Transpuan Jadi Korban Pacaran Toksik; Sering Dipandang Rendah Pasangannya

Sejumlah transpuan menjadi korban pacaran toksik. Mereka sering dipandang rendah pasangannya karena tubuhnya

Rere Agistya banyak melihat relasi toksik atau toxic relationship yang terjadi di kalangan transpuan dan pasangannya. Salah satu yang banyak terjadi yaitu pernyataan toksik yang diterima transpuan dari pasangannya.

Misalnya, sudah tahu kalau pasangannya adalah seorang transpuan, tapi masih saja pasangannya yang laki-laki ada yang tanya atau komentar:

“Kamu kog gak punya payudara?.”

“Payudara kamu kog gak besar?.”

“Kulit kamu kog gak halus,sih?.”

“Pantat kamu juga gak besar seperti perempuan pada umumnya.”

Pernyataan yang terus-menerus ini tentu saja membuat para transpuan menjadi tidak percaya diri, karena seharusnya pasangannya menerimanya apa adanya, apapun bentuk tubuh mereka. Rere menyebut, jika ini terus-terusan terjadi ini bisa membuat hubungan toksik, yaitu ketika para transpuan harus melakukan segala sesuatu yang diinginkan pasangannya

Rere Agistya, aktivis Sanggar Swara menyatakan ini pada 21 April 2021 yang lalu dalam acara diskusi yang berjudul “Pacaran Toksik? No Way!” yang diselenggarakan www.Konde.co dalam rangka Kartini’s day dan kampanye literasi stop kekerasan seksual melalui media

Dengan tuntutan-tuntutan seperti itu, secara tidak sadar banyak transpuan yang akhirnya melakukan tindakan yang disukai pasangannya. Tindakan itu antaralain tindakan atas tubuhnya yang belum tentu aman bagi para transpuan. Misalnya menyuntikkan silicon atau meminum obat hormonal dengan dosis berlebih yang akhirnya menyebabkan tubuh mereka menjadi lemah. Selain itu ada yang mengoperasi hidungnya, mengubah bentuk badannya sehingga menjadi lebih indah seperti harapan pasangannya

Hal-hal tersebut mereka lakukan hanya untuk menyenangkan pasangannya karena mereka menganggap bahwa pasangannya tersebut adalah satu-satunya untuknya. Padahal itu salah besar.

“Kami sering menemukan hal-hal tersebut, tetapi semua kembali lagi kepada mereka. Karena kami tidak bisa memaksa mereka untuk sadar. Bahkan sebenarnya ada beberapa dari mereka yang sadar, tetapi terkadang mereka berpikir ‘ya udah gak apa-apa, aku ini kan transgender, aku berhak diperlakukan seperti ini,” tutur Rere Agistya.

Rere menyadari, sebenarnya mereka tahu bahwa ini adalah kondisi tak baik, namun lagi-lagi ini terjadi karena posisi transpuan yang rendah di mata pasangannya. Posisi rendah tersebut misalnya karena transpuan bukan dianggap perempuan secara fisik oleh pasangannya

“Dan semakin hari aku lihat semakin banyak laporan-laporan atau banyak sekali keterangan-keterangan dari kawan-kawan yang diperlakukan seperti itu. Dan kita tidak bisa menutup mata, karena itu berbahaya untuk kawan-kawan kami. Yang bisa kami lakukan hanya menyadarkan mereka bahwa hubungan mereka sudah tidak sehat, dan sangat membahayakan bagi mereka. Jika kamu diperlakukan seperti itu, kamu bisa lawan atau tinggalkan pasangan kamu. Karena pada akhirnya, hal tersebut dapat membahayakan diri kamu sendiri, baik fisik maupun mental,” kata Rere Agistya

Posisi lemah dan direndahkan pasangannya

Selama ini menurut pengamatan Rere, banyak transpuan yang berpasangan dengan laki-laki yang posisinya menganggap rendah transpuan.

