Relasi Toksik Tak Layak Dipertahankan Karena Renggut Otoritas dan Kewarasan

Relasi toksik tak layak dipertahankan: karena kita berhak bahagia, berhak dapatkan hal-hal terbaik, pasangan yang baik, dan perlakuan yang baik.

Siang itu, Bandung panas. Blus hitam pas badan yang saya kenakan rasanya terlalu tebal. Rambut panjang saya juga jadi penghalang lainnya.

Begitu masuk ke ruang kelas gabungan yang berisi 60 orang, semakin sesak lah rasanya. Tapi yang bikin lebih sesak bukan karena AC di ruangan mati, melainkan ucapan pacar saya sesampainya kami di kantin fakultas tadi

“Tadi si Anto ngomongin kamu. Katanya, punggung kamu kelihatan pas lagi berdiri, bikin dia enggak fokus,” katanya dengan intonasi tinggi.

Saya terdiam. Bukan karena sedih. Tapi karena saya tidak habis pikir, kenapa emosi mantan pacar saya tiba-tiba meledak pada saya? Padahal, salah saya di mana? Saya korban pelecehan seksual, kok, malah saya yang disalahkan?

“Terus, kamu diemin aja? Kalau sampai kesel gitu, kenapa kamu enggak tegur dia?,” tanya saya.

“Ya, salah kamu sendiri. Kamu pake baju terbuka gitu buat apa sih kalau bukan buat dilihat cowok-cowok lain?,” tukasnya.

Tentu saya membela diri. Perdebatan berlangsung sengit, antara diri saya yang dilecehkan dengan dia yang seharusnya membela atau menenangkan saya, malah balik menyalahkan diri saya.

Ini bukan hanya terjadi satu kali. Tapi selalu, berkali-kali selama saya menjalin hubungan dengannya. Bukan hanya soal pakaian, tapi apa pun persoalannya, siapa atau apa pun biang masalahnya, selalu saya dia dalam posisi menyalahkan.

Diajak berdiskusi untuk mencari jalan tengah adalah sebuah kemustahilan, karena itu malah berakhir dengan pertengkaran, dan dia yang memaksa saya untuk mengalah dengan alasan:

“Kamu lupa, aku tuh sakit (mental). Aku mati aja deh kalau gitu.”

Sejak awal, saya selalu sadar bahwa setiap manusia memiliki hak untuk memutuskan apa yang ingin dia lakukan di dalam hidupnya, selama itu tidak merugikan orang lain. Saya juga selalu mempercayai bahwa tidak ada manusia manapun yang berhak menyakiti manusia lain. Tapi entah mengapa, semua nilai itu tak tampak nyata dan bisa dipercaya dulu.

Saya masih naif, berniat menyembuhkan seseorang yang terluka karena masa lalunya dengan kehadiran saya. Tapi ternyata kehadiran saya tidak cukup. Apa yang sudah saya lakukan selama ini tidak pernah cukup

Dalam setiap perdebatan, dia selalu menempatkan saya sebagai pihak yang salah dan dia adalah pihak yang tersakiti, sehingga saya selalu harus mengalah dan mengikuti kemauannya.  Dia juga selalu menjadikan kondisinya yang depresi—self-diagnosed, belum pernah dinyatakan oleh psikolog mana pun—sebagai alasan untuk memaksa saya mengikuti kemauannya. Ancaman bahwa dia akan bunuh diri bila kemauannya tak dituruti tentu berulang kali saya dapatkan.

Sebagai seseorang yang memiliki kepedulian besar pada isu kesehatan mental, tentu saja saya berempati dan berusaha menolongnya. Tapi, perlahan akhrinya saya tersadar, mengapa berusaha menyembuhkan orang lain justru malah balik membuat saya sakit? Perlahan, akhirnya saya menyadari bahwa saya telah memilih orang yang salah untuk menjadi pasangan saya.

Bila bisa dijelaskan, saya tidak akan menyebut bahwa kami dulu pernah berpacaran, hubungan seharusnya berjalan dua arah. Tapi hubungan itu dulu, hanya berisi tuntutan dari satu pihak yang memaksa agar pihak lainnya mengikuti dia. 

