PRT Isoman di Rumah Petak; Bagaimana Kami Mengatasi Ini?

Para Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang terkena Covid melakukan isolasi mandiri di rumah petak kecil yang berhimpitan diantara rumah kontrakan di kampung-kampung di Jabodetabek: bagaimana kami mengatasi ini?

Tinggal di rumah petak kontrakan 50 meter memang bukan sesuatu yang mudah ketika kita harus melakukan isolasi mandiri atau isoman. Walaupun saya beruntung bisa mengontrak rumah petak dengan 2 kamar tidur, ada dapur dan kamar mandi, juga ruang tamu yang kecil.

Saya tidak membayangkan jika harus isoman dan hanya punya satu kamar tidur dengan beberapa orang penghuni, karena kondisi ini dialami oleh hampir semua Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja di Jabodetabek.

Jala PRT pernah mendata bahwa 97% PRT di Jakarta kontrak di rumah petak yang sangat berhimpitan. Dalam kondisi Covid ini, Jala PRT juga menemukan para PRT yang masih sulit mengakses obat-obatan dan vitamin.

Nama saya Muliawati, ibu saya bernama Sumi yang bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Saat ini ibu saya sedang terkena Covid.

Sejak terkena Covid ini, ibu saya tidak bekerja sudah 2 minggu. Kegiatannya hanya tidur di kamar tidur belakang. Saya, suami dan 2 anak tidur di kamar depan, kami tinggal berlima dengan suami dan 2 anak saya. Sehari-hari saya berjualan nasi bakar yang dititipkan di warung-warung.

Yang paling terasa ketika ada yang kena Covid adalah ketika menggunakan kamar mandi. Jadi kalau ada anjuran bahwa kami harus pisah kamar dan kamar mandi, ini agak susah dilakukan oleh para PRT yang tinggal di rumah petak yang hanya punya 1 kamar dan kamar mandi.

Walau ada 2 kamar tidur, tapi kami hanya punya 1 kamar mandi. Maka kami menggunakan kamar mandi secara bergantian. Setelah digunakan ibu, kamar mandi akan kami bersihkan dengan karbol. Ini juga saya lakukan dengan hati-hati agar tidak membuat ibu tersinggung karena kami juga harus menjaga perasaan ibu.

Dalam sehari, kami bisa membersihkan kamar mandi berkali-kali, intinya setiap digunakan ibu, setelah itu kami bersihkan lagi

Demikian juga dengan mencuci baju, ini saya lakukan dengan mengambil baju dengan sarung plastik. Ibu juga menggunakan alat makan sendiri, sebelum dicuci, semua baju dan barang yang dipakai harus disiram air panas terlebih dahulu.

Di rumah sekecil ini, kami juga berusaha agar jangan sampai berpapasan. Di saat ibu saya di belakang, kita pindah ke depan, setelah diberi disinfektan semua, baru kami akan pergi ke belakang.

Sudah 2 minggu ibu saya kegiatannya hanya tidur dan makan karena harus banyak istirahat. Sekarang ibu sudah bisa berjemur dan kami mengatakan pada tetangga sekitar bahwa ibu kami terkena Covid. Dengan jarak rumah yang sangat berhimpitan, kami harus terbuka dengan tetangga jika ada anggota keluarga yang terkena Covid. Ini juga karena di sekitar rumah kami banyak sekali yang terkena Covid

Selama Covid ini, untuk soal pengeluaran jangan ditanya. Karena selama ibu terkena Covid, saya juga tidak berjualan nasi karena takut menularkan tetangga. Pengeluaran juga jadi lebih banyak atau 4 kali lipat dari pengeluaran harian, seperti kami harus menyediakan buah tiap hari, biasanya tidak harus ada buah, sekarang harus ada buah biar ibu cepat sembuh, buah juga tidak cukup 1 macam, harus 2 macam biar ibu tidak bosan.

Yang lainnya, banyak uang yang kami keluarkan untuk membeli disinfektan, karbol, hand sanitizer, sabun.

Suami saya bekerja sebagai driver. Karena saya tidak berjualan dan harus mengeluarkan uang lebih, maka kami kemudian mengambil uang tabungan, semoga kondisi ibu lebih baik setelah ini

Ibu saya sudah lama bekerja sebagai PRT. Ia bekerja di rumah majikan dan tidur disana dari Senin-Sabtu. Ibu selalu pulang hari Sabtu dan kembali bekerja lagi Senin pagi. Selama ini ibu tidak pernah kemana-mana kalau libur, hanya sesekali beli jajanan di sekitar rumah untuk anak-anak.

Dua minggu lalu ketika hari Sabtu, pulang dari rumah majikan, ibu saya pulang kerja dan saya jemput. Waktu itu ibu demam dan sakit kepala, kita tidak berpikir macam-macam karena ibu hanya meriang, lalu dikerok. Sampai hari Minggu kondisi masih bagus, hanya demam dan sakit kepala saja.

Senin ibu minta istirahat, majikannya minta ibu untuk langsung Swab dan Senin tidak usah masuk kerja. Hasil Swab positif, lalu Senin saya panggil dokter karena tidak bisa membawa ibu ke klinik itu. Dari situ ibu ketahuan positif Covid dan langsung isoman. 2 hari kemudian batuk dan pilek sampai 5 hari.

Tanggapan majikan ibu bagus karena majikan lalu mengirim jamu, telor dan vitamin dan diberikan libur sampai sembuh. Dan untuk obat dan dokter akan diganti oleh majikan.

Harapan saya, ibu saya cepat sembuh, saat ini sudah 2 minggu ibu sakit, walaupun belum pulih benar karena ibu sudah berumur 58 tahun, tapi kondisinya sudah membaik.

“KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co dengan Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Muliawati

Sehari-hari Berjualan, Anak Seorang Pekerja Rumah Tangga (PRT)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email