Atlet-Atlet Transgender Berlaga di Olimpiade Tokyo

Olimpiade Tokyo yang telah berakhir 8 Agustus 2021 kemarin mencatat, setidaknya ada 180 atlet LGBTQ yang telah berpartisipasi di Olimpiade tersebut

Olimpiade Tokyo telah berakhir 8 Agustus 2021. Menurut penghitungan terbaru dari situs olahraga LGBTQ Outsports, terdapat sekitar 180 atlet LGBTQ

Bintang sepak bola Kanada Quinn, bukan satu-satunya atlet transgender dan/atau nonbiner yang bersaing di Olimpiade Tokyo.

Selain Quinn, setidaknya ada tiga atlet lain dengan identitas gender itu, yakni Laurel Hubbard dari Selandia Baru di cabang olahraga angkat berat; Alana Smith dari Amerika Serikat di cabang olahraga skateboard; dan Chelsea Wolfe, juga dari Amerika Serikat, di cabang olahraga balap sepeda BMX. Tetapi, Quinn akan menjadi satu-satunya dari mereka yang membawa pulang medali.

Debut Olimpiade warga asli Toronto ini sebetulnya di Olimpiade Rio de Janeiro 2016, di mana ia membantu timnya memenangkan medali perunggu. Ia sebelumnya bermain untuk Duke University, kemudian bermain secara profesional untuk Washington Spirit, Paris FC dan Seattle Reign FC, menurut situs web Komite Olimpiade Kanada.

Namun pada Olimpiade Tokyolah Quinn kali pertama secara terbuka mengungkapkan dirinya sebagai atlet transgender dan/atau nonbiner. Dalam sebuah posting Instagramnya awal tahun ini, ia mendorong para pengikutnya untuk lebih bersahabat dengan orang-orang seperti dirinya.

Setidaknya ada 180 atlet LGBTQ di Olimpiade tahun ini, menurut penghitungan terbaru dari situs olahraga LGBTQ Outsports.

Quinn dan timnya akan memenangkan medali perak atau emas. Apapun medalinya, para penggemarnya merayakan apa arti kemenangan itu bagi orang-orang transgender dan/atau nonbiner.

Quinn menjadi atlet transgender terbuka pertama yang berkompetisi dalam 125 tahun sejarah Olimpiade, meskipun Olimpiade sudah mulai mengizinkan atlet transgender pada tahun 2004.

Dalam posting Instagram 22 Juli, Quinn menulis bahwa ia sulit menggambarkan perasaannya tentang pencapaian bersejarah itu. Ia mengatakan, ia bangga masuk dalam jajaran atlet Olimpiade namun juga sedih karena banyak atlet Olimpiade sebelumnya tidak bisa menikmati kemudahan yang dihadapinya karena dunia belum siap menerima mereka.

Berdasarkan pedoman Olimpiade saat ini, yang diperbarui oleh Komite Olimpiade Internasional (IOC) pada 2015, lelaki transgender dapat bersaing dalam kategori lelaki di Olimpiade tanpa batasan.

Peraturan untuk atlet perempuan transgender jauh lebih ketat. Kadar testosteron mereka harus di bawah 10 nanomol per liter darah selama setidaknya 12 bulan sebelum kompetisi pertama mereka, meskipun tidak ada bukti ilmiah yang jelas yang membuktikan bahwa testosteron meningkatkan performa atlet-atlet papan atas.

Sebetulnya ada beberapa atlet transgender dan/atau nonbiner terkemuka lain yang sebelumnya diperkirakan akan berlaga di Tokyo. Namun mereka gagal dalam kualifikasi di tingkat negara masing-masing. Nikki Hiltz tidak lolos di nomor lari 1.500 meter putri untuk tim AS, seperti rekannya, CeCe Telfer yang dinyatakan tidak memenuhi syarat dalam usahanya untuk dipertandingkan dalam katagori lari gawang 400 meter. Pemain bola voli Tiffany Abreu tidak masuk daftar terakhir tim Olimpiade Brasil.

Komite Olimpiade Internasional telah mengizinkan atlet transgender untuk berpartisipasi di Olimpiade sejak 2004, tetapi hingga tahun ini, tidak ada yang melakukannya secara terbuka. Selain Quinn, Hubbard, Smith dan Wolfe, beberapa atlet transgender dikabarkan bersaing tanpa mengungkap perubahan gender mereka.Visibilitas transgender yang mengemuka di Olimpiade Tokyo muncul di tengah gelombang undang-undang antitransgender yang melanda Amerika Serikat.

Usulan undang-undang yang melarang atau membatasi atlet transgender untuk berpartisipasi dalam kompetisi olahraga di sekolah dasar, sekolah menengah, dan bahkan perguruan tinggi telah diperkenalkan di 37 negara bagian. Setidaknya tujuh negara bagian telah memberlakukan undang-undang itu meski banyak dari mereka menghadapi gugatan hukum.

Departemen Kehakiman AS belum lama ini menentang larangan yang menarget atlet transgender di West Virginia, dan undang-undang lain yang berdampak pada anak-anak di negara bagian Arkansas. Departemen Kehakiman menyebut kedua legislasi itu melanggar undang-undang federal. Juni lalu, departemen itu bahkan menyatakan akan mengajukan gugatan hukum untuk membatalkan undang-undang baru yang telah diberlakukan di kedua negara bagian tersebut.

Departemen itu mengatakan undang-undang yang diberlakukan di kedua negara bagian itu melanggar klausul perlindungan kesetaraan yang termaktub pada Amendemen ke-14 Konstitusi. Departemen itu juga mengatakan undang-undang di West Virginia melanggar undang-undang hak sipil yang disebut Tittle X, yang melarang diskriminasi atas dasar jenis kelamin dalam program atau kegiatan pendidikan apa pun yang menerima dana federal. [ab/uh]

Voice of America

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email