Lebih Kuat Mana Laki-Laki VS Perempuan? Coba Rasakan Nyeri Haid

Sebelum kamu membaca artikel ini, kami ingin menyampaikan bahwa artikel ini ditulis bukan untuk menginvalidasi pengalaman personal seseorang. Kami memahami bahwa gender memiliki spektrum yang luas. Artikel ini kami tujukan untuk laki-laki cis hetero yang seringkali menginvalidasi pengalaman perempuan saat mengalami sakit menstruasi

Jadi lebih kuat mana antara laki-laki dan perempuan? Tren uji coba simulator kram menstruasi membuktikan, mana yang lebih kuat menahan rasa nyeri haid, laki-laki atau perempuan

Jangan salah menyebutkan bahwa laki-laki selalu lebih kuat dari perempuan. Atau menganggap perempuan lemah sedangkan laki-laki kuat.

Tren uji coba simulator kram menstruasi atau period simulator menjadi viral di media sosial, baik di Tik Tok, Twitter maupun Youtube . Video itu menjadi viral karena menampilkan banyak laki-laki yang gagal menahan rasa sakit ketika mencoba simulator kram menstruasi

Dalam  salah satu video TikTok, tampak beberapa laki-laki terlihat mencoba simulator nyeri haid untuk memahami apa yang dialami perempuan di seluruh dunia setiap bulan. Klip tersebut menunjukkan laki-laki itu jatuh ke tanah, terpincang-pincang dan meringis kesakitan, meminta untuk alat simulator tersebut dimatikan, meski belum mencapai level tertinggi.

Namun, ketika perempuan mencoba level yang sama dan lebih tinggi, mereka bahkan tidak bergeming.

“Tidak terasa apa-apa”, ujarnya.

Sementara  perempuan yang lain yang berganti mencoba alatnya juga bingung ketika dia ditanyakan apakah merasakan sesuatu?

“Cuma segini?, ini tidak seberapa, aslinya nyeri haid bisa 10 kali lipat!.”

Semuapun tergelak tertawa melihat perbandingan kesakitan nyeri yang di rasakan oleh laki-laki dan perempuan.

Para laki-laki itu tidak saja berkeringat, menjerit dan menangis, bahkan ada yang hampir pingsan karena mencobanya. Sementara itu ketika para perempuan yang terbiasa mengalami kram saat haid mencobanya, mereka mengatakan bahwa rasa nyeri yang setiap bulan mereka alami ketika datangnya haid, berkali-kali lipat rasa nyerinya dibandingkan alat simulator itu

Simulator menstruasi ini banyak merek dan tipenya, demikian juga dengan tingkat nyerinya, ada yang menggunakan angka 1-8, dan ada yang menggunakan ukuran 1-20. Tentu saja semakin tinggi angkanya, maka rasa nyerinya makin terasa kuat.

Simulator ini jadi membuktikan bahwa jika ada orang yang menyatakan bahwa laki-laki secara fisik lebih kuat dari perempuan, maka anggapan tersebut langsung terpatahkan saat melihat beragam video yang viral itu.

Berbagai konten kreator Youtube dan Tik Tok menyajikan peragaan simulator kram mestruasi yang dicobakan pada laki-laki dan perempuan, hasilnya bisa diduga, perempuan jauh lebih tahan mengalami nyeri dari simulator itu.

Banyak perempuan mengalami kram sebelum atau selama periode menstruasi mereka. Kram ini menurut para ahli disebabkan oleh prostaglandin, bahan kimia yang diproduksi tubuh seorang perempuan untuk membuat otot-otot rahim berkontraksi. Otot-otot yang berkontraksi membantu mendorong darah keluar melalui vagina perempuan selama menstruasi. Tentu saja kontraksi otot ini lah yang menyebabkan kenyerian pada perempuan. Skalanya pun beragam, ada  yang sedang, namun ada juga nyeri yang sangat hebat dan menyebabkan perempuan pingsan saat merasakannya.

Di sinilah kemudian kebijakan untuk cuti haid menjadi sangat penting bagi perempuan, terutama pada 1-3 hari pertama masa menstruasi.

Penelitian biologi menunjukan bahwa massa otot laki-laki lebih besar dari pada otot massa perempuan, namun harus dipahami, besarnya otot massa ini tidak berkaitan dengan kekuatan ototnya. Artinya sangat mungkin terjadi, bahwa otot yang besar itu justru tidak memiliki daya tahan terhadap kontraksi yang sangat kuat.

Sebuah penelitian yang diterbitkan jurnal Medicine and Science in Sports and Exercise mencatat, perempuan sering diamati lebih tahan terhadap kelelahan, yaitu memiliki daya tahan yang lebih baik daripada laki-laki untuk tugas-tugas dengan intensitas relatif yang sama. Artinya sekali lagi, ukuran otot besar tidak berkorelasi dengan daya tahan dan kekuatannya.

Sebuah penelitian lain dari University of British Columbia membandingkan ketahanan otot dan kelelahan pada kedua jenis kelamin. Saat mereka melakukan tes, para peneliti mencatat data tentang kecepatan, kekuatan, gerakan, dan aktivitas listrik otot mereka.

Hasilnya? Otot yang Besar dan dianggap kuat tidak bertahan lama. Penelitian ini menunjukkan bahwa ada perbedaan dalam daya tahan otot dan kelelahan kinerja antara laki-laki dan perempuan. Perempuan ternyata memiliki daya tahan otot yang lebih besar daripada para laki-laki.

Alat simulator tersebut sesungguhnya sudah lama ada, namun memang tidak banyak yang membeli dan menggunakannya. Para perempuan banyak yang membeli dan meminta suami atau pasangannya mereka untuk mencoba alat simulator tersebut.

Dalam beberapa video juga tampak betapa para suami dan lelaki yang mencobanya, kemudian menjadi lebih empati dan memahami bagaimana sakitnya nyeri kram haid. Beberapa yang mencoba kemudian menuturkan bahwa saat nyeri itu menyengat mereka, mereka  hanya merasakan sakit, serta tidak bisa berkonsentrasi, ataupun melakukan aktivitas harian lainnya.

Salah seorang lelaki yang beberapa kali mencoba alat simulator tersebut bahkan meminta maaf pada seluruh perempuan yang harus beraktivias normal dan manjalani semua rasa nyeri itu setiap bulannya. 

Konten kreator Covington  @thedariuscovington mencoba simulator  itu berulang-ulang sejak bulan Februari 2021, dan memposting setiap kegagalan dirinya menghadapi  simulator rasa nyeri  haid terbut

“Jadi, maafkan aku buat kalian yang mengalami ini semua,” ujarnya.

Pada akhirnya memahami orang lain yang berbeda, seringkali harus dilalui dengan  cara merasakan. Demikian juga bagi para laki-laki yang tidak pernah mengalami rasa nyeri haid, dan menganggap itu persoalan sepele, mungkin harus merasakannya terlebih dahulu.

Yuk, kamu para laki-laki, berani mencoba?

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Disclaimer: Konde.co telah merevisi artikel ini dengan menambahkan satu paragraf pembuka kalimat setelah mendapat masukan terkait artikel ini karena berpotensi menginvalidasi pengalaman personal seseorang atas keragaman gender. Kami memohon maaf dan mengucapkan terima kasih atas masukan tersebut.

Lestari Nurhajati

Dosen dan Researcher Komunikasi London School of Public Relations (LSPR) Communication & Business Institute

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email