Orang Yang Suka Mengusik di Medsos Dan Di Sekitaranmu Itu Tak Patut Dicontoh

Kita sering sebal dengan orang-orang yang suka mengusik kehidupan kita di media sosial atau di sekitaran kita, dan tidak tahu gimana cara membalasnya. Tapi setidaknya kita bisa jadikan mereka contoh untuk seseorang yang tidak perlu kita ikuti perilakunya.

Saya ingin bercerita mengenai tetangga laki-laki yang paling tidak disukai di lingkungan tempat tinggal saya. Percayalah, semua yang sudah pernah berhubungan dengan mereka punya cerita soal kejengkelan ini.

Kisahnya tidak ada yang menyenangkan, begitu pula yang saya alami. Dulu, sebelum pindah ke area tersebut, saya pernah beberapa kali mengunjungi teman yang ngekos di sana. Suatu siang, saya jalan ke sana sambil menghabiskan es krim. Setelah habis es krimnya, saya membuang bungkus dan stik kayunya ke dalam tong sampah terdekat di sekitar tempat itu. Siapa sangka, perbuatan itu berbuah teguran galak dari pinggir jalan:

“Heh, buang apaan itu?”

Tanpa menghentikan langkah, hanya memperlambat, saya menoleh. Dua laki-laki bertampang galak di depan rumah yang ada tempat sampah itu melototi saya. Salah satu berkacak pinggang. Duh, kayak saya barusan buang bom aktif saja!

“Sampah,” jawab saya sekenanya.

“Buangnya ke mana tadi?!”

“Ke situ.”

Saya hanya menunjuk ke tong sampah depan mereka, sebelum berbalik dan berjalan lagi. Entah apa masalah laki-laki itu sampai harus membentak-bentak saya segala. Lebay. Bukannya malah jadi masalah kalau saya buang sampah di jalan atau got?

Saat akhirnya pindah ke daerah itu, saya tahu alasan di balik banyaknya orang yang menjauhi tetangga ini.

Mengusik bak preman yang senang main standar ganda

Terlalu banyak kejadian yang membuat saya akhirnya ikut antipati terhadap mereka (sebagai catatan: saya tidak ikutan memusuhi perempuan dan anak kecil di keluarga mereka, hanya para laki-lakinya saja.)

Satu contoh: pada dini hari di satu akhir pekan, tidur saya juga pernah terganggu karena gedoran keras di pintu. Kulirik ponselku dan menggerutu. Astaga, siapa pula yang menggedor-gedor pintu kamarku pada pukul dua pagi begini?!

Baru saja ingin kumarahi, lamat-lamat kudengar perdebatan di balik pintu kamarku. Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang mengurus kosanku sedang membujuk seseorang agar tidak menggedor-gedor semua pintu. Karena masih mengantuk, kubatalkan niatku untuk tahu apa yang terjadi, dan aku kembali tidur.

Barulah keesokan harinya, PRT kosan bercerita. Singkat cerita, salah satu dari tetangga dari keluarga menyebalkan itu, seorang laki-laki tinggi, besar, dan selalu merengut, sempat masuk ke kosan. Rupanya dia tidak suka ada mobil parkir sembarangan di depan rumahnya. Dia ingin tahu pemiliknya agar bisa menyuruhnya menyingkirkan mobil itu.

“Terus?” tanyaku penasaran.

Sosok di depanku ini langsung manyun terang-terangan. Aku tidak bisa menyalahkannya. Laki-laki itu sama sekali tidak berhak menggedor-gedor banyak pintu kamar kosanku di malam hari, apalagi hanya karena perkara sepele.

“Karena nggak nemu-nemu yang ngaku, akhirnya dia keluar lagi dan menyayat keempat ban mobil itu!”

Hah?? Astaga. “Terus … yang punya mobil reaksinya gimana?”

“Yang punya mobil hanya ke rumah sebelah sebentar, bukan menginap. Ya udah, pasrah. Nyetir pulang dengan kondisi empat ban disayat-sayat.”

Okelah, mungkin wajar bila kita kesal dengan orang yang parkir mobil di depan rumah kita tanpa izin. Apalagi bila kebetulan kita tinggal di gang yang cukup sempit.

Namun, haruskah melakukan dengan cara se-barbar itu? Padahal, keluarga si tetangga ini pernah memonopoli jalan selama dua hari berturut-turut saat ada anggota keluarganya meninggal dunia. Okelah, mungkin dia sudah minta izin dan sebagainya. Terus, kenapa dia tidak bisa bersabar barang beberapa jam saja?

