantau ke Bengkulu. Sebabnya, desa kami terus-menerus dilanda banjir sehingga mereka tidak lagi bisa bertani. Saya, tetap tinggal dengan kedua orangtua asuh menetap di Tulung Agung. 

Saya pun menjalani kehidupan seperti normal saja. Saya sekolah di sebuah sekolah dasar dan sering mendapat peringkat tiga besar. Saya termasuk murid yang cerdas, suka membaca dan rajin menulis. Banyak hadiah dan piala yang saya dapatkan.

Namun, kebahagiaan itu tidak berselang lama. Ayah asuh saya meninggal dunia karena sakit. Tinggallah ibu dan saya.  Ibu kemudian menggantikan posisi ayah dengan tetap berdagang di pasar dan bertani. Setiap pagi sebelum berangkat sekolah, saya membantu ibu berdagang di pasar.

Suatu ketika, ibu pun jatuh sakit karena kelelahan dan masih merasakan kesedihan mendalam karena ditinggal ayah. Tidak dipungkiri, ayah saya merupakan figur laki-laki yang baik, sangat bertanggung jawab dan setia pada keluarga. Itu yang membuat ibu sangat mencintainya.

Ibu saya sangat menyayangi dan mencintai saya sehingga terkadang ia menjadi overprotective terhadap saya. Apa pun yang saya kerjakan harus izin padanya. Namun, saya mencoba mengerti kalau itu cara ia mengungkapkan kasih sayangnya. 

Tidak lama berselang, ibu saya pun pergi menyusul ayah. Saat itu saya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama atau SMP. Jadilah, saya hidup sendiri di desa itu. 

Menjadi Pekerja Rumah Tangga di Jakarta

Tahun 1985, saya dijemput oleh adik dari ayah asuh saya-paman saya, untuk disekolahkan di Jakarta. Saya menyetujuinya dan berangkat ke Jakarta. Aset orangtua asuh saya kemudian dikelola oleh orangtua kandung saya.

Setelah sampai di Jakarta, saya harus bekerja menjadi PRT di rumah paman saya agar bisa tetap sekolah. Saya mencuci baju, menyetrika, memasak, mencuci piring, menyapu, mengepel, selayaknya semua tugas PRT. Saya hanya dapat makan, tidur, uang SPP sekolah, dan uang saku untuk naik metro mini. Ini berbeda jauh dengan kenyataan hidup yang saya dapat dahulu.

Selain itu perlakuan dan siksaan verbal saya dapat setiap hari. Saya mesti bekerja keras dari jam 4 pagi hingga jam berangkat sekolah, lalu berlanjut saat sepulang sekolah hingga jam 10 malam. Di rumah itu, ada 8 orang anggota keluarga, termasuk saya. Saya membereskan semua pekerjaan rumah setiap hari.

Tiada hari yang saya lewatkan tanpa berderai air mata. Setiap saya melakukan kekeliruan seperti memasak nasi gosong, maka bibi saya akan meluapkan emosinya pada saya. Saat itu belum ada rice cooker, sehingga memasak nasi dilakukan dengan proses aronan dan menanaknya. Sebuah proses yang sulit bagi anak seusia saya saat itu. Ditambah lagi, bibi saya memiliki usaha rumah makan khas Jawa Timur, sehingga saya pun harus membantu pula. 

Semua penderitaan tersebut saya tanggung selama tiga tahun sampai saya lulus SMA. Tahun 1988 saat lulus, saya meninggalkan rumah paman dan bibi, dan belajar hidup mandiri. Saya mencari tempat kos dan pekerjaan dengan modal ijazah SLTA.

Sangat sulit mencari pekerjaan tanpa pengalaman sebelumnya. Namun setelah berusaha keras mencari, saya pun mendapat pekerjaan di sebuah restoran steik, dan saya bekerja di bagian bakery-nya. Setiap hari saya harus berangkat pagi sekali dan naik bis kota tingkat untuk menuju ke sana. Saya selalu datang telat, sehingga pemilik restoran menawarkan agar saya tinggal di mess karyawan. Tidak lama setelah itu, saya memutuskan keluar dari pekerjaan tersebut karena tidak cukup menjanjikan. Saya pun kembali menganggur.

Setiap hari saya mendatangi toko atau kantor tetapi tidak ada yang menerima saya menjadi pekerja di sana. Akhirnya, saya bertemu dengan seorang kawan baru bernama Mbak Sarti dari Malang, Jawa Timur. Ia menawarkan pekerjaan kepada saya untuk menjadi pengasuh bayi di rumah teman majikannya. Saya langsung menerimanya.

Saya pun bertemu dengan keluarga majikan saya. Nyonya merupakan orang Tegal dan suaminya orang Kanada. Setelah wawancara, saya diterima bekerja menjadi pengasuh putri mereka. Saya pun ditawarkan tinggal di rumah agar bisa menghemat biaya kost. 

Setiap bulan saya menerima gaji sebesar Rp60.000,00. Pekerjaan ini terasa menjadi sangat menyenangkan buat saya. Meski tinggal di rumah majikan, saya dibayar seperti pekerja yang bekerja di kantor yakni ada jam kerja, jika lewat dari jam kerja maka saya dibayar lembur Rp75.000. Hari Minggu, saya libur.

Ingin melanjutkan pendidikan

Suatu ketika saya berpikir untuk kuliah. Saya pun membicarakan keinginan saya tersebut pada majikan. Alhamdulillah ia mengizinkan dan memberikan waktu untuk kuliah. Saya mengambil kelas karyawan dengan pertemuan tiga kali seminggu: setiap Senin, Rabu, dan Jumat, pukul 7 malam.

