Kami Kehilangan Care Giver Selamanya: Perempuan Disable Netra Di Tengah Pandemi

Dua minggu lalu, Sri Wahyuningsih, perempuan penyandang disable netra menyandang status janda, setelah suaminya yang juga seorang disable netra meninggal karena Covid. Kini Sri Wahyuningsih hidup bersama dua anaknya, yang semuanya juga penyandang disable netra.

Hanamachi Divamafaza atau Diva, buru-buru memesan mobil ojek online. Ia bergegas membawa ayahnya, Agus Pitoyo ke rumah sakit. 31 Juli 2021 saat hari masih subuh.

Kondisi Agus Pitoyo, atau Yoyok terus menurun. Setelah batuk tak juga reda, Diva bersama Sri Wahyuningsih atau Nining (48), membawa Agus Pitoyo (50) atau Yoyok, segera ke rumah sakit di Kawasan Tangerang. Tanda-tandanya, Yoyok terkena Covid-19.

Diva dengan cepat menggandeng tangan ibunya, Nining dan ayahnya, Yoyok untuk segera masuk ke mobil online.

Perbincangan pagi itu antara Diva, Nining dan Yoyok ternyata merupakan perbincangan panjang yang terakhir. Yoyok waktu itu masih bisa bercanda.

“Makan jeruk dan minum air hangat pasti enak, ya sekarang ini,” ia berseloroh setelah sampai di rumah sakit

Nining mentertawakan suaminya,” Mas, kamu itu sakit, tapi kog, masih bisa bercanda sih.”

Dua hari kemudian kondisi Yoyok terus menurun, dan harus masuk ke ruang ICU. Tanggal 2 Agustus 2021, Nining bersama Diva dan Kenichi, kakak Diva diminta oleh pihak rumah sakit untuk segera menandatangani surat bermaterai yang isinya, jika Yoyok harus segera masuk ke ICU. Surat itu berbunyi, jika ada sesuatu yang sangat gawat dan darurat, maka keluarga akan menerima apapun yang terjadi.

Nining, Diva dan Kenichi Satria Kaffah atau Ken, kakak Diva buru-buru datang ke rumah sakit di tanggal itu. Mereka melihat Yoyok dibawa masuk mobil ambulance untuk dipindahkan ke rumah sakit lain yang punya ruang ICU kosong.

Perjumpaan di lift yang hanya sesaat itu merupakan pertemuan terakhir diantara mereka berempat, Nining, Diva, Ken dan Yoyok

“Ayah harus kuat, ayah harus semangat,” kata Nining sedikit berteriak agar Yoyok bisa mendengar.

Yoyok sudah ditidurkan dengan menggunakan alat-alat dan didampingi para suster. Mereka mengikuti dengan naik mobil ojek online dari belakang sampai Yoyok dibawa masuk ke ruang ICU di rumah sakit yang baru.

Sehari sebelumnya, Yoyok masih bisa menelepon dari rumah sakit,”Tiga hari ini akan menjadi masa kritisku, mungkin akan terjadi apa-apa dengan aku nanti, maka kita semua harus segera berkumpul,” kata Yoyok melalui sambungan telepon

Dan itu merupakan kalimat Yoyok yang terakhir. Setelah itu suster memberitahukan bahwa sejak hari itu kondisi Yoyok terus-menerus menurun.

Dada Nining sesak menceritakan itu semua. Ia tak bisa memegang badan Yoyok untuk terakhir kali. Tiga hari kemudian atau 5 Agustus 2021 setelah pertemuan terakhir itu, Yoyok dinyatakan meninggal karena Covid-19. 

“Padahal selama ini kita selalu mentaati Prokes, mas Yoyok sudah sebulan tidak bekerja atau keluar rumah. Awalnya mengira ini hanya flu berat saja, panas juga tidak terlalu tinggi, hanya batuk kecil dan sakit kecil, tapi lama-lama sesak. Ternyata ketahuan ada komorbid nya setelah diperiksa di rumah sakit, ada pembengkakan jantung.”

Nining dan Yoyok adalah pasangan disable netra. Mereka punya 2 anak yang juga disable netra, Ken dan Diva.

