Merdeka Lewat Cinta Otentik Dengan Pasangan; Seperti Apa?

Seperti apa cinta otentik: apakah kita tetap bisa memiliki kebebasan sebagai seorang individu jika kita sedang berada dalam relasi romantis dengan seseorang?

Belakangan pertanyaan soal apakah kita tetap bisa memiliki kebebasan sebagai seorang individu jika kita sedang berada dalam relasi romantis dengan seseorang, terus terngiang di kepala saya. Sejujurnya, berbicara tentang independensi saat berstatus lajang atau jomblo sangatlah mudah. Ya, kita memang sangat fasih menceritakan hidup yang tidak sedang kita jalani kan?

Salah satu filsuf cinta modern, Simon de Beauvoir, menyatakan bahwa cinta yang maha dahsyat bukanlah cinta yang bahagia nan abadi, melainkan cinta yang memerdekakan individu yang terlibat di dalamnya. Perempuan harus bisa menjadi dirinya sendiri di manapun ia berada dan dengan siapapun ia bersama karena dengan begitu ia bisa mencintai dan dicintai secara otentik -menulis kalimat barusan saja membuat saya merinding, keren betul rasanya.

Selama ini kita memahami bahwa relasi romantis menggabungkan dua insan yang jelas berbeda menjadi satu kesatuan dalam ikatan bernama relasi, pacaran, tunangan, maupun pernikahan. Menyatukan dua manusia yang lahir dari rahim berbeda, dibesarkan dengan masing-masing cara, dan mengalami banyak hal personal, bukanlah perkara mudah. Sepertinya terlalu naif kalau saya bilang penyatuan tersebut berjalan secara alamiah karena kalau memang jodoh semuanya akan dimudahkan dan dilancarkan sampai akhir hayat. Tidak berlebihan rasanya kalau saya bilang bohong jika tidak ada unsur memaksakan diri demi mencapai kesatuan dan menjaga keutuhan hubungan.

Memaksakan diri yang saya maksud itu meliputi: mengikuti selera pasangan, menghindari perdebatan, mengalah, atau membuat diri kita merasa nyaman entah bagaimana caranya meski kita tahu ada kondisi yang membuat kita tidak nyaman. Kalau kata “memaksakan diri” dan “mengalah” terlalu terus terang, mungkin bisa diganti dengan terminologi yang lebih bisa diterima dengan adem hati, yaitu  “kompromi.”

“Pernikahan tuh isinya kompromi, Sist.”

Itu ucap teman saya di tengah sesi gunjing sore kami di kedai kopi. “Kalau gak pake kompromi, paling ya cuma tahan sebulan, itu aja udah bagus.”

Itulah testimoni dari yang sudah menikah dan entah kebetulan atau bagaimana, saya mendengar komentar senada dari mulut manusia lain dengan usia relasi yang beragam. Kalau sudah berkomitmen menjalin hubungan romantis dengan seseorang, itu artinya kita harus siap berkompromi kapanpun dibutuhkan. Kompromi dan komitmen, keduanya berkelindan, tidak tahu mana yang diciptakan duluan oleh Tuhan (atau manusia?).

Soal memaknai cinta, lebih lanjut Beauvoir menekankan bahwa cinta sejati harus didasarkan pada pengakuan timbal balik atas dua kebebasan. Cinta otentik melibatkan kemitraan (partnership) di mana kedua belah pihak saling mengakui kemerdekaan satu sama lain dan mengejar tujuan serta kepentingan di luar hubungan mereka. Ini berarti tidak ada pasangan yang lebih rendah dari yang lain dan masing-masing merupakan satu kesatuan mandiri yang bebas memilih, tanpa kepemilikan penuh atas satu sama lain. Beauvoir menjalankan apa yang ia nyatakan dalam hubungan terbukanya dengan seorang filsuf eksistensialis dan cinta sejatinya, Jean Paul Sartre.

