Perdebatan Netizen Dan Michelle Halim Atas Victoris’s Secret; Menghadapkan Perempuan VS Perempuan

Perdebatan di media sosial antara Netizen dan selebgram, Michelle Halim atas perubahan pemilihan model perempuan di Victoris’s Secret, justru menghadapkan perempuan versus perempuan. Padahal industri (Victoria’s Secret) memetik keuntungan dalam perdebatan seperti ini

Perdebatan antara netizen yang melakukan pembelaan terhadap Victoria’s Secret dan memaki selebgram, Michelle Halim justru menghadapkan perempuan versus perempuan

Selebgram Michelle Halim menjadi perbincangan netizen setelah mengkritik pergantian model di Victoria’s Secret.

“I feel butterflies setiap kali nonton VS Show, kagum sampai bisu bukan malah ngambek insecure just because i don’t look like them. Some people berharap ada plus size VS Angels, jujur aja kalau aku CEOnya mending bubarin show. Daripada merubah image dan standars VS Angels,” tulis @micellehalim

Ia merasa kecewa dengan model terbaru brand pakaian dalam perempuan Victoria’s Secret yang dianggap tidak sesuai dengan image model cantik dan seksi yang diyakini Victoria’s Secret selama ini: blondy, putih, tinggi, langsing.

Sejak Juni 2021, Victoria’s Secret mengganti para model seksinya dengan atlet, pemain film, model dengan ukuran tubuh size plus dan aktivis yang memberikan wajah baru dan beragam. Mereka  sudah tidak menggunakan dan meninggalkan image cantik versi lama.

Komentar Michelle Halim ini kemudian dianggap melakukan body shaming pada perempuan yang menjadi model Victoria’s Secret. Netizen di media sosial kemudian memberikan komentar soal perdebatan ini. Banyak yang melakukan kritik dan cacian pada Michelle Halim karena dianggap tak mau meninggalkan image cantik dan seksi versi lama, dan banyak yang mengapresiasi Victoria’s Secret yang mulai menampilkan wajah perempuan yang beragam dan meninggalkan image cantik versi lama

Perdebatan antara netizen yang melakukan pembelaan terhadap Victoria’s Secret dan memaki Michelle Halim ini justru menghadapkan perempuan versus perempuan. Mereka terjebak dalam norma-norma soal image cantik lama dan image perempuan masa kini yang sedang dimainkan industri (Victoria’s Secret)

Nur Aini, aktivis media dan lulusan kajian gender Universitas Indonesia melihat ada 2 persoalan disini. Pertama, perdebatan ini menghadapkan perempuan versus perempuan yang menguntungkan industri. Dan yang kedua, netizen dan media menjadi tidak kritis melihat bahwa perdebatan ini seperti melegalkan bahwa tubuh perempuan layak diganti image nya setiap saat, layak diperdebatkan, layak dihadap-hadapkan. Padahal ini merupakan cara-cara lama yang selalu dilakukan untuk mendisiplinkan tubuh perempuan

“Perempuan saling membandingkan, ada yang bilang cantik itu kurus di masa lalu, dan sekarang sudah berubah, tidak semua itu cantik loh. Ini seperti menormalisasi bahwa tubuh perempuan boleh diubah-ubah image nya. Media dan netizen di media sosial tidak melihatnya secara kritis, padahal sejatinya yang diuntungkan adalah Victoris’s Secret sebagai industri yang melihat perdebatan ini.”

Padahal Victoria’s Secret ataupun perusahaan kecantikan lainnya selama ini selalu bertumpu pada pasar dan trend, apa kata pasar, jika pasar berubah, mereka akan menggantinya seperti apa kata pasar.

“Jika saat ini pasar mengatakan bahwa kecantikan atau image perempuan telah berubah, maka perusahaan kecantikan juga akan mengubah image nya, tujuannya cuma satu, agar produknya laku.”

Pernyataan ini sekaligus menandaskan pada klaim yang menyatakan bahwa industri seperti Victoria’s Secret telah berubah. Karena Nur Aini percaya bahwa industri tak akan pernah berubah, karena yang berubah hanyalah trend. Perusahaan atau industri akan berubah mengikuti trend. Mereka hanya akan melihat apa yang sedang trend, jika trend nya adalah perempuan cantik itu yang seksi, putih, dan langsing, maka mereka juga akan menampilkan modelnya seperti itu, tapi ketika trend nya adalah perempuan cantik itu perempuan dengan wajah beragam, maka mereka akan menyesuaikan dengan trend yang ada

“Ketubuhan perempuan jadi berubah setiap saat, seperti saat ini jadi beragam, perempuan harus punya body positivity. Ini seperti meredefinisi ulang soal tubuh perempuan, tantangannya jadi banyak untuk perempuan, sudah ada aturan dan peran gendernya, perempuan harus terus menyesuaikan, untuk menjadi subyek yang ideal itu seperti apa, lalu pengaturan tubuhnya seperti apa, ini yang kemudian menyulitkan perempuan karena harus terus berubah mengikuti trend pasar perempuan,” kata Nur Aini

Nur Aini mencontohkan, perubahan soal image perempuan ini bisa dilihat sejak zaman revolusi industri pertama dimana dulu image soal perempuan cantik adalah yang berdada dan berpinggul berisi. Tetapi ketika mulai muncul perusahaan kecantikan yang masif dan perusahaan akan mengeluarkan produk pelangsing, mengecilkan badan, dll, maka image wajah cantik berubah menjadi boneka Barbie.

Perubahan image Barbie ini kemudian menggejala di seluruh dunia, dengan diproduksinya baju, model rambut, gaya perempuan yang khas, hingga mainan anak.

