3 Perempuan Yang Alami Kesenjangan Digital: Lansia, Perempuan Desa Dan Berpendidikan Rendah

Ada 3 kelompok perempuan yang masih mengalami kesenjangan di dunia digital, yaitu kelompok Lansia, perempuan desa dan perempuan yang berpendidikan rendah

Sampai sekarang, perempuan di banyak negara masih mengalami kesenjangan digital dalam berinternet. Kondisi ini terutama dialami para perempuan di negara-negara dunia ketiga seperti Bangladesh, Indonesia dan sejumlah negara dunia ketiga lain dimana perempuan pengguna internet lebih rendah 7-8% dibandingkan laki-laki

Di Indonesia, kesenjangan digital ini menimpa para perempuan di desa, perempuan dengan pendidikan rendah dan Lansia perempuan. Akibat ketertinggalan ini perempuan Indonesia tertinggal dalam mengakses pendidikan, kesehatan dan kesempatan kerja. Survey yang dilakukan Japelidi juga menemukan ada kesenjangan digital perempuan Indonesia dibandingkan laki-laki.

Paparan ini mengemuka dalam diskusi dan launching buku “Perempuan dalam revolusi digital: peta permasalahan dan urgensi digital” yang diselenggarakan Jaringan Pegiat Literasi Digital/ Japelidi, Universitas Gajah Mada (UGM) Press dan Departemen Ilmu Komunikasi UGM, 9 Juli 2021 melalui online

Apa saja penyebab perempuan menjadi tertinggal dibandingkan laki-laki? Dosen UGM, Rahayu yang menjadi editor buku tersebut menyatakan, dalam buku terpapar bahwa salah satu penyebab perempuan tertinggal dibanding laki-laki dalam mengakses teknologi karena lingkungan yang masih berada dalam struktur patriarki yang mempercayai bahwa teknologi itu milik laki-laki. Mitos ini yang menyebabkan perempuan tidak percaya diri untuk menguasai teknologi.

“Penyebabnya ada dua, lingkungan dan teknologi, dan struktur masyarakat laki-laki. Selain itu secara internal ada sisi kemampuan dan percaya diri perempuan yang menjadi berkurang sebagai akibat dari kondisi ini.”

Rahayu memaparkan, ada kesenjangan penggunaan teknologi dan kemanfaatannya bagi perempuan. Selain itu terdapat mitos yang melakukan stereotipe untuk perempuan. Misalnya, selama ini perempuan dan remaja perempuan menjadikan media digital untuk mendapatkan informasi, namun perempuan dalam fase ini kemudian banyak dicitrakan secara bias. Perempuan digambarkan sebagai pelaku dalam ciber bullying dan hoaks, persoalan lain penggambaran diri perempuan di media seperti itu sering tidak akurat dan menjadikan perempuan sebagai obyek persoalan, misal di media, perempuan dimitoskan secara sensasional.

“Ada bias yang terjadi pada perempuan, ketika ada hoaks, perempuan yang disalahkan sebagi penyebar hoaks, jadi perempuan dieksploitase. Di media, perempuan juga ditulis secara sensasional, jarang mengekspose kesuksesan perempuan dan sering tidak akurat. Selain itu perempuan dimitoskan punya gaya hidup bebas,” kata Rahayu

Salah satu penulis buku dan dosen UGM, Novi Kurnia menyatakan, dalam buku ini ada 13 dimensi tentang perempuan, seperti misalnya perempuan mempunyai akses di dunia digital, namun juga keterbatasan, keamanan, dunia kerja, lapangan kerja dan pendapatan berbeda yang lebih rendah. Selain itu dimensi seperti peran ganda masih terjadi pada perempuan, perempuan distereotypekan sebagai orang yang gaptek, namun perempuan juga diposisikan sebagai obyek dan subyek di dunia digital.

“Dan ini tidak hanya terjadi di Indonesia tetapi juga di negara lain. Yang positif misalnya perempuan dianggap subyek ketika perempuan diposisikan sebagai orang yang rentan, maka temuannya harus ada pendidikan untuk perempuan, ini menunjukkan perempuan yang jadi obyek dan kemudian juga menjadi subyek.”

Salah satu penulis buku ini, Widodo Agus S menyatakan bahwa Indonesia sebagai negara keempat pengguna internet di dunia, sudah melibatkan perempuan dalam internet, walaupun dengan segala problematikanya, ini termasuk mitos terhadap perempuan yang sangat banyak terjadi di media digital

Santi Indra Astuti, dosen komunikasi Unisba Bandung sebagai penanggap diskusi menyatakan, buku ini menggambarkan wajah perempuan dan teknologi yang sangat lengkap, yaitu soal akses, kompetensi perempuan, sampai pemberdayaan perempuan.

“Buku ini mengajak memberdayakan perempuan itu harus dilakukan dalam kehidupan sehari-hari dan memproses informasi dengan cara seperti ini. Perempuan sebagai subyek sangat menarik, ada beberapa insight dari buku ini dan saya mendapatkan kristalisasi best practice dan frame work perempuan dari berbagai perspektif, misalnya bagaimana mengarahkan pada pemberdayaan perempuan”

Literasi digital untuk perempuan

Buku ini kemudian memotret problem dan kiprah perempuan di dunia digital yaitu dari lanskap kajian dan gender, relasi digital, hoax, influencer, perempuan dan game, juga gerakan di media sosial. UGM Press menulis, buku ini dalam bab-babnya menuliskan bagaimana mengentaskan kesenjangan digital yang dialami perempuan, para penulis buku ini memandang penting literasi digital. Literasi ini tidak hanya bersentuhan dengan keterampilan teknis dalam mengakses media digital, namun juga berkaitan dengan kompetensi kritis dalam mengevaluasi konten.

Dalam mendiskusikan literasi digital, para penulis menunjukkan integrasi antara literasi digital dengan bentuk-bentuk literasi yang lain. “Literasi-substansi” yang berkaitan dengan pengetahuan tentang feminisme, pemasaran dan periklanan, finansial, dan sebagainya, dipercaya meningkatkan kemampuan perempuan dalam menggunakan teknologi digital, juga meningkatkan kapasitas perempuan dalam menavigasi teknologi.

Dalam mewujudkan perempuan yang terliterasi, kerja sama berbagai pihak merupakan hal penting. Perempuan diharap proaktif, tidak saja sebagai objek, namun diperlakukan sebagai subjek dalam program-program literasi digital.

(Foto: Pixabay dan UGM Press)


Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email