Ken, waktu kecil matanya masih bisa sedikit melihat, namun lama-lama Ken tak bisa melihat total. Sedangkan Diva, dari lahir sampai sekarang, mata kirinya bisa melihat 50%, sedangkan mata kanannya tak bisa melihat.

Diva, adalah anak yang di saat-saat kritis selalu banyak mengambil peran dalam keluarga, karena ia satu-satunya yang masih bisa sedikit melihat matanya. Umurnya masih 15 tahun, tahun ini Diva masuk di satu SMA negeri di Jakarta Selatan.

Ini adalah untuk pertamakalinya Sri Wahyuningsih ditinggal pergi Yoyok sejak mereka menikah 20 tahun lalu. Tak pernah berjauhan, karena Yoyok adalah care giver bagi Nining. Penyandang disable harus punya care giver atau orang yang mendampingi bagi yang lain, begitu juga Yoyok dan Nining yang selalu menjadi care giver satu sama lain.

Nining tak punya firasat apa-apa jika Yoyok akan meninggalkannya di saat musim yang sangat buruk seperti saat ini, musim pandemi

Ken, juga tak punya firasat apapun. Malam sebelumnya, ia menunggu dengan sangat cemas apakah ia akan diterima sebagai mahasiswa fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Islam Negeri/ UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Jika diterima, ia akan punya kabar gembira untuk ayahnya. Ini adalah cita-cita Ken dan ayahnya, Ken bisa masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN).

Untuk disable netra seperti Ken, masuk PTN merupakan kerja yang sangat keras karena hanya 5% anak-anak disable yang bisa diterima di sekolah negeri. Kerja keras Ken membuahkan hasil. Besoknya Ken menerima kabar gembira, ia diterima di UIN. Tapi apa mau dikata, ia tak bisa menyampaikan kabar gembira itu ke Yoyok. Jam 9 pagi WIB oleh dokter, pada 5 Agustus 2021, Yoyok dinyatakan meninggal dunia

“Ayah itu orang terbaik yang selama ini menemani online ketika kami berdua belajar, sampai sekarang kita selalu lupa dan masih tanya-tanya, ini apaan ya, yah?, itu maksudnya apaan ya, yah?. Sampai tidak ingat kalau ayah sudah tidak ada. Ayah adalah sumber pengetahuan bagi kami,” kata Ken melalui sambungan telepon ketika dihubungi Konde.co

Yoyok, bagi Ken adalah teman diskusi soal politik dan soal apa saja. Yoyok ingin Ken dan Diva juga bisa bahasa Jepang seperti dirinya.

Yoyok sebelumnya pernah mendapatkan beasiswa dan kuliah di sebuah akademi akupunktur di Jepang, selama 4 tahun Yoyok tinggal disana. Setelah pulang ke Indonesia, ia menjalani profesi sebagai massage akupunkturis. Nining menjadi ibu rumah tangga karena harus mengelola rumah dan mendampingi 2 anaknya yang membutuhkan care giver.

Mengutuki pandemi saat ini adalah hal yang tak sempat dilakukan Nining. Sepeninggal Yoyok ia harus terlihat semangat di depan anak-anaknya. Selama ini Yoyok adalah penanggung ekonomi keluarga. Kebingungan di tengah pandemi jelas terdengar dari suara Nining yang patah-patah ketika dihubungi Konde.co. Ia tampak tak begitu optimis, karena Yoyok pergi disaat keluarga itu sangat membutuhkan

Sudah 20 tahun sejak Yoyok selesai sekolah pijat di Jepang, Yoyok menjalani profesi sebagai akupunkturis. Tak banyak yang bisa dilakukan disable netra selama ini, mereka antaralain lebih banyak bekerja sebagai pemijat, berjualan kerupuk keliling atau pengamen. Alternatif pekerjaan lain masih sangat sedikit.

