Kamu Boleh Romantis, Asal Jangan Toksik

Yakin bahwa nilai dirimu lebih dari sekedar tindakan-tindakan romantis. Romantis tidak dilarang, asal jangan toksik.

Cinta itu untuk diperjuangkan, katanya. Ada yang sedang berjuang, lelah berjuang, dan ada juga yang merasa berjuang untuk cinta, tapi toksik.

Kita semua sudah familiar dengan ide-ide ‘perjuangan’ ketika sedang bertengkar dengan pasangan. Pasanganmu (atau kamu) mungkin pernah menerobos hujan untuk meminta maaf sama kamu yang lagi marah. Atau menempuh jarak jauh berjam-jam untuk meluluhkanmu dengan sikapnya. Dengan coklat, bunga, boneka, seblak atau boba di tangannya berharap agar kamu memaafkan.

Itulah kenyataannya. Mungkin ini sudah terjadi di masa lalumu, syukur-syukur terjadi sampai sekarang.

Kita mencintai ide ‘diperjuangkan’. Kita mencintai ketika kita ‘diusahakan’. Dan media meromantisasi narasi-narasi tersebut. Konten romantis diglorifikasi sedemikian rupa sehingga kamu yang berhak untuk mendapatkan diskusi sehat lebih memilih perjuangannya ala ala k-drama atau film Hollywood.

Narasi romantisyang bergandengan dengan komunikasi tertutup adalah salah satu produk dari hubungan toksik. Ya, hubungan beracun. Toksik adalah istilah di era pop culture tanpa tahun siapa yang pertama kali mempopulerkannya.

Artikel berbeda mengatakan bahwa istilah tersebut diciptakan dari jurnal Voices, The Hournal of the American Academy of Psychotherapist pada tahun 1972 dan ada juga yang mengatakan bahwa diciptakan dari buku Toxic People yang ditulis oleh Dr. Lillian Glass pada tahun 1995. Kedua sumber sepakat bahwa hubungan toksik mengakibatkan rasa ketidaknyamanan dan ketidakamanan pada seseorang. Hal ini disebabkan oleh kombinasi individu yang tidak sepadan satu sama lain. Hubungan toksik memiliki berbagai macam tipe yang berbeda dengan sifat yang sama; destruktif.

Hidup diantara masyarakat yang menjadikan perempuan subordinat itu sangat sering kita temui, kita juga menerima ide di bawah alam sadar bahwa diatur oleh pasangan laki-laki adalah hal yang romantis. Kita juga sering tidak sadar jika kita sedang dikendalikan melalui hal-hal kecil seperti cara berpakaian dan berinteraksi sosial. Padahal invasi ranah privasi mulai dari mengendalikan, memanipulasi, dan mengancam adalah hal toksik yang merebut paksa kebebasan kita sebagai individu. Dan sering dijustikasi dengan alasan picisan; karena kepedulian dan untuk kebaikan bersama atau “aku begini karena aku peduli” dan “ini semua nantinya untuk kita!”.

Romantisasi narasi toksik berbahaya lainnya adalah ketika kita berbicara mengenai ide mengubah pasangan. Bahwa pasangan yang baik mampu mengubah karakter dan kebiasaan seseorang. Sering ditemukan di kehidupan nyata dan skenario di televisi, narasi yang mengubah pasangannya menjadi setia

Padahal seseorang akan berubah karena kedewasaan dan kesadaran penuh dari diri sendiri. Mungkin iya, ada faktor kecil yang mendorong tetapi bukan tanggungjawabmu untuk mengubah seseorang. Apalagi menyalahkan diri sendiri apabila gagal. Kendali untuk berubah berada di tangan pemilik tubuh dan jiwa itu sendiri. Dan itu tidak romantis.

Hal-hal tersebut yang sering ditranslasikan sebagai tindakan romantis adalah tanda-tanda merah dari hubungan yang toksik. Pasangan kadang menolak untuk berbicara lanjut dan memilih jalan ninja seperti tadi. Sehingga kamu dibuat merasa bersalah apabila tidak menghargai usahanya dan memaafkannya. Kemudian, semua berakhir seakan tidak terjadi apa-apa. Tidak ada berbicara, yang ada mulut kamu dibungkam makan martabak manis yang ia bawa.

Ketika kedua pasangan bertengkar, tentunya semua pihak berhak berkomunikasi dengan dewasa dan sehat. Kedua pihak juga berhak mendapatkan penyelesaian atau keputusan, apapun arahnya. Tetapi memilih untuk melanjutkan hubungan tanpa ada resolusi konflik hanya karena tindakan romantis tersebut adalah hal yang berbahaya. Layaknya bakteri jahat, pembiaran masalah hanya akan menggorogoti hubungan dan pada akhirnya merusak. Kembali lagi, hubungan yang toksik memiliki sifat destruktif.

Tidak ada yang lebih romantis daripada kedewasaan seseorang untuk mau berkomunikasi menyelesaikan masalah. Bersikap romantis seperti hal-hal tadi juga tidak salah dilakukan apabila diiringi dengan kejujuran, keterbukaan, dan kompromi. Menjadi romantis pun bukan milik laki-laki, tetapi perempuan juga tidak perlu malu untuk melakukan hal tersebut.

Perlu rasanya kembali mengenal keberadaan diri sendiri dalam suatu hubungan. Melihat penempatan dirimu apakah kamu berada di hubungan yang sehat atau toksik. Yakin bahwa nilai dirimu lebih dari sekedar tindakan-tindakan romantis. Yakin bahwa kamu berhak dihargai lebih. Yakin bahwa kamu berhak diskusi sehat atas pertengkaranmu. Romantis tidak dilarang, asal jangan toksik.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Michiko Karlina

Lulusan Hubungan Internasional yang Senang Musik dan Film Zombie. Alumni Pertukaran Pemuda Indonesia Australia 2019/2020.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email