Label Bahwa Perempuan Itu Lemah dan Penurut Sudah Kuno; Harus Diakhiri

Pelabelan negatif selalu merugikan perempuan. Feminis, Inge Broverman menyatakan, pelabelan ini menjadikan laki-laki dianggap lebih unggul daripada perempuan

Ketika sedang menunggu obat di apotek, saya tak sengaja mendengar percakapan beberapa orang yang mendiskreditkan perempuan: perempuan itu sifatnya sensitif, gampang marah dan tersinggung.

Kita sudah sering mendengar stereotype atau label negatif yang dilekatkan pada perempuan dimanapun, sepertinya dari saya belajar tentang gender untuk pertamakalinya sampai sekarang, kondisi ini masih berlangsung.

Cewek dianggap sensitif, dianggap cemburuan, dianggap galak. Label negatif ini sudah sering kita dengar dari kita kecil. Dari perempuan yang juga dianggap cengeng, tidak rasional, tergantung, berpikir menggunakan perasaan dan tidak logis. Sedangkan laki-laki itu pemberani, kuat, rasional, mandiri, tidak boleh cengeng, selalu menggunakan logika dan tidak pakai perasaan.

Stereotype dalam konteks feminisme adalah sebuah anggapan mengenai individu, kelompok atau suatu obyek. Feminis, Inge Broverman dan koleganya menyimpulkan bahwa pemikiran pen-stereotipe-an mengenai peran jenis kelamin yang berkaitan dengan ciri pribadi kemudian sangat luas cakupannya. Sifat-sifat baik cenderung dilekatkan pada laki-laki sehingga laki-laki mampu membentuk kelompok yang lebih unggul, dan perempuan dilekatkan pada ciri-ciri yang soft, pengalah, lemah.

Inge Broverman juga menyatakan bahwa sifat-sifat ini kemudian dilekatkan pada bacaan, kebiasaan, juga pekerjaan.

Label negatif ini kemudian tidak hanya dilekatkan pada perilaku atau cara berpikir saja yang dibedakan konstruksi gendernya oleh masyarakat, namun juga cara berpakaian,jenis pakaian, warna, motif, pekerjaan, peran, dll. Saking sudah lamanya, sehingga label ini selalu ada dalam buku-buku bacaan sekolah yang sudah terlanjur diyakini banyak orang.

Label dalam bacaan di sekolah itu seperti tertulis: kepala keluarga adalah laki-laki, ibu harus selalu menurut apa kata suami, dan masih banyak lagi kalimat usang lainnya. Mestinya ini adalah kata-kata usang yang harus kita buang jauh karena ini menandakan bahwa ibu di rumah tak boleh banyak bicara karena harus menurut apa saja kata laki-laki dan laki-laki selalu dibebani untuk bekerja keras menghidupi keluarga. Padahal konstruksi ini selalu bisa dipertukarkan setiap saat. Ibu bisa mengutarakan ketidaksetujuannya, demikian juga ayah atau laki-laki. Begitu juga perempuan bisa jadi kepala keluarga, ini kondisi yang bisa saja dipertukarkan

Pelabelan seperti ini selalu tumbuh subur dan ternyata tidak hanya merugikan perempuan, tetapi sebagian laki-laki juga dirugikan, walaupun kerugian pada perempuan jauh lebih besar. Seringkali laki-laki yang tidak sesuai dengan label atau stereotype akan menjadi bahan bullying teman-temanya dan mendapat label bermacam-macam. Misal anak laki-laki yang pendiam dan tidak suka aktivitas fisik dianggap kurang maskulin atau macho. Sering mendapat olok-olok banci.

Ada yang beranggapan bahwa perempuan yang sering memakai pakaian celana jeans dan kemeja atau tidak memakai rok dianggap tidak feminim atau tidak anggun. Atau laki-laki yang menggunakan pakaian berwarna pink atau bercorak bunga sering dianggap feminim bahkan disangka gay atau banci.  

Atau ketika anak laki-laki yang dari kecil dididik secara tidak setara. Misalnya, karena ayahnya ingin anak laki-lakinya menjadi kuat dan macho, dia mendaftarkan anaknya ikut beladiri padahal anaknya tidak suka dan lebih tertarik menjadi penulis atau menari. Tetapi Ayahnya menganggap itu terlalu feminim dan mengatakan anaknya banci! Sehingga anaknya menjadi tertekan dan mengalami depresi.

Dalam pekerjaan juga seringkali masyarakat melakukan stereotype. Misalnya ketika melihat laki-laki di rumah merawat anak dan istrinya yang bekerja mencari nafkah maka hal itu akan dianggap aneh dan tidak pantas. Atau ketika karir istri lebih tinggi dari suami, seringkali suami merasa tidak nyaman karena diolok-olok teman atau keluarganya. Karena stereotype ini, seringkali perempuan akhirnya mempunyai beban ganda  di dalam rumah tangga. Mereka sama bekerjanya seperti suaminya, namun dia juga harus melakukan pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, setrika, membersihkan rumah dan mendidik anak-anak, karena dianggap itu pekerjaan perempuan.

Lalu kapan ini akan berakhir jika bukan kita yang melakukannya?. Ini saatnya kita mulai belajar untuk tidak lagi melakukan stereotype gender, memprotes dan mengkoreksi bacaan-bacaan yang salah dan anggapan yang salah. Bahwa laki-laki dan perempuan itu punya fungsi yang dipertukarkan, baik dalam hal perasaan, perilaku, pekerjaan, peran dan fungsinya dalam rumah tangga dan masyarakat.

Dan hendaknya kita tidak usah menambah rumit keadaan karena kita harus saling menghargai orang lain dan tidak menghakimi karena setiap orang itu mempunyai keunikannya masing-masing. 

Ketika kesempatan dan ruang belajar serta ruang komunikasi yang setara dibangun, setidaknya kita bisa memperkecil pelabelan negative antara perempuan dan laki-laki.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Poedjiati Tan

Psikolog, aktivis perempuan dan manager sosial media www.Konde.co. Pernah menjadi representative ILGA ASIA dan ILGA World Board. Penulis buku “Mengenal Perbedaan Orientasi Seksual Remaja Putri.”

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email