Toeti Heraty, Perempuan Pemikir Feminis Telah Tiada

Toety Heraty adalah salah satu perempuan pemikir feminis generasi pertama di Indonesia yang banyak menulis pemikiran penting perempuan. Toeti Heraty meninggal 13 Juni 2021 di usianya yang ke: 87 tahun

Lima bulan sebelum ulangtahunnya yang ke: 88 tahun, salah satu perempuan pemikir feminis generasi pertama di Indonesia, Toeti Heraty meninggal dunia

Toety Heraty turut mendirikan Jurnal Perempuan di tahun 1996 bersama Gadis Arivia, Ratna Syafrida Dhanny dan Asikin Arif sehingga Jurnal Perempuan menjadi media perempuan feminis yang sangat penting di masa itu dan masa-masa selanjutnya. Untuk yang hidup di tahun 1990-an, Jurnal Perempuan merupakan media penting untuk menggugah perlawanan perempuan, dan Toeti menuangkan banyak pemikirian disana

Toeti heraty, dosen, budayawan sekaligus aktivis perempuan meninggal pada 13 Juni 2021 di usianya yang ke 87 tahun setelah mengalami sakit dan dirawat.

Pernah menjadi Ketua Jurusan Filsafat Fakultas Sastra Universitas Indonesia, Ketua Program Pascasarjana Universitas Indonesia Bidang Studi filsafat  dan Direktur Biro Oktroi Roosseno dan pemilik Galeri Cemara. Di tahun 1994, Toeti dikukuhkan menjadi Guru Besar Luar Biasa pada Fakultas Sastra Universitas Indonesia. Pernah menjadi rektor Institut Kesenian Jakarta setelah itu di tahun 1968-1971, Toety menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta, dan tahun 1982-1985 menjadi ketua Dewan tersebut.

Salah satu pendiri Jurnal Perempuan, Gadis Arivia menuliskan tentang keterlibatan Toety Herati di Jurnal Perempuan dan dalam gerakan Suara Ibu Peduli yang dimotori oleh Gadis Arivis dan Jurnal Perempuan, serta sejumlah aktivis perempuan lain seperti Karlina Leksono, Myra Diarsi, Julia Suryakusuma, Yuni Chuzaifah, dll. Toety Heraty memberikan dukungan kuat atas gerakan tersebut:

“Pada tanggal 20 Februari 1998, kembali Yayasan Jurnal Perempuan/ YJP mengadakan rapat kedua, sebagai pimpinan rapat, saya melaporkan penjualan susu yang dilakukan pada pagi harinya. Tanpa diduga peminat susu murah begitu banyak, orang mengantri, bahkan pada hari Sabtu sempat menimbulkan dorong-mendorong hingga pintu depan kantor YJP pecah. Malam itu, berkumpul lebih banyak lagi aktivis perempuan dengan wajah-­wajah baru seperti Dina (Walhi), Agung Putri (Elsam), Riga Adiwongso (FE UI. Lalu ada Prof. Dr. Toeti Heraty Noerhadi (Pendiri YJP dan dosen Filsafat UI), Gayatri, Nursjahbani Kacasungkana, Ita F. Nadia, Dr. Kartini Sjahrir (Antropolog) dan lain-­lain.”

Suara Ibu Peduli adalah suatu gerakan politik penting perempuan di masa Orde Baru yang bergerak memperjuangkan politik perempuan yang berlangsung dalam periode Tahun 1998, dengan maksud membuka ruang keberanian perempuan untuk terlibat dalam perubahan politik. Gadis Arivia menulis, mereka memilih Hotel Indonesia (pusat Ibukota) sebagai panggung politik dalam melakukan aksi dan memilih tanggal 23 Februari 1998, dimana status Siaga Satu (tembak di tempat) diberlakukan di Ibukota. Jadi, ide utama Suara Ibu Peduli/ SIP sepenuh-penuhnya bersifat politik perempuan. SIP adalah sebuah percobaan politik feminis yang dihadapkan langsung pada kekuasaan. SIP kemudian melakukan aksi-aksi memperjuangkan politik susu dan kebutuhan perempuan yang tidak dianggap penting di masa pemerintahan Orde baru kala itu, dari demonstrasi hingga mengumpulkan makanan untuk support para perempuan dan ibu pada masa krisis ekonomi di masa-masa itu

Dalam pidato di ulangtahun Jurnal Perempuan ke 23 pada 12 September tahun 2018 di ulangtahun Jurnal Perempuan yang ke-23 di Galeri Cemara Jakarta yang saya ikuti, Toeti memaparkan pemikiran-pemikiran penting tentang feminisme di Indonesia, hal-hal yang sudah lama diperjuangkannya. Dalam acara ini, Toeti Heraty memaparkan kapan istilah feminisme pertamakali dikenal. Istilah feminisme di Indonesia belum dikenal di masa kolonial, tapi kala itu yang dikenal adalah gerakan perempuan yang mendukung nasionalisme yang mendukung pendidikan dan emansipasi. Disaat itu gerakan perempuan juga sudah mempermasalahkan poligami. Hal ini juga mengemuka dalam kongres perempuan.

