Relasi Toksik: Keinginan Mencintai Yang Justru Mempersulit Diri Sendiri

Walaupun melibatkan perasaan, tapi jangan lama-lama mempertahankan hubungan yang toksik, karena keinginan mencintai malah jadi mempersulit diri sendiri kalau terjebak dalam relasi toksik

“Dalam hubungan itu pasti ada sedih dan bahagianya. Tapi kamu juga harus tahu, mana yang lebih sering datang dalam hubunganmu? Sedih, atau bahagianya? Sebab, sebaik-baiknya hubungan adalah yang membuat kamu dan pasanganmu bahagia, bersama.”

Saran itu keluar begitu saja dari mulut saya selepas seorang kawan berbagi kisah romansanya. Saat itu, saya tidak berani melabeli bahwa hubungan yang dijalani kawan saya itu tidak sehat, atau yang kini lebih familiar disebut sebagai toxic relationship. Saya pikir, akan sangat lancang jika saya ikut mencampuri  hubungan orang lain, terlebih saat itu pemahaman saya mengenai toxic relationship belum begitu dalam.

Tapi saran itu memang keluar karena dari pengalaman relasi saya dengan pasangan selama ini. Inilah pengalaman saya: suatu ketika, saya jatuh cinta dengan seorang laki-laki. Laki-laki itu adalah sahabat saya sendiri. Seperti kebanyakan orang yang sedang jatuh cinta, saya merasa dunia berputar mengelilingi kami, dan kehidupan di luar itu, hanyalah daun-daun kering yang berserakan di pekarangan.

Cinta memang tumbuh karena terbiasa bersama. Mungkin itulah kalimat yang cocok untuk menggambarkan hubungan kami. Sema mengalir begitu saja seiring percakapan-percakapan kami di café dan kedai kopi. Menjalani hidup bersama dengan orang yang bisa diajak berbagi berbagai hal adalah impian bagi sebagian besar orang. Dan saya, seorang perempuan yang saat itu baru menginjak usia duapuluh satu, adalah satu di antara sebagian besar orang itu.

Satu, dua, tiga bulan terlewati tanpa masalah-masalah yang berarti dan saling membahagiakan. Saya kira, kami sudah saling mengenal satu sama lain mengingat hubungan kami berangkat dari sebuah persahabatan.  Tapi saya lupa, beberapa hal bisa berubah, beberapa yang lain tidak, dan kadang memang kita tidak pernah benar-benar mengenal pasangan kita sampai hal-hal buruk terjadi.

Sat itu saya mulai merasa memiliki dia. Tiba-tiba saya merasa cemas jika dalam beberapa jam ia tak mengabari. Sementara dia, tetap melenggang pada kebebasannya. Ada satu waktu saat saya merasa butuh ditemani, tapi ia malah menghilang begitu saja. Awalnya saya mencemaskan keberadaannya, lalu kecemasan-kecemasan itu memunculkan pikiran dari segala kemungkinan kenapa ia tak ada. 

Berjam-jam menunggu, yang saya dapatkan hanyalah sebuah pesan singkat, “aku lagi nongkrong dengan teman-teman.”

Rasa cemas yang saya rasakan di awal mendadak berubah menjadi rasa kesal. Jika saja ia bilang dari awal, jadi saya tidak usah menunggu, tidak usah mengubah rasa cemas dan takut, segala pikiran yang mengada-ada mungkin tidak akan muncul dalam kepala. Setelah amarah itu mereda, baru saya menyampaikan apa-apa saja yang saya rasakan padanya.

“Komunikasi yang penting. Tanpa komunikasi, hubungan ini akan hancur perlahan. Sekalipun kita merasa sudah saling mengenal.”

Salah satu penyebab sebuah hubungan menjadi toxic karena tidak terjalinnya komunikasi yang baik, karena hubungan adalah tentang kerjasama 2 pihak. Saat ada dua orang yang terikat, dua orang dengan pemikiran dan egonya masing-masing dipersatukan, tentu akan menimbulkan banyak perselisihan. Maka dari itu, perlu dicari titik temu agar bisa saling mentoleransi. Caranya kembali lagi ke permasalahan di awal, yaitu komunikasi.

Tapi namanya orang sedang jatuh cinta, kadang sulit untuk memikirkan hal-hal logis seperti itu. Sebab yang saya tahu (atau mungkin kita, jika kamu juga turut merasakan), to die by his side is such heavenly to die, bukan begitu?