Dalam UU 8/2016 tentang Penyandang Disabilitas dalam pasal 53 ayat (1) menyebutkan, pemerintah, pemerintah daerah, Badan Usaha Milik Negara, dan Badan Usaha dan Badan Usaha Milik Daerah wajib mempekerjakan paling sedikit 2% penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja. Pasal 53 ayat (2) UU yang sama menyebutkan, perusahaan swasta wajib mempekerjakan paling sedikit 1% (satu persen) penyandang disabilitas dari jumlah pegawai atau pekerja Pengusaha wajib mempekerjakan tenaga kerja penyandang cacat minimal 1% dari pekerja yang ada di perusahaannya. Namun tak semua bisa lolos dalam persyaratan tersebut.

Maka Yoyok, Nining dan para pekerja penyandang disable netra, kemudian mendirikan Hikari, atau Yayasan Hidup Berdikari, sebuah organisasi untuk disable netra yang anggotanya para disable netra di beberapa kota di Indonesia. Hikari kemudian membantu dan saling mendukung para disable netra lainnya dalam berbagai dukungan.

Didirikan tahun 2013, anggota Hikari saat ini berjumlah 300 orang di Indonesia yang semuanya disable netra. Mereka berprofesi sebagai pemijat, penjual kerupuk, pengamen. Selama ini Hikari selalu membuat kegiatan seperti forum diskusi, saling support bantuan jika ada yang sakit, dan sebagai forum komunikasi sesama disable netra ketika membutuhkan bantuan informasi apapun. Yoyok kebetulan sebagai Ketua Umum Hikari

Di musim pandemi ini, Yoyok dalam sebuah diskusi yang diadakan Aliansi Stop Kekerasan di Dunia Kerja dan International Labour of Organization/ ILO pada 29 Juni 2021, dimana Yoyok menjadi salah satu pembicaranya bercerita, ada disable netra yang dipukuli, padahal mereka baru turun ke jalan menggunakan tongkat untuk berjualan kerupuk, ternyata ada orang yang salah pukul dan disable netra menjadi korbannya. Ada juga disable netra yang diperlakukan sangat buruk ketika bekerja sebagai pekerja informal. Situasi ini sangat rentan bagi disable netra, karena mereka tak bisa melihat.

Ini juga yang terjadi pada para penjual kerupuk yang berjualan sendirian, tanpa pendamping atau care giver.  

Dewi Tjakrawinata, aktivis Yapesdi, Yayasan Peduli Down Sindrom Indonesia, pernah menyatakan dalam sebuah konferensi pers suara kelompok marginal terhimpit pandemi, pada 18 Juli 2021 tentang kondisi para disable secara umumnya.

Situasi isolasi mandiri karena pandemi ini membuat para disable menjadi sulit karena tidak bisa melakukan isolasi mandiri. Karena para disable harus punya care giver atau orang lain yang mendampingi, jadi tidak pernah bisa sendirian.

“Situasi lain yaitu, disable yang harus selalu minum obat, maka ia harus selalu disupport obat, padahal akses untuk ini juga kadang sulit,” kata Dewi Tjakrawinata

Situasi pandemi menambah keterpurukan ini. Pemijat dan pengamen seperti anggota Hikari misalnya, tak ada pemasukan karena tidak bisa keluar rumah. Pandemi sangat memukul ekonomi para disable.

“Penjual kerupuk keliling masih bisa berjualan, tapi karena harus mangkal dan tak bisa jauh-jauh berjalan, maka omzet menurun karena banyak pembeli yang tidak bisa keluar rumah. Sedangkan massage benar-benar mati karena jasanya bersentuhan dengan badan orang lain, banyak yang gak mau pijat karena takut Corona. Pengamen juga, resikonya tinggi,” kata Nining.

Tahun 2020 ketika awal pandemi hingga akhir tahun lalu, Nining bersama Hikari kemudian mengumpulkan donasi untuk menyambung hidup para disable netra melalui rekening Bank BNI Nomor Rekening: 0019200964 (Agus Pitoyo). Ia dibantu beberapa teman menelepon organisasi, dibantu temannya berkampanye melalui media sosial agar para disable mendapatkan sembako. Sembako bagi disable netra ini benar-benar berguna untuk menyambung hidup.