Rantai Manipulasi dalam Hubungan Toksik

Mustahil mendefinisikan toxic relationship atau hubungan toksik dengan satu-dua kalimat secara absolut. Tapi, menurut pengalaman saya, berbagai bentuk sikap, kata-kata, dan gestur bisa mencerminkan sebuah hubungan yang toksik. Sesederhana, apakah kamu nyaman datang kepada pasanganmu ketika kamu sedang merasa tertekan atau terpojokkan? Apakah dia adalah pendengar yang baik dan tidak menghakimimu? Apakah dia adalah seseorang yang memandang dan memaknai kehadiranmu sebagai mitra yang setara dengannya, bukan sebagai alat pemuas ego atau narsismenya belaka?

Coba renungkan dan tanyakan pada dirimu sendiri. Bila ternyata kamu tidak menemukan perasaan aman ketika berdekatan dengan pasanganmu, besar kemungkinan kamu memang berada di dalam hubungan yang toksik.

Hubungan selalu melibatkan dua pihak, dua kepala yang berbeda. Ditambah dengan fakta bahwa pada dasarnya manusia adalah makhluk ego. Adalah sebuah keniscayaan perdebatan terjadi karena perbedaan pendapat dan keinginan, semua orang juga memiliki masa lalu dan luka-lukanya sendiri.

Siapa pun yang memutuskan untuk menjalin hubungan tentu harus menyadari itu. Tapi tidak ada satu pun hal yang bisa dijadikan pembenaran untuk kita menyakiti orang lain dan melanggar otoritas dirinya. Kompromi dan diskusi tetap memainkan peran terpenting dalam penyelesaian konflik dalam hubungan untuk menemukan jalan tengah. Tapi, bagi para pasangan toksik, adanya perbedaan keeinginan ini justru merupakan celah bagi mereka untuk memaksa pasangan mengikuti kemauan mereka, lalu menjatuhkan pasangan mereka bila kemauannya tak dituruti.

Itu semua merupakan pelarian yang mereka lakukan setelah gagal mengelola emosi dan perasaan. Para pasangan toksik cenderung melampiaskannya dengan berusaha menaklukkan orang lain yang lebih lemah, dalam hal ini pasangannya. Hal ini lah yang menyadarkan saya, bahwa hal pertama yang harus kita pelajari sebelum menjalin hubungan dengan seseorang adalah bagaimana pandangan dia tentang kesetaraan gender dan otoritas diri tiap-tiap manusia. Pasangan yang toksik akan memanipulasi pasangannya dengan berbagai alibi, sehingga kita menyerahkan sebagian atau bahkan seluruh otoritas diri kita padanya.

Menurut peneliti psikologi hubungan, Jaclyn Cravens, Jason Whiting, dan Rola Aamar dalam penelitian ‘Why I Stayed/Left: An Analysisi of Voices of Intimate Partner Violence on Social Media’ (2015), para pasangan yang toksik melalukan praktik manipulasi terhadap para pasangan yang juga korbannya, sehingga cara pandang korban tentang kepercayaan diri mereka dan konsep hubungan yang sehat itu terdistorsi. Kemudian, hadirlah perasaan bergantung pada pasangan akibat kepercayaan semu bahwa dialah satu-satunya entitas yang bisa memberi harga pada diri kita.

Hal inilah yang membuat banyak korban hubungan toksik sulit atau bahkan memilih untuk tidak meninggalkan pasangannya. Misalnya, dalam beberapa kasus, perempuan yang berada di dalam hubungan toksik sulit keluar dari hubungan tersebut karena ia merasa dan harus mempercayai bahwa hubungan memang selalu menyakiti pada akhirnya. Dia juga memaknai bahwa menyayangi pasangannya berarti diharuskan untuk mengalah dan memberikan maaf yang takkan pernah habis, sesering apa pun pasangannya menyakiti dia–sebuah nilai yang ia contoh dan pelajari dari hubungan ayah dan ibunya.