“Dulu Victoria’s Secret itu menampilkan angel yang cantik dan blondy, tinggi, langsing, perut langsing, sekarang telah berubah karena trend nya berubah.”

Media mempertentangkan yang viral: mesin produksi misogini

Aksi saling lempar hujatan di kolom komentar ini kemudian memang dilirik oleh media massa. Menurut pengamat media massa dan akademisi komunikasi, Putri Aisyiyah Rachma Dewi yang juga penulis buku ‘Literasi Media Sketsa Khalayak di Hadapan Masyarakat’ ini berpendapat, bahwa media justru memfasilitasi perseteruan perempuan antar perempuan terus terjadi. Ini terjadi karena media adalah produk dari budaya misoginis.

Terlepas dari isu yang sedang diperdebatkan, media massa memang nyaris menghilangkan masalah mendasar yang mengawali pertikaian, dan mengglorifikasi perseteruan antar perempuan. Baik isu individual maupun sistemik, media lebih memilih mengarahkan spotlight pada perempuan lawan perempuan. Media juga membingkai argumentasi perempuan seperti pertandingan.

“Sebenarnya sudah bisa dibaca ya, jika ada kasus-kasus seperti ini, sudah bisa ditebak bagaimana media akan bersikap dan bagaimana media akan mengambil angle kepenulisan,” ujarnya pada konde.co

“Jika saya amati, media massa malah membuka ruang untuk mem-bully Michelle, jadi ketika Michelle melakukan body shaming, orang yang geram terhadapnya kemudian melakukan hal yang sama, dan ini jadi seperti lingkaran setan ya, gak akan habis,” lanjut Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya itu.

Putri Aisyiyah berpendapat, pola yang berulang pada bagaimana media massa membingkai perempuan, adalah akibat dari budaya yang membentuk media massa.

“Media massa inikan dibentuk dan membentuk budaya, budaya kita adalah budaya misoginis, dimana perempuan selalu menjadi sumber keburukan, maka apa yang kita konsumsi saat ini adalah cerminan budaya di tengah masyarakat kita,” terangnya.

Pola pemberitaan seperti ini bukan satu dua kali terjadi, ingatan kita barangkali masih segar dengan kasus bu Dendi yang sempat viral di sosial media, dan kemudian dieksploitasi habis-habisan oleh media massa. Video bu Dendi mempermalukan perempuan lain kemudian diputar ulang terus menerus di televisi nasional.

Belum lagi video viral tentang anak SMA yang melabrak seorang selebritis di pusat perbelanjaan. Media seperti sangat keranjingan menghadapkan sesama perempuan head to head, tanpa mengupas permasalahan dasar, dan mengabsenkan laki-laki dari konflik tersebut.

“Dalam beberapa kasus seperti pemberitaan masalah yang personal seperti bu Dendi, laki-laki selalu diposisikan sebagai korban, atau seseorang yang sedang khilaf karena ulah perempuan,” papar Putri.

Menurutnya, media yang bisa keluar dari pola pemberitaan yang mainstream dan mulai menggunakan angle peliputan ramah gender, harus memiliki skill khusus.

“Karena masalah yang ada di media ini sistemik, maka jika ingin keluar dari lingkaran itu, sebuah media harus memiliki skill khusus, mulai dari jurnalis yang ada di lapangan, editornya, hingga pemilik media, dalam artian mereka harus paham mengenai gender, teredukasi dengan baik tentang kesetaraan dan lain sebagainya,” lanjutnya menjelaskan.

Namun, bukan berarti tak ada satupun jurnalis yang paham dengan urgensitas gender di tengah masyarakat. Akan tetapi tantangan yang mereka hadapi lebih besar karena mereka adalah minoritas di internal medianya.

“Ada satu waktu di Kota Surabaya, ada warung bakmi yang lagi viral karena pakai nama janda, salah satu jurnalis yang membuat tulisan tentang itu, saya wawancara karena artikelnya yang paling banyak diklik di google, dia mengaku malu dengan artikel yang jadi viral tersebut, satu karena judulnya berbeda jauh, hasil editing juga sangat jauh dari apa yang ia tulis di awal,” cerita Putri.

“Dia sadar bahwa artikel itu tidak layak, namun dia juga tidak bisa melawan karena nasibnya tergantung dengan media tersebut, tapi justru karena artikel itu ia lalu dipuji di dalam internalnya, karena dari bertahun-tahun berkarir sebagai jurnalis, baru kali itu artinya viral dan paling banyak diklik,” pungkasnya.

Perubahan media massa bukan perkara mudah, namun tidak ada yang tidak mungkin. Untuk mencapai cita-cita itu, dibutuhkan kerjasama yang solid antara masyarakat, pekerja media, dan pemilik media, demi ruang aman bagi semua.

Nur Aini juga melihat, harusnya media memberikan perspektif mengapa image perempuan bisa berubah, definisi cantik yang berubah, media seharusnya mengkritisi ini, jangan hanya sekedar menaikkan isu dan viral.

“Selain itu dari kacamata marketing, ada perubahan norma tubuh, perubahan ini kemudian yang ditangkap oleh bisnis. Victoria’s Secret ini sekedar menangkap selera masyarakat yang berubah, ini tidak ditampilkan pemberitaan di media, media tidak kritis, hanya menuliskan, membandingkan dan menyandingkan.”

Maka, kekuatan kritisnya ada di pembaca. Pembaca harus sadar soal image yang menormalisasi, misalnya soal standar kecantikan, jangan sampai terjebak dalam situasi pasar yang tidak kritis

(Foto/ ilustrasi: Pixabay)

Cempaka Wangi

Reporter Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email