Hidup Sendiri, Siapa Takut? Ini Dialami Kaum Lajang Sampai Orangtua

Momok hidup sendirian hinggap di kaum lajang sampai orangtua. Kenapa harus takut sendirian jika kita punya banyak teman yang siap membantu jika kita butuh sesuatu?

Momok takut hidup sendiri kadang hinggap di banyak orang. Yang masih lajang juga kadang merasakan takut jika suatu saat hidup sendiri. Sedang yang sudah tua mulai berpikir: jika mereka sakit nanti, siapa yang akan merawat? Semuanya menjadi momok dan menjadi syndrome

Ketakutan ini bisa tiba-tiba datang begitu saja, tiba-tiba saja terlintas di malam hari atau ketika kita merasa kosong. Hidup sendiri memang banyak tekanannya, apalagi di Indonesia, orang yang lajang atau hidup sendiri harus kebal jika ditanya kenapa hidup sendiri?. Lalu masih harus menjawab pertanyaan—atau lebih lebih tepatnya pernyataan:

“Tidak enak loh, hidup sendiri.”

“Susah nanti kalau hidup sendiri, siapa yang merawat kalau sakit?.”

Seolah hidup sendirian adalah momok, padahal tak semua orang merasakan begitu dan banyak orang punya pengalaman berbeda soal hidup sendiri. Coba simak cerita ini:

Suatu hari di sebuah salon ketika saya sedang menunggu giliran untuk potong rambut, saya mendengar cerita seorang ibu yang sedang curhat pada temannya. Ibu ini memiliki rumah di pinggir jalan raya yang kemudian dijadikan toko snack yang laris sejak anaknya masih kecil. Ibu tersebut sudah lama sekali tinggal disana, hidupnya seperti yang lain: bertetangga, berkebun sama seperti yang lain

Ketika anaknya sudah dewasa dan menikah serta memiliki rumah sendiri, anaknya meminta ibunya untuk menjual rumah beserta toko snacknya dan tinggal bersamanya. Sang ibu dengan senang hati menurut dan berpikir dia akan dirawat anaknya dan semua hartanya hasil penjualan rumah beserta tokonya diberikan anaknya. Hingga sang ibu tinggal bersama anaknya.

Tetapi bayangan indah bahwa dia akan dirawat, berkumpul dengan anak dan cucunya berbalik dengan kenyataan yang diterima. Tiap bulan, ibu hanya diberi uang secukupnya dan setiap hari sendirian di rumah karena anak dan menantu sibuk bekerja, sedangkan cucunya sekolah di luar negeri.

Belum lagi mereka tinggal di perumahan yang jauh dari mana-mana, ia merasa dan tidak mengenal dengan tetangga sekitar. Dia yang terbiasa memiliki pekerjaan, pergi sendirian kemana saja dan mengatur sendiri keuangan jadi merasa stres dan tidak kerasan

Saya jadi teringat, pernah ada seseorang yang berkata seperti ini:

“Kalau kamu tidak menikah dan tidak punya anak, siapa yang akan merawatmu ketika tua?”

“Kalau kamu tidak punya pasangan siapa yang akan menjagamu?.”

Padahal orang yang menikah belum tentu memiliki anak, atau bisa saja orang yang menikah lalu pasangannya meninggal atau pergi tak kembali. Mungkin ini pikiran yang sama tentang ibu tersebut bahwa ia harus ikut anaknya karena jika sudah tua biar ada yang merawat.

Saya jadi teringat ada seorang guru yang tua dan sakit. Dia tidak memiliki siapa-siapa dan hidup sebatang kara, tetapi dia memiliki sahabat dan murid-murid yang bergantian membantu, membiayai dan merawatnya hingga sembuh, bahkan mengusahakan agar ia bisa tinggal di panti jompo dan mereka bergantian mengunjungi. Pertemanan seperti ini bisa dijumpai dalam banyak cerita dan mengajarkan bahwa tak selamanya hidup sendirian akan buruk, buktinya selalu ada teman yang siap membantu

Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan dan bagaimana kehidupan akan berjalan. Orang tua mencintai dan merawat anaknya adalah bentuk dari rasa sayang dan cinta. Tetapi kalau dia merawat dan membesarkan anaknya dengan harapan anaknya akan membalas budi atau dianggap sebagai investasi dapat dipastikan dia akan mengalami kekecewaan dan itu juga akan membebani anak.

Tetapi kalau sang anak ingat dan bersedia merawat orang tuanya, itu adalah bonus. Bukan berarti orang tua tidak bisa atau gagal mendidik anaknya untuk berbakti kepada orang tuanya. Banyak hal yang bisa membuat hal itu terjadi. Bisa saja karena keadaan yang tidak memungkinkan dia merawat orang tuanya dan sebagainya.

Segala sesuatu sudah ada nasibnya sendiri-sendiri, sudah ada jalannya masing-masing. Kita bisa saja punya rencana tetapi semua kembali Tuhan yang menentukan. Kita tidak pernah tahu apa rencana Tuhan. Mati atau hidup juga Tuhan yang menentukan. Kita hanya bisa melakukan yang terbaik buat kehidupan dan berbagi kebaikan buat kehidupan.

Berbuat baik tidak harus ada hubungan darah, karena hubungan darah pun belum tentu bisa memberikan kebaikan buat kita. Kebaikan bisa datang dari mana saja, kapan saja dan dari siapa saja karena tangan Tuhan bekerja dengan cara yang tidak pernah kita duga

Jadi, tidak usah bingung jika kamu ditanya: gak takut hidup sendirian? Tuhan saja memberi makan pada binatang yang rajin mencari makan, kita juga harus melakukannya: tak usah kuatir tentang apapun juga, selalu ada hal baik yang tak pernah kita duga, semesta juga akan memberkati dalam kesendirian.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email