Mengaitkan Prestasi Atlet Dengan Agamanya: Media Hobi Mengurus Hal Personal

Mengaitkan atlet yang punya prestasi dengan pilihan agamanya bisa jadi pemicu konflik. Inilah yang dilakukan media untuk mendulang sensasi. Coba lihat judul berita di media ini “Apa agama Apriyani Rahayu? Berikut Biodata dan Profil Atlet Ganda Putri yang Sukses Melaju ke Final Olimpiade”

Media sangat hobi mengurus hal personal. Kalau biasanya media selalu mengaitkan artis dengan relasi personalnya, kali ini ketika lagi musim olimpiade, maka media mengaitkan atlet dengan pilihan agamanya. Entah mengapa, mengurus urusan personal menjadi hobi yang selalu dilakukan media

Ruby Kholifah tampak prihatin. Di tengah kemenangan atlet Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu meraih medali emas bulu tangkis Olimpiade Tokyo 2020 untuk nomor ganda putri, sejumlah media justru sibuk menuliskan hal personal yang dikaitkan dengan pilihan personal para atlet.

Kali ini tulisannya dikaitkan dengan agama, coba saja lihat berita ini:

“Apa agama Apriyani Rahayu? Berikut Biodata dan Profil Atlet Ganda Putri yang Sukses Melaju ke Final Olimpiade”

“5 Atlet Indonesia Yang Putuskan Jadi Mualaf, Nomor 1 Mantan Andalan Bulutangkis Tanah Air”

“Apa Agama Anthony Sinisuka Ginting? Berikut Profil dan IG Pebulutangkis Indonesia Yang Gacor di Tunggal Putra”

Beberapa media yang menuliskan agama atlet ini antaralain: okezone, Malangtimes, RembangBicara, spotstars, haloyouth, dll. Mungkin karena media sudah keseringan mengkaitkan hal personal, maka berita seperti ini dianggap sebagai berita yang biasa

Direktur Asian Muslim Action Network (AMAN Indonesia), Ruby Kholifah ketika dihubungi Konde.co pada 2 Agustus 2021 menyatakan, bukan sekali saja media mengaitkan hal personal seseorang. Sebut saja ketika media mengaitkan dengan pilihan seksual dan tubuh perempuan, jadi artikel seperti ini bukan hal baru.

Mengaitkan dengan agama ini menurut pengamatan AMAN Indonesia, juga sudah banyak dilakukan. Ruby Kholifah mengamati, selama ini media memang punya kecederungan untuk menunjukkan sentimen pada agama tertentu pada publik, ini dilakukan agar menarik perhatian publik.

“Pemberitaan seperti ini seperti ada faktor kesengajaan untuk menunjukkan sesuatu pada publik, ini untuk menunjukkan sentimen tertentu, seperti jika dia bukan muslim, itu kayak ada yang berkurang rasa bangganya. Karena di dalam masyarakat kita masih ada yang seperti itu, kayak merasa puas maksimal, ketika pemimpinnya muslim, jadi kalau ada yang punya karya, tapi bukan muslim, itu sudah kayak gak terlalu penting.”

Ruby melihat, tulisan seperti ini sangat berbahaya karena akan membuat terjadinya sentimen keagamaan. Padahal kemenangan atlet Indonesia di olimpiade ini harusnya menjadi momentum untuk melihat kemenangan tanpa adanya perbedaan

“Padahal ukurannya mestinya bukan agama apa, karena ukuran agama itu kan seharusnya kebaikan. Berita seperti ini jika terlalu jauh akan mengarah pada eksklusivisme dan konservatisme.”