Saya tidak meragukan pernyataan Beauvoir tentang cinta. Membaca pemikirannya dalam buku The Second Sex merupakan salah satu momen pencerahan dalam hidup saya. Cinta tidak melulu soal ikatan bersegel restu agama dan negara, cinta romantis juga bukan sesuatu yang bisa diseragamkan lewat “Tips Jitu Menjaga Kelanggengan Pernikahan di Abad 20” yang dimuat situs-situs lifestyle terkemuka.

Cinta, lebih dari itu, adalah perwujudan eksistensi manusia sebagai individu yang merdeka. Ketika kita bisa mencintai seseorang tanpa menggadaikan kemerdekaan diri, pada saat itulah kita menjalani rupa cinta yang paling otentik. Secara sederhana, saya memahaminya sebagai upaya mempertahankan jati diri masing-masing saat sedang mencintai pasangan kita. Kadar cintanya tidak berkurang sedikitpun dan masing-masing juga tidak kehilangan dirinya dalam proses mencinta. Tidak ada omongan siapa berkorban demi siapa dan kita pun dapat mencintai diri sendiri sembari mencintai pasangan kita. Ini adalah solusi mencinta yang paling win-win solution sekaligus paling romantis yang saya pahami belakangan.

Masalahnya, memahami dan menjalankan adalah dua hal berbeda. Perlu saya akui, sebanyak apapun referensi cinta atau seprogresif apapun perspektif yang saya gunakan untuk lebih mengerti soal cinta, saat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari saya masih gelagapan. Loh, kok jadi begini? Kok saya jadi sering mengalah? Kok saya rela berkorban demi mimpinya? Kok saya diem aja? Loh, loh, loh… Saat senggang dan kurang kerjaan, saya bertanya-tanya apakah Beauvoir juga mengalami problem cinta seperti ini?

Apakah Beauvoir pernah kesal dengan kelakuan Jean- Paul Sartre, pasangannya yang sesukanya mau ngapain aja sementara ia dengan begitu sabarnya menanti perhatian dan kasih sayang dari Sartre? Apakah mereka sampai cek-cok atau diem-dieman karena memperdebatkan siapa yang lebih sering mengalah di antara mereka?

Andai saja Beauvoir masih hidup, saya ingin bertemu empat mata dengannya dan mengajukan seabrek pertanyaan tentang implementasi cinta otentik dalam kehidupan sehari-hari. Semoga beliau tidak menyeret-nyeret kata “kompromi” sebagai jalan keluar dari masalah relasi romantis yang akut semacam ini.

Menyadari bahwa saya bukanlah Beauvoir dan hidup berelasi sejatinya tetap menarik untuk dijalani, saya pun mengarungi petualangan romantis sambil memegang teguh jati diri saya, sesekali ia boleh terombang-ambing tapi jangan sampai ia tenggelam karena tergulung persepsi cinta ideal. Sulit rasanya membedakan mana yang ideal dan mana yang otentik di saat kita sedang mencintai seseorang. Tidak dapat dipungkiri setidaknya ada secuil harapan yang disematkan kepada pasangan kita dan tidak terpenuhinya ekspektasi tersebut, meski hanya secuil, dampaknya cukup mengguncang hari-hari kita.

Pada saat itu, saya berharap bisa kembali pada kesadaran bahwa saya bukanlah pasangan saya. Kami adalah dua insan berbeda yang tidak perlu menjadi sama dalam mencinta, saya mencintainya dengan cara saya yang mungkin tidak dipahami, tidak diterima sepenuhnya, atau bahkan tidak disadari olehnya.

Tapi, saya menyadari bahwa saya mencintai diri saya dan pasangan saya, cukuplah kesadaran itu untuk menjalani hari-hari yang sudah lumayan pelik tanpa problematika cinta. Lagipula, sejak awal kemerdekaan saya lah yang membuat saya dicintai, jadi mengapa mesti khawatir?

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Nicky Stephani

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Jaya, Jakarta. Suka mencermati dan mengkaji tema gender dan seksualitas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email