Belajar Dari Organisasi Kesehatan Perempuan Di India Melawan Pandemi dan Patriarki

Banyak apresiasi diberikan pada organisasi kesehatan perempuan di India, ASHA. Selama ini mereka bekerja sebagai penghubung antara komunitas pedesaan yang terkena pandemi dan patriarki dalam memperjuangkan akses kesehatan perempuan dan anak. Sayang, pemerintah India mengabaikan mereka di tengah tenaga kesehatan yang banyak meninggal karena pandemi

Seluruh dunia menyaksikan bagaimana India beberapa bulan terakhir terpuruk akibat pandemi yang merajalela. Rumah sakit dipenuhi oleh pasien Covid-19, tenaga medis mulai lelah menangani berbagai macam kondisi mematikan, hingga komunitas – komunitas kesehatan turut serta ikut membantu menangani jatuhnya korban.

Kondisi kesehatan di India yang kritis ini kemudian mendorong beberapa negara lain untuk menggalang dana membantu masyarakat menyediakan alat kesehatan yang cukup agar pasien Covid dapat bertahan hidup.

India adalah sebuah negara yang dipenuhi area pedesaan dengan segala kompleksitasnya dalam meraih bantuan kesehatan, komunitas – komunitas tersebut bergerak untuk menjembatani kebutuhan ini.

Ada sebuah organisasi kesehatan di India yang sangat terkenal yang dikelola para perempuan disana, ASHA (Accredited Social Health Activist). ASHA adalah salah satu komunitas yang bergerak sebagai penghubung masyarakat pedesaan dengan akses kesehatan pemerintah India. Sebagai organisasi yang terdiri dari para perempuan aktivis kesehatan masyarakat, ASHA yang sudah didirikan sejak tahun 2005 memberikan pendidikan pencegahan berbagai masalah kesehatan, termasuk kesehatan reproduksi dan seksual, termasuk menurunkan tenaga kesehatan di pedesaan-pedesaan selama masa pandemi

Para perempuan dibalik ASHA ini telah mampu membantu masyarakat mengurangi tingkat kematian bayi dan ibu hamil, mendukung kesehatan masyarakat India melalui imunisasi, hingga saat ini menjadi salah satu pilar penting dalam menghadapi pandemi. Namun dibalik kokohnya pilar tersebut, tersimpan sebuah masalah pilu yang masih belum terpecahkan, perempuan-perempuan yang tergabung dalam tenaga kesehatan di ASHA telah mengorbankan hidup mereka untuk memperjuangkan akses kesehatan:

‘Our lives don’t matter.’ (‘Hidup kami tidak penting bagi pemerintah India’) ‘They say we are frontline workers, that we should be celebrated. But when we are sick they refuse us admission and leave us to die.’ (‘Mereka pemerintah mengatakan bahwa kami adalah garda terdepan dalam menghadapi pandemi, bahwa kami harus dihormati. Namun ketika kami sakit, mereka menolak untuk merawat dan meninggalkan kami terlantar hingga meninggal); Archana Ghugare, anggota komunitas ASHA (Nilanjana Bhowmick, 2021)

Terhitung sampai dengan September 2020, 18 anggota komunitas ASHA telah menjadi korban jiwa dari pandemi Covid-19. Hal ini bukanlah suatu hal yang mengejutkan bagi perempuan-perempuan ASHA mengingat sejak gelombang kedua dari Covid-19 akhir tahun 2020, mereka tak lagi mendapat bantuan peralatan medis yang memadai seperti masker, sarung tangan, sampai dengan upah yang cukup untuk membayar dosis kedua dari vaksin.

Meskipun sebagai tenaga kesehatan dengan peran penting dalam memerangi pandemi, anggota komunitas tersebut masih harus membayar biaya vaksin yang tidak sedikit bagi mereka. Sedang terhitung sejak pandemi, upah yang diberikan pada perempuan ASHA hanya berkisar dari 388.000 sampai 500.000 perbulan dengan 10 jam kerja setiap harinya. Mirisnya, bahkan petugas di beberapa wilayah kerja ASHA mengaku masih belum mendapat upah sepeserpun.

Pemerintah India belum memberikan perhatian untuk tenaga kesehatan perempuan

Dilansir dari sebuah penelitian mengenai implikasi Female Health Worker (FHW) atau tenaga medis perempuan; perkara sosial, kesehatan, dan administrasi merupakan alasan utama kesejahteraan FHW menjadi prioritas kedua bagi pemerintah India (Rajesh Mishra, 1997).

