Sulitnya Menjadi Transpuan; Selalu Dianggap Salah

Apa saja yang dilakukan transpuan atau waria selalu dianggap salah. Selain salah, juga distigmakan secara terus-menerus. Lalu harus bagaimana?

Harus bagaimana hidup menjadi transpuan atau waria? karena selalu dianggap salah sejak di lingkungan terkecil transpuan

Karena stigma yang terus-menerus, waria atau transpuan yang hidup di lingkungan saya diperlakukan secara tidak hormat. Terkadang ia dilecehkan, difitnah dan bahkan secara fisik dilukai oleh keluarganya sendiri.

Di jalan ketika keluar rumah, para transpuan ini sering dipanggil banci atau bencong. Stigma terhadap transpuan ini memang menjamur, tak hanya terjadi di lingkungan keluarga, tapi di banyak sekali lingkungan di Indonesia. Poedjiati Tan di Konde.co pernah menulis bahwa panggilan banci atau bencong pada transpuan sering terjadi, ini kerap ditemuinya ketika di jalanan, di kampung-kampung ketika transpuan sedang mengamen.

Bahkan anak-anakpun kemudian ikut-ikutan memanggil dengan sebutan banci. Ini karena orang dewasa di sekitarnya melakukannya, jadi anak-anakpun menirukannya. Dari kita kecil, kita sudah sering melihat kebiasaan ini terus berlanjut hingga sekarang. Jika bisa menangis, maka para transpuan akan menangis dimana saja ketika mendengar panggilan banci ini. Namun ini mereka telan begitu saja.

Ada banyak transpuan yang memilih untuk tak mendengarkan karena mereka tak mau dibuat pusing, karena toh, hidup harus terus berjalan. Panggilan banci adalah panggilan yang paling sering menyakiti karena konotatif dengan penghinaan atau melecehkan

Data menunjukkan, transpuan ternyata mendapatkan 4 bentuk kekerasan selama ini. Yang paling mencolok adalah sering dipanggil banci atau bencong ketika di jalanan. Kekerasan lain yang kerap dirasakan adalah diusir dari rumah, sulit mendapat akses administrasi kependudukan, dan yang paling menyakitkan adalah diberi label sebagai sampah masyarakat

Fakta bahwa pelecehan itu ternyata bisa datang pertamakali dari orang-orang di sekitarnya, dari keluarganya, orang-orang yang seharusnya menyayanginya dan seharusnya memberi kebebasan terhadap anak untuk mengekspresikan identitas gendernya dan mengembangkan rasa otentik identitas gender, bebas dari rasa malu.

Selain itu, transpuan juga dianggap membawa pengaruh buruk di lingkungan, dan mereka kemudian tidak berdaya. Keberadaannya selalu dianggap kurang tepat karena dianggap menyalahi aturan atau norma masyarakat

Oleh karenanya, aktivitas mencemooh transpuan adalah bukti bahwa masyarakat kita belum mampu menerapkan keadilan gender. Seksualitas sesorang dibungkam secara masif melalui bahasa yang sifatnya mencemooh. Itulah salah satu kasus diantara banyaknya kasus pembatasan transpuan melalui tekanan yang diberikan masyarakat.

Data Komnas Perempuan menyebutkan tentang bentuk-bentuk diskriminasi dan kekerasan terhadap transpuan diantaranya adalah:

1.Pengusiran transpuan dari rumah, atau komunitas sekitarnya;

2.Sulit dalam akses administrasi kependudukan, baik dalam birokrasi kepengurusannya maupun pilihan gender mereka;

3.Stereotype bahwa transpuan adalah sampah masyarakat dan penyakit sosial

4.Perundungan (bullying) dengan menjuluki mereka dengan olok-olok yang berkonotasi melecehkan seperti “bencong” atau “banci”.

Itulah sulitnya menjadi transpuan, mengapa menjadi transpuan selalu salah? Apa sih, salahnya mengakui identitas transpuan agar bisa hidup berdampingan dengan kita semua?

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Ravika Alvin Puspitasari

Kesibukan sehari-hari kuliah daring dan mengikuti berbagai diskusi online. Selain itu aktif menulis di Lembaga Institute For Javanese Islam Research. Tertarik dengan isu-isu gender yang sedang berkembang saat ini

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email