“Pertama-tama kita kembali ke gerakan anti kolonial dan istilah feminisme belum kita kenal, tapi yang kita lihat adalah gerakan yang mendukung nasionalisme pada titik berat untuk perjuangan pendidikan dan emansipasi dengan titik peran pada ibu….khususnya pada ibu bangsa. Di masa itu sudah mempermasalahkan poligami dan di Partai Wanita Rakyat ditampilkan lagi di masa itu…..istilah ibuisme memperjuangkan anti kolonial dan perjuangan pendidikan yang dilakukan seorang ibu menjadi titik penting di masa kolonial…”

Toeti kala itu juga memetakan gerakan perempuan di masa kolonial, Orde Lama, Orde Baru dan di masa patriarki. Suaranya masih bersemangat di usianya yang ke-85 tahun, orasinya masih terus ditunggu karena penuh dengan pemikiran penting perempuan.

Toety Heraty juga dikenal sebagai perempuan yang selalu memberikan pemikiran dalam setiap tulisannya. Salah satu buku kritisnya berjudul “Calon Arang Kisah Perempuan Korban Patriarki” yang mengkritik tentang label buruk yang selama ini disematkan pada Calon Arang sebagai perempuan penyihir jahat. Padahal Calon Arang adalah perempuan yang mencoba bertahan terhadap lingkungan patrikhal yang represif, tetapi malangya ia malah dianggap sebagai penyihir jahat. Calon Arang adalah salah satu representasi banyak perempuan di Indonesia yang dikenai label negatif selama ini. Ini merupakan buku dan buah pemikiran pentingnya

Toeti Heraty dijuluki sebagai satu-satunya perempuan di antara penyair kontemporer terkemuka Indonesia. Puisi-pusinya digambarkan sebagai sesuatu sulit dimengerti, mengkombinasikan ‘ambiguitas yang disengaja’ dengan ‘perumpamaan yang asosiatif dan tak dinyana’. Gayanya yang menggunakan ironi dalam menggarisbawahi kedudukan rendah perempuan di masyarakat patriakhal, yang membuat puisinya berbeda dengan para penyair lainnya.

Toety Heraty kemudian juga mendirikan Galeri Cemara miliknya, galeri ini merupakan oase penting dalam mengekspresikan semangat seni termasuk para seniman perempuan. Galeri Cemara didirikan oleh Prof. Dr. Toeti Heraty N Roosseno, pada tahun 1993. Galeri memiliki ruang pameran utama, halaman belakang untuk kegiatan seni dan budaya seperti diskusi, presentasi seni video, pertunjukan, pembacaan puisi dan kegiatan budaya lainnya yang dilengkapi dengan kafe dan homestay

Program Galeri Cemara 6 dikonseptualisasikan sehingga hubungan antara seni dan masyarakat, antara Budaya dan hak-hak dasar dan kapasitas manusia untuk mengekspresikan diri secara bebas dan kreatif lebih ditekankan; melalui promosi yang aktif dan memiliki khalayak yang besar dan luas yang sering menghadiri pameran dan acara khusus kami. Galeri juga berfokus pada promosi seniman baru, melalui pameran kelompok dan tunggal, dan dengan ini menekankan pentingnya pertukaran budaya dan jaringan Internasional. Galeri ini aktif menyelenggarakan dan berpartisipasi dalam pameran seni rupa internasional, di Belanda, Italia, Spanyol, Bosnia Herzegovina, Jepang dan Kanada.

Galeri milik Toeti Heraty yang terletak di Jalan HOS Cokroaminoto nomor 9-11 sejak tahun 2014 tak lagi berfungsi sebagai galeri seni tapi diresmikan jadi museum. Peresmian ini bertepatan ulang tahun Toeti yang genap berusia ke-81 tahun. Detik.com menuliskan, di dalam museum terdapat koleksi benda-benda seni seperti patung F.Widayanto, memorabilia keluarga Toety Heraty, dan sekitar 300 lukisan dari old master hingga kontemporer. semua koleksinya bisa dilihat dengan bebas dan terbuka untuk umum.

Toeti Heraty telah meletakkan dasar penting feminisme dan kesenian di Indonesia dalam pemikiran dan tulisan-tulisannya. Tulisan, buah karya ini sebagai semangat, pengingat yang terus mengalir hingga kini.

Selamat jalan Ibu Toeti Heraty, terimakasih untuk banyak pemikirian penting bagi feminisme di Indonesia selama ini.

Referensi: http://www.jurnalperempuan.org/blog/politik-representasi-suara-ibu-peduli

(Foto: Wikipedia)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email