Hal ini didasari oleh diskriminasi terhadap perempuan di masyarakat secara turun – menurun yang mempengaruhi bagaimana perempuan mendapat akses kesehatan secara umum, tak terkecuali bagi tenaga medis. Fenomena diskriminasi tersebut dianalisis merupakan dampak terhadap tingkat gender inequality yang cukup tinggi di India. Pandangan ini didukung dengan indikasi dari World Economic Forum mengenai India sebagai salah satu negara terburuk dalam penanganan kasus gender inequality (Anita Raj, 2011).

Secara singkat, dapat dikatakan bahwa bagi masyarakat dan pemerintah India, pengimplementasian kesetaraan gender baik dalam segi pekerjaan hingga kesehatan masih cukup timpang.

Sebanyak 2/3 dari kunjungan rumah sakit di India dilakukan oleh laki – laki, dan kebijakan – kebijakan yang dibuat saat inipun masih dinilai hanya berfokus pada kesehatan ibu atau perempuan yang hamil, belum menyasar pada problem perempuan secara umum (BMJ Open, 2019). Sehingga meskipun pemerintah India telah mulai mengimplementasikan program yang mengarah pada kesejahteraan tenaga medis perempuan seperti insentif pekerja, jaminan sosial, hingga beasiswa menuju perguruan tinggi, masih dirasa dibutuhkan perkembangan yang lebih intensif dalam membantu perempuan menghadapi tingginya tingkat penyebaran virus dan kematian akibat pandemi Covid-19.

Tidak hanya untuk mendukung peningkatan kinerja mereka, adaptasi dan perubahan intensif tersebut juga sekaligus dalam rangka menghargai esensi komunitas – komunitas kesehatan perempuan dalam menangani penyebaran virus di area pedesaan setiap harinya. Tidak hanya pembaharuan kebijakan dan undang – undang sebagai bentuk adaptasi kondisi, akan tetapi tindakan pemberian peralatan kesehatan seperti sarung tangan, masker, utamanya dukungan peningkatan kesejahteraan untuk tenaga medis perempuan India sangat diperlukan saat ini.

Selain desakan untuk pemerintah agar mulai memberi perhatian pada permasalahan diskriminasi terhadap tenaga kesehatan perempuan, pandangan masyarakat India mengenai perempuan secara umum juga membutuhkan perombakan yang cukup besar. Karena bukan pemerintah saja, masyarakat adalah elemen penting dalam membangun negara dan keberhasilan kebijakan maupun program yang ada hanya akan dapat tercapai jika didukung penuh oleh orang – orang yang melaksanakannya.

Diperlukan kesadaran bahwa tidak hanya melawan pandemi saat ini, negara India juga terbelenggu oleh budaya patriarki yang ternyata mempengaruhi penanganan wabah Covid-19, hingga beberapa kali menelan korban jiwa.

India membutuhkan reformasi struktural atas nilai dan norma yang dianut saat ini terhadap posisi dan peran gender di masyarakat, utamanya untuk memberi pemahaman bahwa tenaga medis perempuan memiliki strata sosial dan pengaruh yang sama dengan tenaga kesehatan laki – laki.

Bahwa sesungguhnya hal terpenting saat ini adalah memperlakukan manusia berdasarkan bagaimana mereka memberi andil dan manfaat bagi orang lain, alih – alih jenis kelamin yang mereka miliki.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Referensi:

1.Nilanjana Bhowmick (2021). “‘Our Lives Don’t Matter.’ India’s Female Community Health Workers Say the Government Is Failing to Protect Them From COVID-19”,

2.https://time.com/6045836/india-covid-19-healthcare-workers-asha/?utm_campaign=editorial&utm_source=line_app&utm_medium=social&ldtag_cl=r4C7uTxqQsekZbFeV-vkQQAA_oa

3.Rajesh Mishra (1997). “Female Health Workers: Problems and Implications” dalam Economic and Political Weekly

4.Raj, Anita (2011). “Gender equity and universal health coverage in India” dalam The Lancet

5.Mudit Kapoor (2019). “’Extensive Gender Discrimination in Healthcare Access’ for Women in India” dalam BMJ Open

Nadira Firinda

Junior Analyst yang gemar beropini, membaca, dan terobsesi dengan merajut. Sedang bekerja di sebuah bank sejak tahun 2019. Also someone who has lived through an abusive relationship and in the process of healing oneself for the last 4 years

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email