Sebagaimana yang disampaikan Byrd, dkk. dalam penelitian berjudul ‘Human services trainees’ conceptualization of dating relatioships: Implications for counseling adolescents and young adults’ (2009) bahwa seseorang dengan kepercayaan diri yang rendah cenderung bertahan di dalam hubungan yang toksik dan menyiksa mereka secara fisik mau pun emosional karena mereka mempercayai bahwa mereka berhak diperlakukan buruk oleh pasangannya.

Belum lagi, orang-orang yang toksik ini akan mengisolasi pasangannya dari dunia luar, seperti teman-teman, bahkan keluarga terdekatnya. Korban akan merasa atau bahkan benar-benar terjebak, sendirian, dan tidak bisa mendapatkan bantuan.

Berdialog dengan diri sendiri, rebut kembali kepercayaan diri

Saya pernah benar-benar terpuruk karena semua itu. Setiap hari saya mempertanyakan, hal apa yang akan jadi bahan pertengkaran? Hal apa lagi dari diri saya yang akan dia permasalahkan? Apakah sebagai manusia saya benar-benar sehina itu? Apakah benar bahwa semua ini terjadi karena kesalahan saya?

Hal yang akhirnya membuat saya berhasil bangkit dan pergi dari hubungan itu adalah, karena kesadaran saya sendiri bahwa saya tidak berhak diperlakukan seperti ini.

Pada tiap malam-malam yang panjang, saya berdialog dengan diri saya sendiri, mempertanyakan jawaban dari berbagai perubahan cara pandang saya tentang kehidupan. Saya cenderung takut mengemukakan apa yang saya rasakan dan pikirkan. Saya jadi sering sakit, padahal saya tergolong sebagai orang yang jarang sakit.

Dan entah bagaimana, saya pun merasa jauh dengan teman-teman dan Ibu saya selama berpacaran dengannya. Saya jadi jarang sekali bicara, termasuk pada teman-teman mau pun saat diskusi di dalam kelas. Padahal saya adalah orang yang cenderung aktif mengemukakan pendapat, sekalipun itu adalah buah pikiran yang mempertanyakan norma-norma sosial.

Malam itu, hati saya akhirnya terketuk sendiri, menyadarkan saya bahwa otoritas diri saya sebagai manusia dan sebagai perempuan telah dicederai oleh orang terdekat dengan saya. Saya berusaha mengkaji ulang, apakah saya bahagia bersama dengannya selama satu tahun terakhir? Ternyata, jawabannya tidak. Saya tidak pernah bahagia, karena saya selalu ditekan dan dituntut untuk menjadi alat pemuas egonya. Celah sekecil apapun bagi saya menjadi diri saya sendiri berusaha dicurinya, dengan dalih bahwa bila saya menyayanginya, saya harus menuruti apa yang dia mau.

Berat rasanya selama ini untuk menyebut bahwa hidup saya adalah milik saya sendiri. Karena ada dia yang selalu berkata bahwa sikapnya yang melarang-larang saya dilakukannya “untuk kebaikan diri saya sendiri”.

Saya sadar, itu adalah omong kosong yang dia gunakan untuk menindas saya. Karena pada kenyataannya, siapa yang tahu apa yang terbaik untuk diri kita, selain kita sendiri?

Selama berpacaran dengannya, saya memang tidak pernah menerima mentah-mentah semua perlakuan tak mengenakkan itu. Saya selalu berusaha melawan dengan cara saya, termasuk berdiplomasi dengan berusaha memahami apa yang sebenarnya dia inginkan. Saya pun tidak ingin pergi begitu saja dari hubungan yang saya pilih sendiri untuk saya jalani. Ada empati sekaligus perasaan sayang yang membuat saya ingin menjadikan dia orang yang lebih baik, terlebih untuk menjadi pasangan saya.

Tapi saya juga sadar bahwa setiap komitmen yang kita jalani bukan hanya mengikat kita dengan orang lain, tapi juga dengan diri kita sendiri. Menjaga komitmen bukan sebatas soal bagaimana kita menjaga hubungan agar tidak putus, melainkan juga  bagaimana kita menjaga kewarasan diri sendiri. Termasuk pergi meninggalkan apa yang buruk untuk kita setelah kita berusaha semampu kita.

