Menari, Jadi Salah Satu Terapi Bagi Korban Kekerasan Seksual

Amia Lusambo, seorang penari, tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu setelah melihat sejumlah perempuan korban kekerasan seksual di Rumah Sakit Ponzi yang tenggelam dalam trauma mereka

Di sebuah pusat rehabilitasi di Bukavu, Republik Demokratik Kongo, menari ditawarkan sebagai salah satu metoda terapi bagi perempuan korban kekerasan seksual.

Amia Lusambo, seorang penari, tahu bahwa ia harus melakukan sesuatu setelah melihat sejumlah perempuan korban kekerasan seksual di Rumah Sakit Ponzi seolah tenggelam dalam trauma mereka. Mereka sering tercenung dalam diam, dan tidak bisa mengekspresikan perasaan mereka.

Amia Lusambo pun menawarkan kelas tari di pusat rehabilitasi yang menjadi bagian dari rumah sakit itu. Hasilnya, perempuan-perempuan itu bisa kembali tersenyum dan menemukan kedamaian.

“Saya mulai melakukan ini karena perempuan-perempuan yang datang ke fasilitas kami dalam keadaan diam. Mereka diperkosa di usia muda dan mereka tidak tahu bagaimana mengekspresikan diri,” kata Lusambo.

Rumah Sakit Ponzi didirikan oleh Denis Mukwege, seorang ginekolog Kongo yang meraih Nobel Perdamaian pada 2018 atas usahanya mengakhiri penggunaan kekerasan seksual sebagai senjata perang dan konflik bersenjata.

Menurut pihak berwenang rumah sakit itu, mereka telah merawat puluhan ribu penyintas kekerasan seksual dalam 20 tahun operasinya.

Mukwege sendiri mendorong prakarsa Lusambo. “Lebih dari 60.000 perempuan telah dirawat di sini. Kami menawarkan perawatan holistik, yang berarti kami tidak hanya melakukan perawatan medis. Kami juga melakukan perawatan psikologis, kami mendukung perempuan untuk mengintegrasikan mereka kembali ke masyarakat dengan memberdayakan mereka. Secara ekonomi kita dukung mereka. Lalu pilar keempat dari kepedulian holistik kita adalah kita mendampingi mereka di hadapan hakim.”

Seorang perempuan berusia 20 tahun di kelas Lusambo mengatakan menari telah membebaskannya perasaan nyeri dan ketakutan yang dipendamnya dalam-dalam. Menari, katanya, memungkinkannya untuk tidur dengan tenang dan tersenyum lagi.

Tiga tahun lalu, perempuan yang meminta untuk tidak disebutkan namanya itu mengatakan bahwa ia diperkosa dan dibiarkan mati oleh pria tak dikenal yang mengenakan seragam militer di desanya di provinsi Kivu Selatan, di mana kekerasan seksual telah menjadi ciri kerusuhan selama lebih dari 20 tahun. Ia tidak tahu apakah pria itu tentara atau seseorang dari kelompok milisi.

Keluarga perempuan muda itu tidak mengadukan kejadian itu ke pihak berwenang karena mereka takut akan pembalasan. Orang tuanya membawanya ke Rumah Sakit Ponzi di Bukavu. Reuters tidak dapat mengkonfirmasi ceritanya secara independen.

Para ahli mengatakan Kongo telah membuat beberapa kemajuan dalam memerangi kekerasan seksual dan beberapa pemimpin milisi tinggi dan komandan militer telah dituntut karena pemerkosaan dalam beberapa tahun terakhir, tetapi kasus kekerasan seperti itu tetap meluas.

Sewaktu ditanya tentang catatan kekerasan seksual militer di wilayahnya, seorang juru bicara militer Kongo mengatakan beberapa anggota militer yang tidak disiplin telah melakukan pemerkosaan di masa lalu, tetapi militer berusaha menyeret para pelakunya ke pengadilan. Ia juga mengatakan bahwa tingkat kasus kekerasan seksual telah menurun secara signifikan.

PBB mengatakan, alasan mengapa pemerkosaan sering terjadi di Kongo timur sangat kompleks, tetapi status perempuan yang terkikis dan struktur komando yang terfragmentasi dalam milisi dan pasukan keamanan negara itu telah menyebabkan merajalelanya penggunaan kekerasan seksual sebagai taktik militer. [ab/uh]

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Voice of America

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email