Setelah selesai bertugas mengasuh putrinya, Victoria, saya pun berangkat ke tempat kuliah. Di sana, teman-teman seangkatan saya semuanya ibu-ibu dan bapak-bapak. Hanya ada satu orang laki-laki yang masih muda. Singkatnya, tahun 1994 saya berhasil lulus dengan gelar pendidikan Sarjana Ekonomi/ SE.

Pada tahun 1995 saya menemukan pasangan hidup saya. Tanggal 18 Januari kami menikah. Kami memiliki dua orang putri yang sangat kami sayangi. Putri pertama, lulus ahli madya kesehatan dan kini sedang melanjutkan kuliah lagi dan mengambil jurusan psikologi. Putri kedua masih duduk di kelas XI SMA. 

Kecelakaan terjadi dan mengubah nasib saya

Duka tak terduga saat menjadi PRT saya dapat pada tahun 2011. Saya mengalami kecelakaan yang sangat fatal. Saat dalam perjalanan pulang kerja, saya ditabrak mobil metro mini 72 jurusan Blok M dan tergencet badan Kopaja P.19 jurusan Cilandak-Tanah Abang di depan terminal Blok M.

Biasanya, saya pergi dan pulang bersama suami naik sepeda motor untuk menghemat ongkos, tetapi waktu itu suami saya sedang ada kerja lembur sehingga tidak bisa menjemput saya. Nahas menimpa saya, pun majikan tidak bersedia bertanggung jawab membiayai pengobatan saya. Supir mobil yang menabrak saya hanya bersedia membantu biaya pengobatan sebesar Rp5.000.000,00. Sementara, keadaan saya saat itu benar-benar parah.

Saya berobat ke RS Pertamina. Saat itu saya harus dioperasi dan perlu pasang 4 pan di pinggul sebab pinggul saya nyaris retak. Tulang ekor pun terkena juga. 

Keluarga saya tidak sanggup membiayai biaya yang ditawarkan RS Pertamina. Uang jaminan kesehatan saya saat itu tidak mencukupi, dan jika pun rumah saya dijual, tetap tidak akan cukup membiayai biaya operasi dan pengobatan.

Kemudian, ada seorang teman yang mengajak saya berobat ke ahli patah tulang di Cimande. Akhirnya kami minta keluar dari rumah sakit dan langsung ke Cimande. Ternyata di Cimande itu, ada juga dokter yang bekerja sama dengan ahli patah tulang di sana. Saya ditangani dokter orthopedi dan ahli patah tulang. Rasa sakit yang sangat luar biasa saya rasakan selama kurang lebih tiga bulan lamanya saat saya juga melatih diri memakai tongkat penyangga. Saya juga dibantu bidan desa untuk mengecek kesehatan reproduksi saya.

Efek kecelakaan tersebut membuat saya tidak bisa mempunyai anak lagi. Namun, saya tetap bersyukur mendapat karunia dua orang putri kesayangan kami. 

Memulai usaha baru

Setelah kecelakaan, saya tidak bisa lagi bekerja seperti dulu sebagai PRT. Sebelumnya, saya sempat mencoba bekerja menjadi PRT, tetapi tidak bertahan lama. Hanya 6 bulan saya bekerja karena  lukanya terasa sakit kembali. Kemudian saya berhenti bekerja, dan mencoba memulai usaha.

Saya kemudian membuka kedai nasi bernama 2 perempuan teman saya. Saya menyajikan wedang jahe, kopi jahe, dan minuman khas resep saya lainnya. Saya juga menjual nasi kucing makanan khas Jogja, dan aneka gorengan makanan khas Jawa Timur.

Awalnya kedai saya ramai didatangi pengunjung sebab kedai saya menyediakan makanan khas dan tidan ada saingannya. Namun, usaha kedai saya tidak bertahan lama. Hanya 8 bulan. Meski pada awalnya kedai saya ramai dikunjungi, tetapi ada masa di mana penjualan tiba-tiba menurun drastis karena tidak ada pembeli. Saya mencoba mengaji dan membaca Alquran di setiap malam hingga pagi selama 7 hari. Alhamdulillah  kedai saya pun kembali ramai. 

Cobaan pun datang kembali.  Tangan saya tiba-tiba tidak bisa mengulek gado-gado jualan saya. Setelah mempertimbangkan dan memperhitungkan kondisi saya, keluarga saya pun memutuskan menutup kedai dan beralih berjualan makanan ringan. Kami menjadi supplier makanan ringan ke toko-toko, kantin-kantin sekolah, pondok pesantren, dan juga koperasi perkantoran.

Keluarga saya terus diuji dengan berbagai cobaan hingga pandemi pun datang. Semua pedagang kecil ikut terdampak.

Saya tetap semangat menjalankan tugas hidup yang telah saya terima. Saya bersyukur pada Tuhan yang telah memberikan segala sesuatu pada saya dan keluarga saya, terlepas dari apa pun pekerjaan saya yang penting halal.

Dan, anak-anak saya harus tetap sekolah untuk mendapatkan pendidikan yang lebih tinggi dari kedua orangtuanya. Anak-anak saya harus tetap bisa meraih masa depan yang lebih baik dari kedua orangtuanya.

Inilah sekilas cerita kehidupan saya.

“KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, merupakan program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co dengan Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Adiati

Bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan menjadi distributor makanan, aktif di Organisasi Serikat PRT

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email