Kulit Putih Bagus dan Kulit Hitam Jelek? Ini Dikotomi Berujung Diskriminasi

Kulit putih selalu bagus, sedangkan kulit hitam selalu jelek? Warna putih sebenarnya adalah kata yang sederhana, tidak memiliki basis ideologi. Akan tetapi entah kenapa, kulit putih selalu memiliki hierarki rasisme yang masih langgeng dari dulu sampai kini.

Sesaat setelah mengambil foto, salah satu remaja perempuan melihat kulitnya dan mengeluh karena warna kulitnya jauh lebih gelap dari kawan lainnya. Kemudian setelahnya, ia kembali mengagumi kulit kawan lain yang memiliki tone warna lebih terang. Gambaran seperti itu ada di salah satu iklan yang sering berseliweran di televisi dan umum terjadi pada tiap iklan perawatan kulit di Indonesia.

Pasti tak cuma di iklan, ini seperti sudah menjadi bagian dari kehidupan kita. Banyak diantara perempuan-perempuan yang kerap membandingkan dirinya dengan orang lain yang memiliki warna kulit lebih terang, atau warna putih, karena lingkungan kita mengatakan: warna putih bagus, warna hitam jelek.

Warna putih sebenarnya adalah kata yang sederhana, tidak memiliki basis ideologi. Akan tetapi entah kenapa, kulit putih selalu memiliki hierarki rasisme yang masih langgeng mulai dari zaman sebelum kolonialisme hingga saat ini. 

L Ayu Saraswati, dosen kajian perempuan, gender dan seksualitas Universitas Hawaii, putih sendiri telah melebur menjadi bagian dari kehidupan kita yang mewakili kebaikan, kesucian dan hal-hal baik lainnya dan secara tidak sadar kita melanggengkan rasisme disini.

“Putih dari segi hierarkis dan sejarah sangatlah sederhana dan tak memiliki basis ideologi, tapi putih ini sebenarnya menunjukkan hierarki rasisme, secara tidak sadar kita berpartisipasi dalam melanggengkan konsep bahwa putih itu lebih tinggi tingkatannya,” ujarnya pada diskusi kelas Bongkar Kata dalam acara Etalase Pemikiran perempuan, 24 Juli 2021 yang dilakukan Sekolah Pemikiran Perempuan (SPP) melalui daring.

“Orang yang lebih putih juga dinilai lebih cantik. namun putih dalam interseksional karena putih bagi laki-laki bukan berarti tampan yang tampan, begitu pula dengan jika ia berkulit putih namun ber-ras cina, belum tentu dinilai cantik,”  lanjutnya menerangkan.

Pelanggengan konsepsi bahwa putih selalu bernilai lebih baik, juga kembali diproduksi oleh media. Lihat saja iklan Deterjen misalnya, baju putih lebih baik daripada baju yang berwarna kekuning-kuningan. Dalam film, malaikat yang baik digambarkan sebagai sosok berbaju putih. Sedangkan setan yang buruk akan diterjemahkan sebagai sosok berbaju hitam. Padahal kondisi demikian tak selalu benar.

“Afeksi berwarna terang atau putih digambarkan sebagai baik dan bersih, awan putih pun dimaknai sebagai bagus. Diskursus putih ini dilanggengkan dari ranah emosi. pemaknaan warna dari emosi ini berbahaya, karena melanggengkan rasisme,” paparnya.

“Di Amerika bahkan ada istilah the lighter the better. rasisme langgeng bahkan hingga hari ini, namun putih di Indonesia tidak selalu overlap seperti yang ada di Amerika, meskipun begitu konsep putih yang demikian sudah ada bahkan sebelum zaman kolonialisme,” jelas Ayu.

Munculnya kolonialisme memang kemudian memperparah konsepsi putih yang ada di tengah masyarakat kita. Sebelum kolonialisme, putih belum dikaitkan dengan ras. Ketika kolonialisme hadir, Belanda kemudian memunculkan standar cantik yang dikaitkan dengan ras bangsa kulit putih. Konsep putih yang awalnya hanya berupa warnaisme, kini menjadi pintu masuk diskriminasi berbasis ras.