“Dan dari hal tersebut, mungkin ada karakteristik yang berbeda antara teman-teman heteroseksual lainnya atau teman-teman cis gender hetero lainnya dengan teman-teman transgender. Karena seperti yang kita ketahui, kelompok transgender perempuan itu sudah sering kali mengalami bentuk diskriminasi dan tindakan-tindakan yang tidak menyenangkan, posisinya dianggap lebih rendah,” ujar Rere Agistya.

Selain dianggap rendah, secara posisi mereka menjadi lemah dan tidak punya daya tawar.

“Bahkan bukan hanya di hadapan pasangannya, bagi kelompok-kelompok umum, transpuan atau transgender sering dianggap sebagai kelompok minoritas, kelompok pendosa dan lainnya.”

Menurut Rere Agistya, kelompok transpuan memiliki sebuah karakteristik tersendiri. Hal ini disebabkan karena kelompok transpuan jarang diakui atau tervalidasi sebagai kelompok perempuan. Sehingga ketika mereka dianggap lemah dan menerima kekerasan oleh pasangannya, mereka akan memvalidasi dirinya sendiri dengan berpikir bahwa karena mereka ingin diakui sebagai perempuan, maka mereka pantas menerima perlakuan seperti itu.

“Karena seringnya mereka tidak tervalidasi oleh ruang lingkup yang ada, kadang-kadang ketika mereka dipukul sampai memar atau disuruh bekerja, mereka akan menerima dan memvalidasi dirinya sendiri. Atau kalau misalnya mereka dipukul, mereka akan berpikir, ya sudah, namanya juga aku perempuan.”

Di dalam sebuah hubungan, hal ini sering kali terjadi sehingga banyak sekali kekerasan yang terjadi pada transpuan.

“Dan kita tahu bahwa tindakan seperti itu adalah tindakan yang tidak benar bagi siapapun dalam konteks berpacaran,” tambah Rere Agistya.

Dan kalau dilihat dari sisi yang lain, kebanyakan kelompok-kelompok minoritas seperti transpuan ini tidak memiliki support system yang cukup kuat, sehingga saat mereka berpasangan, maka mereka akan pasarah saja melakukan apa yang diminta pasangannya

“Misalnya mereka banting tulang, sementara laki-laki pasangannya hanya tidur saja. Kasus perempuannya yang bekerja itu sering terjadi di kalangan kami. Hal ini disebabkan oleh sedikitnya support system yang dimiliki, sehingga ketika berpasangan, pendukung atau support system bagi dia hanyalah pasangannya. Jadi, mereka akan rela melakukan apapun untuk mempertahankan pasangannya tersebut,” tutur Rere Agistya.

Kondisi yang timpang ini semua menjadi tidak sehat karena seharusnya, sebuah  hubungan yang ideal memiliki kesetaraan diantara kedua belah pihak. Namun pada kenyataannya, banyak di kalangan-kalangan kelompok transgender perempuan yang mengalami ketimpangan karena kurangnya support system, kurangnya validasi dalam ruang lingkup bermasyarakat dan lain sebagainya. Meskipun tidak seluruh kalangan transpuan mendapat perlakuan seperti itu.

Hasna Safira di www.konde.co pernah menuliskan soal toxic relationship. Toxic relationship merupakan sebuah situasi dimana sebuah hubungan personal yang awalnya dimulai dengan berlandaskan cinta, namun kemudian malah membawa energi negatif keduanya

Hubungan ini bisa disebut sebagai hubungan yang bersifat racun atau toxic. Situasi tersebut biasanya melibatkan rasa melelahkan, sebuah hubungan seharusnya menciptakan rasa bahagia dan produktif, namun hubungan yang beracun ini selalu menguras tenaga dalam bentuk mental, emosi dan psikis. Tidak adanya rasa menghargai diantara keduanya, salah satunya pasangan yang satu memandang rendah pasangan yang lain dan meminta menuruti apa kata pasangannya.

Hubungan seperti ini jelas bukan hubungan yang sehat dan tak pantas dilanjutkan

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Brigitta Audrey

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Tarumanagara, Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email