Tidak cukup sampai di situ, permasalahan-permasalahan dalam hubungan saya mulai muncul satu persatu ke permukaan setelah itu. Saya mulai tahu ada sifat-sifat pasangan saya yang tidak pernah saya temui saat menjadi sahabatnya dan ini mulai terendus bak aroma kotoran kucing di tengah taman bunga. Manipulatif, suka berbohong, suka flirting dengan lawan jenis, adalah beberapa di antaranya. Saya pikir, selama itu tidak menyangkut kekerasan fisik, mungkin masih bisa ditoleransi, pikir saya waktu itu

Dengan segala keyakinan bahwa cinta butuh pengorbanan, saya memilih bertahan. Meski keyakinan itu bertabrakan dengan kepercayaan diri yang semakin menurun. Saya mulai mempertanyakan eksistensi diri. Bertanya-tanya apakah saya pantas dicintai oleh seseorang. Apakah saya sebegitu dianggap bodohnya sehingga mudah untuk dibohongi. Apakah di luar sana ada laki-laki lain yang lebih baik dan bisa menerima saya apa adanya. Apakah saya tidak seberharga itu. Ketakutan-ketakutan itu justru membuat saya semakin enggan untuk pergi.

Pada titik itu saya sadar, ternyata ini semua tidak sesedarhana “padahal kan tinggal pergi saja, apa susahnya?.”

Akhirnya saya merasakan apa yang mereka rasakan sebagai relasi toksik. Terjebak dalam hubungan yang mengharuskan saya membuat pilihan, antara mempertahankan ego dan tetap memilikinya atau memilih logika dan melepaskannya perlahan. Keduanya sama-sama sulit. Keduanya sama-sama akan membuat sakit. Kenapa ya persoalan hubungan pada ujungnya selalu hanya tentang pergi atau bertahan? Jika ada opsi lain, saya ingin memperbaikinya saja. Tapi memperbaiki hubungan yang sudah terlanjur toxic tentu akan membutuhkan banyak waktu.

Kadang untuk dapat melihat sesuatu dengan jelas, kita perlu mundur sedikit ke belakang. Melihat terlalu dekat bisa jadi membutakan mata. Begitu juga orang-orang yang terjebak dalam hubungan toksik. Selama masih ada di dalamnya, bisa jadi ini akan bias karena batas antara menjadi baik dan menjadi bodoh hanya terpisahkan selaput tipis.

Pada akhirnya, pilihannya selalu ada di kita, apakah mencintai seseorang berarti harus rela menyakiti diri sendiri? Apakah sesuatu yang kita dapat itu sepadan dengan harga yang harus dibayar? Saya pikir, dunia ini sudah cukup rumit untuk ditinggali dengan permasalahan-permasalahannya yang banyak, jadi jangan memperumitnya dengan mempersulit diri sendiri.

Sejak itulah saya jadi bisa memutuskan mana yang harus dipilih karena mempertahankan hubungan yang toksik tak akan lama bertahan jika tak diselesaikan. Dr. Lillian Glass, seorang pakar komunikasi dan psikologi yang berbasis di California mengatakan, dia menciptakan istilah dalam bukunya Toxic People (1995), mendefinisikan toxic relationship sebagai “hubungan apapun [antara orang-orang yang] tidak saling mendukung, di mana di dalamnya terdapat konflik, salah satu berusaha untuk merusak yang lain, adanya persaingan di dalam hubungan, ada rasa tidak hormat dan kurangnya kekompakan.”

Sementara tiap hubungan mengalami up and downs, Glass mengatakan bahwa toxic relationship secara konsisten terasa tidak menyenangkan dan menguras tenaga bagi orang-orang yang ada di dalamnya, sampai-sampai momen negatif lebih banyak dibanding dengan momen yang positif.

Berbekal pengamatan dari lingkungan sekitar, sebenarnya ada banyak sekali variabel yang bisa menjadikan sebuah hubungan dikategorikan sebagai hubungan yang toxic. Tapi dari banyaknya perbedaan itu, saya bisa melihat satu persamaan, orang yang berada di dalam hubungan toxic tidak berani untuk mengambil pilihan.

Walaupun melibatkan perasaan, tapi bagi saya, jangan lama-lama mempertahankan hubungan yang toksik, karena relasi toksik harus cepat diakhiri, karena keinginan mencintai malah jadi mempersulit diri sendiri

Artikel ini memenangkan juara 3 Lomba Pacaran Toksik yang diselenggarakan Konde.co lewat program Konde Literasi Digital Perempuan (KEDIP) dalam Acara Kartini’s Day 2021

Shafira Anindyanari

Penulis yang Masih Terus Berproses

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email