Ketika berganti kepemimpinan di zaman Jepang, mereka membuat suatu konsep kecantikan baru, dimana figur ideal yang bisa disebut cantik adalah orang-orang yang memiliki kebangsaan Jepang. Dan saat itu, warna kulit putih tetap diyakini sebagai warna yang cantik.

Setelah reformasi, muncul konsepsi putih kosmopolitan, kulit putih dan kecantikan tidak lagi dikaitkan dengan ras atau bangsa. Namun, dalam prakteknya, kondisi ini lebih berbahaya, ini karena putih menjadi sesuatu yang elusive atau susah digapai.

“Pada konsep kulit putih kosmopolitan, warna putih tidak lagi terkait dengan bangsa tertentu. bangsa apa saja bisa jadi putih, bahkan perempuan Jepang bisa mempresentasikan produk Perancis, Korea dan lain sebagainya,” terang Ayu

Dan kemudian ini dibesarkan oleh industri dan produk-produk kecantikan.

“Tapi konsep putih ini muncul sebagai garisan virtual atau maya yang makin mengakar, karena ia memproyeksikan bahwa semua orang bisa menjadi putih. ini makin berbahaya, karena putih bisa dicapai oleh siapa saja, jadi ada ilusi bahwa jika kita ingin putih, kita harus gunakan produk tertentu,” jelasnya.

“Padahal konsep ini sangat elusive susah digapai, karena virtual. sampai kapanpun tidak bisa dimiliki di dunia nyata,” terusnya

Standar Kecantikan Berujung Pada Stigma dan Diskriminasi

Forum diskusi bongkar kata ini menyajikan ringkasan pemikiran perspektif feminis berbasis kata populer. Membongkar kata merupakan salah satu cara untuk bersama-sama menyikapi situasi kontemporer secara kritis.

Selain kata putih tadi, rasisme memiliki dampak kehancuran dalam mekanisme kehidupan, rasis juga bentuk penaklukan, konsep putih yang terkait dengan rasisme melahirkan diskriminasi dan praktik kekerasan, karena warna kulit yang gelap kerap disandingkan dengan suatu hal yang buruk.

Pada masa kolonialisme, masyarakat Jawa dipandang lebih rendah, sebab warna kulitnya yang lebih gelap dibanding orang Belanda misalnya.

Selain mengontrol standar kecantikan, kolonialisme juga menghancurkan tatanan hidup masyarakat adat. Di Papua, alam digambarkan sebagai tubuh mama, sumber kehidupan. Perempuan saat itu menjadi pencari nafkah utama, pemilik kebun sagu, atau beberapa tanah. Sejak datang penjajahan, konsep itu diubah, perempuan dirumahkan, laki-laki yang tadinya bekerja sebagai pengukir, dan melakukan kegiatan spiritual dianggap sebagai pemalas. Banyak perempuan Papua yang dianggap hitam juga terdiskriminasi karena alasan-alasan ini.

“Pada suku Amome dan Amoro di Timika, perempuan adalah tulang punggung, relasi antara perempuan dan laki-laki sangat setara, namun ketika kolonialisme datang mereka menjadikan laki-laki sebagai kepala keluarga, dan perempuan harus di rumah,” ujar Els Tieneke Rieke, aktivis dan aktivis perempuan dalam diskusi Bongkar Kata.

Dengan konsepsi kecantikan yang diciptakan oleh kolonial Belanda, beberapa ras di Indonesia bahkan harus menerima diskriminasi karena warna kulitnya dan juga identitas kebangsaan yang mereka miliki. 

Dalam rasisme misalnya, perbedaan identitas seperti warna kulit kemudian disederhanakan menjadi dikotomi yang kemudian akan menciptakan hierarki dan stigma. Stigma ini kemudian dinormalkan di lingkungan dan meluas ke masyarakat.

(Foto/ ilustrasi: Freepik)

Cempaka Wangi

Reporter Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email