Salah satu aktivis muda dan keberagaman, Fanda Puspitasari mengatakan, berita seperti ini menunjukkan bahwa media tidak menunjukkan keprofessionalannya karena justru menuliskan isu SARA untuk pembaca, yaitu menuliskan prestasi dengan embel-embel agama

“Kenapa tidak menuliskan prestasi tanpa embel-embel agama? Karena menulis soal agama ini berarti media menggunakan framing tertentu. Berita ini juga menunjukkan bahwa mayoritas agama di Indonesia adalah agama yang penting. Media seharusnya jadi instrumen menyuguhkan soal pendidikan yang substantif, tapi media malah tidak menjalankan tugasnya seperti itu. Ini menunjukkan media tidak menunjukkan etika yang baik, tidak menunjukkan tentang prestasi anak muda, ini bahaya jika pembaca membacanya dengan menelan mentah-mentah dan bisa menjadi paradigma berpikir yang salah.”

Fanda Puspitasari menyatakan, media seharusnya memahami soal etika agar framing media ini substantif memperjuangkan sesuatu. Jika tidak, maka rasa kebanggaan pada kemenangan bukanlah pada prestasinya, tapi pada agamanya.

“Jadi media sudah membelokkan isu ini,” kata Fanda

Menuliskan hal personal: sudahkah media meminta izin narasumber?

Dalam Instagramnya, Serikat Jurnalis untuk Keberagaman (SEJUK) sudah mengkritik artikel ini  pada 1 Agustus 2021. SEJUK mempertanyakan judul dan berita yang sensasional dengan membawa agama atlet, ini ditulis SEJUK dalam Instagramnya:

“Tapi, sahkah membuat judul yang sensasional dengan membawa agama atlet? Apa relevansi agama dengan profesionalitas atlet? Mungkinkah pemberitaan semacam itu tidak sekadar dilakukan agar memenuhi clickbait, karena bisa jadi jurnalisnya obsesif dengan setiap hal yang terkait dengan agamanya? Faktanya, tidak sedikit jurnalis yang mencampurkan laporan yang dibuatnya dengan iman yang mereka yakini.”

Aktivis SEJUK, Tantowi Anwari ketika dihubungi Konde.co pada 2 Agustus 2021 mempertanyakan media yang menuliskan hal personal, apakah media sudah meminta izin dengan atlet tersebut untuk menuliskannya? 

“Apakah media sudah meminta izin atletnya untuk menuliskannya? Dalam konteks apa mengkaitkan dengan personalitinya? Kenapa seseorang selalu dikaitkan dengan pilihan personalnya, seperti apa agamanya, apa sukunya, apa pilihan seksualnya?.”

Tulisan seperti ini hanya akan mempersempit pemahaman orang soal beragama, media seharusnya memberikan pendidikan, namun malah mempersempit pemahaman beragama.

Selama ini SEJUK mengamati, dalam konteks agama, media selalu punya 2 sisi penilaian. Jika tulisan itu tidak menguntungkan media, maka media tidak mau mengangkatnya dalam tulisan, namun jika menguntungkan untuk media, maka media akan mengangkatnya. Kepentingan media bisa macam-macam, salah satunya karena sensasi.

“Ketika mereka mengangkat agama, ini kebanyakan mencari sensasi, tergantung agama mayoritasnya dan ini sisi-sisi sensasinya saja yang ingin diambil. Misalnya ada berita soal kriminal, pelakunya disebut bukan Islam, atau pelakunya etnis minoritas, maka itu disebutkan, ternyata ia aktif di gereja ini, atau dia dari etnis tertentu, jadi disebutkan identitasnya.”

Menuliskan identitas personal tanpa meminta izin sekaligus punya framing tertentu ini bisa menimbulkan bahaya. Dalam identitas inilah justru banyak orang yang merasa sama menjadi satu, dan kemudian malah menjauhkan orang lain yang punya pilihan berbeda. Disinilah kemudian banyak timbul konflik.

Media seharusnya menjauhi hal ini, sensasi dan konflik.

(Foto: Skor.id dan Instagram SEJUK)

Luviana

Setelah menjadi jurnalis di media mainstream selama 20 tahun, kini menjadi chief editor www.Konde.co dan menjadi dosen pengajar paruh waktu di Jakarta. Pedagoginya dalam penulisan isu media, perempuan dan minoritas

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email