Belanja dengan Dalih Self Love: Salah Nggak Ya?

Belanja itu boleh saja kamu lakukan ketika kamu lagi lelah-lelahnya. Tapi semua ada batasnya, jangan sampai kamu tertukar antara self love dan impulsif!

Dengan tuntutan hidup yang serba rumit, kita selalu mencari jalan keluar untuk kabur sejenak dari segala keruwetan itu. Salah satunya dengan belanja. Tapi kenapa belanja tak perlu berlebihan? Siapa di sini yang bisa relate?

Saya yang nanya, saya juga yang mau jawab. Ya, soalnya saya sering sembunyi di balik dalih self love untuk belanja, Tapi semua ada batasnya, jangan sampai kamu tertukar antara self love dan impulsif

Mencintai diri sendiri 

Mencintai diri sendiri—self love—penting karena kita harus menghargai diri sendiri, menerima siapa diri kita, apa yang kita punya dan apa yang tidak kita punya. Mencintai diri sendiri juga berarti kita mampu mengakui dan menghargai apapun yang kita rasakan: bahagianya kita, marahnya kita, sedihnya kita, itu semua emosi wajar yang bisa kapan saja muncul.

Biasanya, ketika emosi tersebut muncul, kita cenderung ingin menutup-nutupi dan segera ingin melupakan agar hati jadi lebih tenang. Itu hal yang wajar dilakukan manusia karena kita semua suka menerima kebahagiaan dan sebal menghadapi masalah.

Untuk mendistraksi diri daripikiran yang sedang semerawut, kita pasti akan mencari apapun yang membuat diri senang, salah satunya dengan belanja. Mulai dari belanja skincare, barang-barang koleksi, sampai perintilan yang gemoi.

Apalagi ketika beberapa brand mengusung jargon self love dan mengajak penggunanya untuk beramai-ramai menyayangi diri dengan menggunakan produknya. Nggak salah, dong kalo kita jadi makin semangat belanja?

Terkadang, iming-iming self love tidak hanya datang sebagai strategi pemasaran oleh beberapa brand produk kesukaan kita. Banyak juga konsumen yang senang secara implisit meyakinkan orang lain bahwa self love dengan jalan belanja adalah hal yang harus dilakukan untuk menunjukkan ketulusan cinta pada diri sendiri. Pembenaran bahwa belanja adalah jalan ninja berhasil membuat kita percaya bahwa hal ini perlu dipraktikkan demi kemaslahatan diri.

Memang benar sih, belanja bisa memberi kita perasaan senang. Terutama kalau belanja online, bisa girang hanya dengan mendengar abang kurir teriak “MISI PAKEEET”. Apalagi bagian unboxing paketnya, benar-benar a whole new experience.

Self love dan mencintai diri duit sendiri

Tapi merasa nggak sih, kalau kebahagiaan seperti itu sifatnya cuma sementara? Ada yang bilang cuma kebahagiaan sebentar, ada yang bilang itu namanya bahagia semu. Paling-paling bertahan seminggu, dua minggu. Setelahnya, barang yang kita beli hanya jadi pajangan atau bahkan parahnya lagi, cuma numpuk nggak jelas di kamar. Kalau belanjanya makanan, yah, bikin perut happy sih tapi setelah itu terbuang juga jadi kotoran.

Belanja yang dilakukan secara buru-buru ketika kita sedang membutuhkan pelarian sering berakhir pada rasa sesal. Di penghujung hari, kita baru sadar ternyata uang yang kita keluarkan untuk jajan atas nama self love bisa dipakai untuk kebutuhan yang jauh lebih penting dan sifatnya mendesak. 

Belum lagi, terkadang aksi belanja ini bisa jadi terpengaruh dengan lingkungan kita sendiri, alias FOMO – fear of missing out. Orang lain gemar membagikan story di media sosial bertajuk ~today is a self love day~ sambil menyisipkan gambar mereka sedang memenuhi agenda check out keranjang belanjaannya.

Padahal, hanya karena kamu melihat orang lain bisa mewujudkan self love dengan cara mereka, bukan berarti cara ini berlaku untuk semua orang juga. Nanti jadinya kamu mau self love, tapi malah nggak ikhlas karena sekedar ikut-ikutan. Lama-lama self love hanya digunakan sebagai bentuk pasang aksi untuk menunjukkan seberapa banyak pengeluaranmu dan seberapa kamu mampu menyayangi diri sendiri.

Self love bukan hanya sekadar menyenangkan diri dengan mengeluarkan duit, lho. Betul, belanja memang bisa jadi bentuk reward atas kerja keras yang sudah kita korbankan. Tapi reward tidak selalu tentang beli, beli, beli.

Hadiah terbaik untuk menghargai diri sendiri sebagai bentuk self love bisa juga dalam bentuk meluangkan waktu untuk diri sendiri. Setelah lelah mengerjakan banyak hal atau terlalu memikirkan hal-hal yang tidak seharusnya menjadi beban pikiran, kita butuh paling tidak satu hari penuh untuk berdamai dengan diri sendiri. Bisa dengan tidur, menonton serial TV favorit kita, baca-baca buku, dan banyak hal lainnya. Boleh juga dengan menciptakan waktu berkualitas bersama keluarga setelah beberapa lama terlalu fokus berkutat dengan kesibukan. Intinya, banyak cara-cara yang bisa membuat kamu tenang dengan sederhana.

Self love tidak perlu dijadikan kedok pasang aksi maupun kompetisi. Nanti jadinya kamu mau self love tapi malah nggak ikhlas sama diri sendiri karena cuma ingin memenuhi rasa iri terhadap orang lain. Jangan ya. Yang seperti itu malah nggak sehat untuk diri kamu sendiri. Kebahagiaan untuk menuju titik sayang pada dirimu sendiri tidak melulu bisa dibeli. Kebahagiaan datangnya dari dalam diri kita sendiri, dan hanya kita yang tahu bagaimana cara menghidupkannya.

Belanja itu boleh dan sah-sah saja kamu lakukan ketika kamu lagi lelah-lelahnya. Wajar saja kalau sesekali kamu ingin menghadiahi diri sendiri dengan sesuatu yang kamu suka. Tapi semua ada batasnya, jangan sampai kamu tertukar antara self love dan impulsif.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Tulisan ini merupakan program KEDIP/ Konde Literasi Digital Perempuan www.konde.co bekerjasama dengan www.plainmovement.id, program berbagi pandangan personal dan perjuangan perempuan dalam berliterasi melalui media digital

Firza Aliya A.

Penulis Plain Movement

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email