Terlalu banyak bila saya hanya menyebut perilaku tidak menyenangkan tetangga itu di sini. Namun, karena reputasi buruk mereka sudah tersebar di lingkungan itu, mereka sendiri yang akhirnya menuai akibatnya.

Contoh: pernah mereka ingin membuka bisnis kafe kecil. Saya hanya pernah dua kali datang ke sana, itu pun karena kasihan dengan pegawai mereka. Saya pernah melihat pegawai mereka dibentak-bentak dengan kalimat-kalimat kasar, termasuk sebutan isi kebun binatang. Saya tidak heran kalau kemudian pegawai disana banyak yang keluar dan enggan bekerja lagi untuk tetangga itu.

Tidak sampai setahun, usaha itu mandek. Lalu, tetangga itu mencoba membuka rumah besarnya untuk sewa kamar kos. Coba tebak? Ternyata hanya bertahan sebulan, itu pun yang mau hanya satu orang. Cuma sebentar juga lagi, sebelum akhirnya si penyewa satu-satunya pergi. Mungkin sama seperti para tetangga lainnya, tidak tahan sama tetangga itu.

Mengusik secara online juga terjadi

Saya juga banyak melihat orang-orang yang terus  mengusik orang lain di dunia maya atau secara online, terutama sejak adanya fitur screenshot. Banyak influencer yang semula tampil cemerlang dengan segala kelebihan mereka (setidaknya ‘kelebihan’ yang mereka pamerkan di media sosial) kemudian jatuh gara-gara lupa diri. Ya, karena marah dan tidak terima dikritik, mereka kemudian balas mengusik dan menganggu hingga mengancam orang-orang yang mereka anggap sudah merendahkan harga diri.

Okelah, mungkin banyak dari mereka yang masih punya followers setia, banyak juga followers mereka yang langsung di garda terdepan saat membela sang idola. Perkara benar atau salah urusan belakangan. Syukur-syukur bila ikut di-endorse sekalian.

Buat yang suka drama di media sosial, keributan yang berpusat sekitar influencer merupakan tontonan seru di tengah pandemi Covid-19 Delta yang sukses bikin kita susah ke mana-mana.

Tapi, bagi pebisnis yang sedang kerjasama dengan influencer tersebut, ini bukan publikasi bagus. Apalagi bila si influencer kelepasan saat emosi, mengaku-aku produk milik pebisnis aslinya sebagai milik mereka dalam pesan pribadi kiriman mereka untuk mengancam orang yang tidak mereka sukai. Tahu sendiri ‘kan, hari gini Direct Message/DM pun tidak aman dari screenshot dan bisa disebar sesuka hati?

Okelah bila si pengirim pesan merasa dicurangi dan memutuskan untuk menggunakan pasal karet UU ITE sebagai bagian dari intimidasi lanjutan. Pada kenyataannya, dia sendiri yang telah merundung dan mengancam, serta berbohong soal kepemilikan usaha hanya untuk mengintimidasi lawan bicara. Tidak hanya diputus kontrak oleh pemilik usaha yang merasa brand mereka tercemar oleh ulahnya di media sosial

Jangan dikira pemilik usaha tersebut tidak akan bercerita ke mana-mana. Bahkan, di era serba keterbukaan ini karena akses digital, mereka tidak perlu banyak cerita. Banyak perusahaan lain yang akan bebas membaca jejak digital Anda, lalu berpikir ribuan kali sebelum menawarkan kerjasama dengan Anda.

Saya tidak sedang berkhotbah, hanya memaparkan kenyataan. Bolehlah merasa berkuasa karena sedang punya uang banyak atau merasa kuat hingga berani mengancam yang lemah. Pada kenyataannya, merundung dan mengancam itu tidak pernah keren, baik di dunia nyata maupun maya.

Yang diam saja dan tidak terlihat langsung melawan balik belum tentu lemah. Kebanyakan, perlawanan mereka adalah bercerita ke sebanyak mungkin orang sebagai peringatan tentang perbuatan jahat.

Tinggal tunggu tanggal mainnya. Mungkin terlalu naïf bila berharap para perundung seperti tetangga saya dan si influencer langsung sadar seketika. Tapi, setidaknya kita bisa jadikan mereka contoh untuk seseorang yang tidak perlu kita ikuti perilakunya.

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Ruby Astari

Sehari-hari bekerja sebagai translator dan author. Ia juga seorang blogger dan banyak menulis sebagai bagian dari ekspresi dirinya sebagai perempuan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email