Pentingnya Tingkatkan Literasi Digital Perempuan Untuk Lawan Hoaks

Rendahnya literasi digital jadi salah satu penyebab utama maraknya penyebaran berita dusta (hoaks) di Indonesia.

Perlu lebih banyak upaya untuk membantu masyarakat, termasuk mereka yang tak tersentuh media digital, untuk mengidentifikasi hoaks.

Seperti pada Februari, puluhan warga satu dusun di Alor, Nusa Tenggara Timur, lari dan bersembunyi di hutan karena enggan divaksin. Berbagai laporan media mengatakan mereka kabur karena termakan hoaks soal vaksin COVID-19.

Itu hanyalah satu dari banyak insiden yang menunjukkan betapa marak penyebaran berita bohong di Indonesia. Sejak awal pandemi hingga April 2021, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) mencatat dan melabeli lebih dari 1700 hoaks terkait Covid-19 dan vaksin.

Para pegiat pemeriksa fakta mengatakan salah satu penyebab utamanya adalah, “Tingkat literasi (digital) masyarakat Indonesia masih mengkhawatirkan dengan masih banyaknya beredar hoaks di kanal-kanal platform media sosial,” ujar Dedy.

Dedy Helsyanto adalah Koordinator Program dan Pemeriksa Fakta Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO). Ia merujuk pada hasil survey Kominfo dan Katadata Insight Center di 34 provinsi mengenai kecakapan masyarakat dalam menggunakan media digital. Hasil survey tahun 2020 itu menyebutkan masyarakat “kurang memiliki kemampuan dalam mengidentifikasi hoaks, serta rentan ikut menyebarkan informasi hoaks.”

Berbagai organisasi dari kalangan LSM, media dan pemerintah terus berusaha meningkatkan literasi digital melalui berbagai program. Upaya yang paling populer adalah CekFakta yang merupakan kolaborasi Mafindo dan puluhan media siber untuk memverifikasi konten-konten yang banyak tersebar di media sosial.

Salah satu media yang tergabung dalam CekFakta adalah Liputan6.com. Elin Yunita Kristanti adalah Wakil Pemimpin Redaksi dan Manajer Program Pemeriksa Fakta Liputan6.com.

“Sekarang, partisipasi masyarakat untuk terlibat dalam proses cek fakta makin naik, terutama kaum muda,” kata Elin.

Situs berita daring itu menggandeng 2.500an orang yang dijuluki “hoax busters” atau “pemberantas hoaks.”

Elin mengatakan kepada VOA para “pemberantas hoaks” ini diandalkan untuk mendeteksi misinformasi dan disinformasi yang beredar melalui grup-grup WhatsApp.

“Beda sama medsos lain yang bisa diakses dan diverifikasi oleh factchecker, kalau WA, gimana caranya? Terenskripsi, tertutup dan kita ngga bisa masuk. Pegiat cek fakta adalah upaya kami untuk meng-counter berita WA. Dengan harapan, anggota kami, ketika menemukan konten mencurigakan, akan membagikan ke redaksi, dan kemudian share fakta atau verifikasinya,” imbuhnya.

Pada April, Liputan6.com terpilih sebagai satu dari tujuh media di seluruh dunia yang menerima “Vaccine Grant Program” dari Jaringan Pemeriksa Fakta Internasional (IFCN) dan WhatsApp.

Menurut IFCN, Liputan6.com akan menerima $64.260 atau Rp. 900 juta lebih untuk membiayai proyek-proyek guna melawan hoaks. Kepada VOA, Elin mengatakan dana itu akan digunakan, salah satunya, untuk membuat chatbot di WhatsApp yang bisa diakses oleh para pengguna untuk mempertanyakan kebenaran sebuah kabar. Proyek baru lainnya, tambah Elin, akan menarget kelompok masyarakat yang tinggal di daerah terpencil dan belum tersentuh media digital.

“Orang-orang itu mungkin tidak tersentuh akses informasi yang baik. Mungkin tidak tahu kemana harus konfirmasi. Tidak tahu CekFakta. Orang-orang itu yang ingin kita rangkul. Orang-orang yang underserved, under privileged di Indonesia,” lanjut Elin.

Dan untuk menjangkau mereka, Elin mengatakan akan menggandeng jaringan radio lokal serta ribuan relawan.

Beragam kegiatan edukasi dan advokasi juga terus dilakukan MAFINDO, seperti dengan mengajak mahasiswa memeriksa hoaks terkait pilkada, melatih perempuan melakukan verifikasi, serta mendirikan Hoax Crisis Center yang melibatkan tokoh-tokoh daerah.

Tapi ini semua masih belum cukup. Karena semakin pintar masyarakat dalam mendeteksi berita bohong, semakin cerdik pula para produsen hoaks, kata Dedy.

“Mereka semakin memperbarui gerakannya, mulai dari teknis sampai substansi. Misal, mulai dari yang sifatnya sederhana, mudah dipahami, sampai provokatif. Sebaran makin menarik dan canggih modelnya atau sistemnya,” tukas Dedy.

Ini membuat upaya melawan berita bohong jadi semakin sulit. Apalagi tantangan di depan semakin besar, kata Dedy. Ia merujuk pada Pemilu 2024, momen yang sangat rawan akan hoaks dan polarisasi, seperti yang terjadi pada pemilu 2019 lalu.

“Dari sekarang kita harus sama-sama kuatkan nilai-nilai lawan hoaks, gencarkan edukasi literasi digital. Jangan sampai ke depan kita ulang kesalahan yang sama. Banyak hoaks, korban, polarisasi, saling tidak percaya, turun reputasi. Hal-hal seperti itu sedini mungkin harus ditekan,” tambahnya.

Karena itu, penting bagi setiap orang untuk mengambil peran aktif dalam memerangi hoaks. Salah satu cara yang paling mudah dan sederhana adalah menahan diri.

“Kalau terima informasi apapun. Apalagi yang mencurigakan. Cerna dulu, pikir dulu, sebelum share. Saring sebelum sharing. Pertahanan pertama kita terhadap fake news adalah tidak menyebarkan informasi yang mencurigakan,” ujar Elin.

Apabila itu bisa diterapkan, niscaya tingkat hoaks bisa diminimalisir. [vm/ka]

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

(Sumber: Voice of America)

Vina Mubtadi

Jurnalis Voice of America

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email