Jadi, izinkanlah saya mendedikasikan tulisan ini untukmu, untuk kita semua yang sedang mempertanyakan: apakah hubungan yang sedang kita jalani ini memang benar-benar layak untuk dijalani? Relationship is a partnership. Hubungan adalah dukungan tak pernah habis yang diberikan dua orang kepada satu sama lain. Cinta adalah telinga yang tak pernah lelah mendengarkan dan tak pernah mau untuk menghakimi. Cinta tidak menyakiti, karena cinta itu aman, nyaman, dan menyayangi.

Hubungan memang harus diperjuangkan. Kerikil-kerikil seperti perbedaan pendapat adalah satu yang paling mendasar. Ketika kamu berkompromi, berarti kamu sudah berjuang untuk hubunganmu. Tapi coba tanyakan lagi, apakah pasanganmu juga ikut berjuang? Atau kamu berjuang sendirian? Lagi, tanyakanlah, apakah hubungan bisa berjalan bila kamu memperjuangkan seseorang yang tidak mau untuk diperjuangkan?

Saya paham, kita hidup di dunia yang serba terbuka dan terkoneksi. Bekennya selebgram A, cakepnya artis B, bahkan mewahnya kehidupan teman kita si C, sering kali membuat kita tidak percaya diri dan merasa kurang. Tapi percayalah, apa yang terpampang di dunia virtual bukanlah kenyataan yang lantas harus selalu kita amini, apalagi kita jadikan standar kehidupan. Semua itu tak lebih dari omong kosong yang tidak pernah menentukan kualitas diri kita.

Seperti apa pun kondisi keluarga kita, penampilan kita, latar belakang kehidupan kita, selama kita selalu menghargai manusia lain, kita tidak pernah berhak mendapatkan perlakuan buruk dari siapa pun. Terlebih lagi pasanganmu sendiri, yang seharusnya memberimu rasa aman dan nyaman ketika seisi dunia sedang menjauhkanmu.

Hatimu yang luas telah mengantarkanmu menjadi pasangan yang peduli pada pasanganmu, sehingga kamu memiliki niat untuk menemani mereka di waktu-waktu terburuk, atau bahkan menyembuhkan mereka. Tapi yang perlu kamu tahu adalah yang bisa menyembuhkan seseorang adalah orang itu sendiri. Kamu pun bukan samsak pasanganmu. Hanya karena mereka memiliki kesedihan, bukan berarti kamu tidak memiliki kesedihanmu sendiri. Dan bukan berarti itu adalah alasannya untuknya menyakitimu atau pun alasanmu untuk menerima mentah-mentah keburukan sikapnya.

Menyembuhkan dia bukan jadi tanggung jawabmu, melainkan tanggung jawabnya sendiri. Kamu bisa mendukung dan membantunya. Tapi bila dukunganmu tak pernah dihargainya, atau justru malah dia jadikan senjata untuk menyerangmu, itu adalah tanda bahwa dia memang tidak memiliki niat baik untuk sembuh.

Saya berhasil keluar dari jerat itu. Pada awalnya, luar biasa berat. Terbiasa diperlakukan dengan buruk membuat saya mempertanyakan setiap hal baik yang mampir setelahnya. Terbiasa terisolasi dengan dia juga membuat saya sempat mempertanyakan apakah hari-hari saya ke depannya akan jadi baik-baik saja?

Tapi ketahuilah, sebuah hari yang cerah dan baru hanya bisa kita capai bila kita berani memutuskan. Keberanian itu tak bisa kita jemput ke mana-mana, selain ke dalam hati kita sendiri yang menyadari betul bahwa diri kita berhak mendapatkan hal-hal terbaik, pasangan yang baik, dan perlakuan yang baik.

Masih ada banyak ikan di laut. Kalau tidak berhasil mendapatkan ikan itu, ya tidak masalah. Masih ada dirimu sendiri. Selalu ada dirimu sendiri yang bisa kamu andalkan dan kamu perjuangkan

(Artikel ini memenangkan juara 1 Lomba Pacaran Toksik yang diselenggarakan Konde.co lewat program Konde Literasi Digital Perempuan (KEDIP) dalam Acara Kartini’s Day 2021)

Selma Kirana Haryadi

Jurnalis dan Penulis

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email