Ketika Negara Tak Hadir Saat Kita Kena Covid, Support Keluarga dan Kawan Jadi Semangat untuk Sembuh

Positif Covid untuk keduakalinya plus tiap hari mendengar kabar duka adalah saat tersulit yang saya terima, apalagi saya hidup sendiri di Jakarta. Saya seperti merasa: apakah saat ini saya akan mati sendiri tanpa ditemani keluarga?

Ini adalah cerita personal saya. Kisah ini saya bagikan ini sebagai ucapan terima kasih tak terhingga kepada kawan-kawan yang suportif, saat pemerintah tidak hadir untuk para warganya dan terus denial dengan kondisi pandemi Covid-19 di Indonesia.

Minggu malam itu adalah hari yang buruk bagi saya, tepatnya ketika saya membuka lembaran kertas hasil tes antigen saya di salah satu rumah sakit di Jakarta.

“Positif.”

Saya duduk, takut, menangis, bingung.

“Bagaimana aku harus bilang ke keluargaku yang jauh?”

“Apakah aku akan selamat atau aku mati sendiri tanpa keluarga?”

“Bagaimana dengan nasib teman serumahku?”

Pertanyaan itu terus berkecamuk di otakku. Saya takut mati karena virus ini? Ya, meski saya sudah pernah terkena Covid-19, tapi saat saya memeriksakan diri di hari itu, saya tetap saja takut. Hasil tes positif itu muncul setelah saya sakit selama lebih dari seminggu. Antigen ini bukan tes pertama yang saya lakukan setelah sakit selama sekitar seminggu. Sebelumnya, saya sempat melakukan PCR dan hasilnya negatif, sekitar 6 hari sebelum saya melakukan antigen.

3 hari setelah demam, mual, dan muntah, saya melakukan tes PCR di klinik terdekat. Di klinik tersebut, antriannya luar biasa. Jauh lebih ramai dari saat saya terkena Covid-19 pertama, lebih dari dua kali lipat banyaknya yang mengantre. Bahkan klinik tersebut memecah antrian menjadi dua tempat agar tak berjubel.

“Sebanyak inikah orang yang sakit?”

Saya termasuk orang yang sangat jarang untuk keluar rumah, kecuali untuk hal yang sangat mendesak seperti ke ATM. Apalagi kantorku masih menerapkan sistem work from home. Saat mengunjungi klinik tersebut, saya benar-benar merasa bahwa informasi yang banyak saya baca di berita maupun media sosial itu kini ada di depan saya.

Ketika hasil PCR saya dinyatakan negatif, ada rasa lega. Saya pun langsung memeriksakan diri ke rumah sakit setelah dinyatakan negatif. Mulanya, dokter mengatakan bahwa saya terkena iritasi lambung. Namun ternyata, hingga obat saya habis, sakit saya tak kunjung sembuh. Panas di badan saya makin tinggi, muntah-muntah kian sering, ditambah diare. Saya bisa bolak-balik ke toilet 2 kali per jam. Badan saya sangat tidak bertenaga, sehingga saya pun memilih untuk kembali lagi ke dokter karena saya khawatir kalau hasil PCR sebelumnya “false negatif”.

Perjuangan ke dokter saat itu bukan main-main bagi saya karena demam tinggi dan badan sudah sangat tidak bertenaga. Di rumah sakit pun, saya harus mengantre berjam-jam karena memang kondisi rumah sakit yang sangat ramai. Saya datang pukul 13.00 dan baru bertatap muka dengan dokter pukul 16.00, setelah itu saya harus tes antigen dan cek darah di laboratorium, menunggu hasil, bertemu kembali dengan dokter, mengambil obat. Seluruh rangkaian pemeriksaan kesehatan saya hari itu selesai pukul 20.00.

Saat bertemu dokter, Ia pun bilang bahwa belakangan ini rumah sakit sangat ramai, antrian tes antigen dan PCR semakin panjang, begitu juga dengan laboratorium. Belum lagi antrian apotek.

Dalam kondisi “berusaha menguatkan diri” dan saturasi hanya 93, saya baru menyelesaikan pengobatan setelah 7 jam menunggu.

Biaya Berobat yang Mahal dan Tidak Ditanggung Pemerintah

Salah satu privileged yang saya miliki saat kena Covid-19 adalah jaring pengaman ekonomi dan support system yang memadai. Saya bisa lekas memeriksakan diri: melakukan tes PCR dan antigen, membayar dokter, dan obat. Biaya pengobatan saya saat itu tidak murah dan tentu saja, tidak ditanggung pemerintah.

Setelah diketahui positif melalui antigen, saya melakukan PCR lagi dan saya memilih mencari PCR home service karena tak sanggup jika harus mengantre lama di klinik. Antrean PCR pertama dan antrean rumah sakit cukup membuat saya takut apabila harus mengantre lagi.

Biaya PCR home service sangat tidak murah, tapi dengan harga yang tidak murah itu bukan berarti mudah mencari jasa PCR home service. Di titik ini, saya berpikir, “Bagaimana dengan orang-orang miskin?”, “Bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki pendapatan tetap setiap bulan?”.

Sehari setelah saya ke rumah sakit, saya mencari PCR home service dengan menghubungi berbagai klinik dan rumah sakit sejak pukul 8.00 dan baru mendapatkan klinik pada pukul 15.00. Itu pun saya sudah dibantu oleh kawan-kawan saya.

Saya beruntung memiliki banyak kawan yang paham tentang Covid-19 dan bersedia membantu: menyiapkan makan bagi saya selama isoman, bersiap dengan informasi tabung oksigen apabila saya membutuhkan, mengirim air minum, madu, buah, dan kebutuhan lain selama saya isoman.

Keluargaku yang tinggal jauh di luar kotapun terus menanyakan kabar setiap hari, meskipun saya tahu ada rasa cemas karena kondisi kesehatan saya yang jauh dari baik saat itu. Ditambah, berita duka yang datang bertubi-tubi, sungguh melelahkan.

Privileged ini tentu saja tidak dimiliki semua orang dan mungkin hanya segelintir orang. 

“Bagaimana dengan kelompok miskin kota?”

“Bagaimana dengan komunitas marginal yang tak bisa tinggal dengan keluarga atau bahkan diusir oleh keluarga mereka?”

Jika pemerintah terus menyalahkan rakyat atas kesalahan pemerintah dalam pengambilan kebijakan selama pandemi, tentu saja mereka yang paling sangat terdampak: akses kesehatan yang tidak memadai, ekonomi yang terpuruk akibat pandemi Covid-19.

Jika pemerintah tak menanggung biaya hidup bagi rakyatnya selama masa pandemi dan PPKM ini, maka rakyat seperti dihadapkan pada tiga pilihan: mati karena Covid-19, mati karena miskin, atau mati karena keduanya.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Tika Adriana

Jurnalis yang sedang memperjuangkan ruang aman dan nyaman bagi semua gender, khususnya di media. Tertarik untuk mempelajari isu kesehatan mental. Saat ini managing editor Konde.co.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email