Dukung Pernyataan Chef Juna; Bahwa Tak Semua Perempuan Harus Punya Anak

Jawaban chef Juna dalam podcast Deddy Corbuzier menegaskan bahwa tak semua perempuan harus punya anak. Jawaban ini mendapatkan banyak dukungan di media sosial: "jika istriku mau, kami akan punya anak. Tapi jika istriku tidak mau, kami tidak harus punya anak."

Coba simak jawaban Juna Rorimpandey atau chef Juna ketika menjawab pertanyaan tentang apakah ia mau punya anak atau tidak, dalam podcast Deddy Corbuzier pada 1 November 2020. Jawaban ini tiba-tiba minggu lalu menjadi trending dan diapresiasi para netizen di twitter

Deddy bertanya: apakah chef Juna menginginkan untuk punya anak,” how about kids?”

“Kids? Do I want kids? If my wife wants kids, we have kids. If my wife does’n wanna kids, then we don’t have to have kids.” (Anak? Apakah aku pengin punya anak? Jika istriku mau, kami akan punya anak. Tapi jika istriku tidak mau, kami tidak harus punya anak)

Chef Juna bertanya balik, apakah kamu hamil dalam waktu 9 bulan? Yang hamil adalah perempuan, maka sudah sepantasnya menanyakan pada perempuan apakah akan memutuskan untuk punya anak atau tidak.

“How can you pressure your better half tu suffer like that if she doesn’t want it.”

Deddy menanyakan lagi,” loe tahu dong kalau gak semua setuju dengan kata-kata loe ini.”

Chef Juna menjawab,” Bodoh amat, they can run their life, mereka bisa jalani hidup mereka dengan apa yang mereka percaya, terserah karena saya tidak mengurusi hidup mereka…”

Apresiasi ribuan komentar salah satunya datang dari Wanda Roxanne R.P di Twitter yang berkomentar,” Sebagai perempuan, rasanya tersanjung dengan pemikiran Chef Juna ini. Masih banyak masyarakat yang menganggap perempuan pasti menginginkan anak, perempuan harus memiliki anak, dan perempuan gak sempurna tanpa anak.”

Fajar Kurniawan @ucoklicious juga mengomentari,” Satu pemikiran sama chef juna. Its up to my wife as long as she happy”

Menikah, lalu punya anak dan menjadi ibu memang sebuah pertanyaan yang sering dilontarkan untuk perempuan. Pertanyaan itu seolah-olah mengibaratkan menjadi ibu dan punya anak adalah tujuan akhir hidup perempuan. Padahal banyak perempuan yang tidak mengalaminya atau tidak memilih di titik itu: punya anak dan menjadi ibu

Jawaban chef Juna seperti menjadi penegasan bahwa tak semua perempuan memutuskan untuk punya anak, dan pasangannya harus memberikan pilihan pada perempuan

Pertanyaan Deddy Cobuzier ini sebenarnya banyak sekali ditanyakan orang pada perempuan: tentang punya anak. Punya anak dan menjadi ibu seolah selalu menjadi obsesi terakhir yang disematkan masyarakat untuk perempuan. Dan perkawinan adalah tujuan untuk mencapai cita-cita ini, menjadi ibu dari anak-anak suami atau pasangannya.

Entah datang pertamakalinya dari mana pernyataan tentang punya anak ini, namun dalam banyak media dan percakapan, pernyataan ini seolah lazim untuk disematkan pada perempuan: perempuan paling bahagia jika disebut ibu. Dan media kemudian ikut membesarkan hal ini: menjadi ibu sering dituliskan sebagai cita-cita terakhir dan obsesi yang sangat sering dibicarakan di dunia ini.

Media feminis, MS Magazine juga pernah mengkritisi hal ini. Susan Douglas, seorang dosen di Michigan University dan Meredith Michaels, seorang guru di Smith College dalam MS Magazine di tahun 2013 menulis tentang peran perempuan yang banyak ditampilkan di majalah-majalah populer. Perempuan di majalah banyak ditampilkan sebagai model yaitu sebagai ibu, padahal gambaran di media ini tak selamanya utuh, karena perempuan punya peran lain, perjuangan, pemberontakan, cita-cita yang berbeda.

Media-media seperti ini seperti mendorong perempuan untuk selalu berpikir bahwa menjadi ibu adalah pilihan terakhir di dunia ini. Dan jika tidak menjadi ibu maka artinya kiamat sudah dekat. Hal ini bisa ditandai dengan pertanyaan yang selalu datang untuk perempuan:

“Kapan menikah? kapan punya anak?.”

Padahal ada banyak hal di luar sana yang harus kita pikirkan selain memenuhi harapan masyarakat untuk menjadi ibu. Monopoli perempuan yang harus menjadi ibu ini juga banyak menjadikan perempuan depresi sebagai manusia.

Para feminis melihat, menjadi ibu atau peribuan (motherhood) seolah menjadi sesuatu yang harus terlembagakan. Charlotte Perkins Gilman menulis dalam novelnya berjudul Herland (1915) menggambarkan tentang: bagaimana sebuah dunia dimana keibuan bisa memuaskan, namun tidak menindas dalam konsep masyarakat.

Dari sini kita bisa bertanya secara lebih sederhana: benarkah semua perempuan harus menjadi ibu? Apakah semua perempuan harus punya anak? Apakah hidupnya menjadi tidak lengkap jika ia tidak menjadi ibu dan punya anak?

Feminis liberal punya jawabannya. Jika ini terus dibiarkan, maka peran ‘keibuan’ ini terus menerus dikonstruksi sebagai peran yang kemudian bisa diberikan sanksi secara sosial. Jika tak menjadi ibu dan tak punya, maka perempuan harus menerima sanksi sosial. Pertanyannya, apakah ini justru tidak menjerumuskan perempuan masuk ke dalam depresi baru, ke dalam hal-hal yang membuat tidak nyaman hidupnya dan menindas perempuan?

Masih banyak yang harus dilakukan dan diperjuangkan untuk tidak melulu memenuhi kriteria yang orang lain mau: jadi ibu dan punya anak

Jadi, marilah kita menikmati hidup, di dunia yang punya banyak sekali semangat, cita-cita dan pilihan berbeda ini

(Foto: Youtube)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email