Beberapa disable netra lainnya mendapatkan bantuan sosial dari Pemerintah Provinsi DKI Jakarta. Tapi mengharapkan Bansos juga tidak bisa sepenuhnya karena bansos diterima secara tidak merata, maka Hikari pernah beberapakali membagikan sembako dan uang tunai dari hasil donasi. Walau untuk pandemi di bulan-bulan terakhir ini, semuanya kolaps berhenti, semua bantuan-bantuan dari masyarakat, tetangga dan teman juga sudah terhenti karena makin buruknya kondisi pandemi

“Kita harus menguatkan imun dengan gizi tinggi, tapi ada yang runtuh karena tak ada pemasukan bagi kami,” kata Nining

Menyelamatkan keluarga dan organisasi

Tahun ini Diva masuk SMA, dan Ken harus kuliah. Walaupun keduanya sekolah di negeri, tapi dua-duanya pasti tetap membutuhkan biaya.

“Dua-duanya sedang membutuhkan biaya besar,” kata Nining ketika ditelepon menyembunyikan kesedihannya

“Kita bertahan hidup dengan mengambil tabungan yang ada. Yang lain, kita melakukan puasa, karena puasa bisa untuk ibadah dan kesehatan, tapi juga untuk penghematan pengeluaran uang,” kata Nining, tersenyum getir

Sudah lama Nining menjadi ibu rumah tangga dan tidak bekerja di publik. Bagi Nining, situasi dengan tidak adanya Yoyok diantara mereka ini bisa merupakan ancaman bagi keluarga mereka, namun juga bisa jadi tantangan.

Dengan kondisi saat ini yang belum stabil, paling mudah yang bisa dilakukan Nining adalah ia akan berdagang telor asin karena bisa dilakukan di rumah, karena Nining tetap harus menjadi care giver bagi Ken dan Diva.

“Yang paling mudah adalah aku akan membuat telor asin online maupun dititipkan di warung-warung karena modal dan uangnya terjangkau bisa dilakukan, dan sekeluarga bisa membantu. Aku sama sekali belum pernah mencoba membuat usaha seperti ini, tapi ini yang paling memungkinkan dan akan kami coba,” kata Nining

Saat ini, Ken juga sedang mencari pekerjaan freelance yang bisa dilakukan secara online, ia jago IT dan bisa mengoperasikan beberapa alat dengan menggunakan laptop.

Selama ini, Ken memang punya banyak prestasi sejak ia sekolah. Enam tahun lalu, Ken adalah salah satu siswa Yayasan Mitra Netra, Lebak Bulus yang ketika SD yaitu di tahun 2015, pernah dipanggil Presiden Jokowi di istana. Ken selalu lolos sekolah di sekolah negeri karena prestasinya hingga menjadi salah satu siswa yang dipanggil presiden ke istana

Saat ini Ken juga akan aktif menjadi pengurus di Hikari karena tak ada lagi ayahnya disana. Selama ini di Hikari, Ken juga banyak membantu untuk berkampanye di media sosial salah satunya dalam penggalangan dana untuk disable netra.

Nining, Ken dan Diva selama ini tinggal di rumah orangtua Yoyok di Ciledug, Tangerang, setelah sebelumnya mereka mengontrak rumah di Lebak Bulus, namun sudah 3 tahun ini mereka tinggal bersama orangtua Yoyok

Menjadi 3 atau 4 orang di rumah, Nining merasakan tetap harus kuat, “hidup menjadi perempuan janda yang disable netra pasti tak pernah mudah, aku seperti kehilangan care giverku untuk selamanya. Tapi justru anak-anak yang selalu menguatkan aku, mereka terlihat selalu semangat, ini yang selalu menguatkan aku,” kata Nining terbata, mengakhiri perbincangan kami.

(Foto: Pixabay dan dokumentasi pribadi Sri Wahyuningsih)

(Artikel ini merupakan Program ‘KEDAP atau Konde dan Kalyanamitra Program: Peliputan Kondisi Perempuan Marginal di Tengah Pandemi Covid-19’, yang merupakan hasil kerjasama antara Kalyanamitra dan Konde.co. Hasil peliputannya dapat dibaca di Konde.co setiap Senin secara Dwi Mingguan)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email