Stop Melecehkan Pramugari Karena Penampilannya

Para pramugari rentan terkena pelecehan dari penumpang. Profesi pramugari juga masih lekat dengan stigma harus cantik, perfect dan tak boleh tua. Apa saja problem yang selama ini dialami para pramugari?

Sebagai pramugari, Jacqueline Tuwanakotta beberapa kali melihat pandangan miring yang dilakukan penumpang terhadap para pramugari.

Profesi sebagai pramugari memang tak lepas dari ancaman pelecehan seksual dan pelecehan secara umumnya. Mulai dari verbal hingga tindakan kurang menyenangkan, salah satunya dari penumpang. Ada penumpang yang melakukan body shaming, mengatakan kata-kata kasar, hingga hinaan. 

“Sudah beli tiket, beranggapan sudah beli semuanya. Makanya dia bisa berkata apa saja terhadap pekerja (pramugari),” cerita Jacqueline Tuwanakotta, salah satu pramugari aktivis Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia/ IKAGI.

Jacqueline mengatakan ini dalam acara Festival Pekerja Hari Gini, yang digelar oleh Aliansi Stop Kekerasan di Dunia Kerja pada 28 April 2021 lalu.   

Selain rentan terhadap pelecehan, profesi pramugari menurut Jacqueline juga masih begitu lekat dengan stigma-stigma yang menyatakan bahwa pramugari harus cantik, tidak boleh tua, hingga harus selalu terlihat sempurna. Padahal semua orang pasti akan menua, tetapi seperti ada pameo masyarakat yang mengatakan bahwa pramugari harus perfect dan tak boleh tua.

“Penumpang melihat pramugari yang lebih dari 50 tahun, lalu mereka berkata, kalau naik pesawat ini ketemunya bukan pramugari, tapi tantenya pramugari,” ucapnya. 

Kata-kata seperti itu menyinggung para pramugari. Selain itu Jacqueline masih melihat ada tuntutan profesi sebagai pramugari yang harus tetap optimal melayani penumpang pun. Namun walau sudah optimal pun, kadang mereka masih dipandang sebelah mata: memperlakukan pramugari seolah bukan manusia biasa. Padahal pramugari juga bisa sedih dan mempunyai beban hidup. 

“Pramugari adalah manusia normal, dia mengalami sedih, mengalami susah. Tetapi memang ketika berhadapan dengan penumpang contohnya ketika saya sedang tidak enak badan dan saya harus terbang, saya harus tetap melayani penumpang yang masuk ke pesawat, kan tidak mungkin saya tidak tersenyum, tidak ramah karena mulai dalam pendidikan kami sudah diajarkan seperti itu. Pramugari harus ramah harus sopan dan misalnya untuk kelas tertentu seperti kelas bisnis atau first class ada beberapa treatment khusus yang harus dilakukan penumpang karena itu merupakan service yang harus diberikan oleh airline.”

Pandangan keliru lainnya soal pramugari, menurut Jackie, selama ini pramugari hanya dipandang ‘indah-indahnya’ saja. Seperti bisa terbang kemanapun, gajinya besar, bonus banyak. Padahal, menjadi pramugari juga perlu perjuangan seperti harus melakukan tes ketat tiap tahun untuk memastikan keselamatan penumpang. 

Profesi pramugari, juga menurutnya jangan disalah artikan hanya sebagai profesi yang bermodalkan tampilan fisik dan ‘wah’. Namun, juga mencakup kecerdasan dan perilaku baik.

“Jadi kalau ada anggapan bahwa pramugari harus tampil cantik, wah, itu pemikiran yang sedikit keliru,” pungkasnya.

Selama bertahun-tahun menjadi pramugari, Jacgueline sering melihat dan mendengar dari sesama pramugari dan awak kabin soal jenis pelecehan yang kerap mereka terima, baik pelecehan dari penumpang maupun dari sesama pekerja. Kebetulan, ia juga aktif dalam serikat pekerja yang mengadvokasi penyintas kekerasan dan pelecehan di dunia penerbangan, IKAGI.

Pada suatu ketika ada rekannya yang sempat mengalami body shaming hingga pelecehan seksual dari penumpang. Tanpa mengabaikan kondisi psikologis korban, dia bersama serikat pekerja IKAGI pun mengambil langkah mendampingi korban hingga pengusutan kasusnya. 

Untuk mengatasi ini, Jacqueline punya tips, yaitu pramugari harus tegas dan berani. Ketika misalnya penumpang sudah mulai berkata atau bertindak kurang baik, Jacqueline akan mengatakan pada penumpang tersebut bahwa pihaknya akan memberikan peringatan verbal hingga sikap siaga untuk menindak. 

Ia mencontohkan, selain menegur langsung ke penumpang, bisa juga dengan menggunakan cara memperingati secara verbal lewat mikrofon pesawat dengan menyebutkan nomor duduk pelaku kekerasan dan pelecehan. Di konteks yang lebih berat, para awak kabin pun bisa bertindak lebih tegas secara bersama-sama.

Saat itu bahkan, protes dari IKAGI pernah dilayangkan pada oknum yang melakukan tindak kekerasan dan pelecehan tersebut. 

“Bagi kami tidak ada toleransi bagi orang yang melakukan pelecehan seksual,” tegasnya. 

“Pas buka pintu, ada bagian keamanan petugas yang sudah datang. Diinvestigasi dan langsung ditindak,” katanya. 

Tidak sekadar keberanian, dia menyebut, solidaritas antar sesama pekerja di dunia kerja utamanya selama ini yang menguatkan mereka dalam melawan kekerasan dan pelecehan. Ekosistem itulah yang coba mereka dorong dan bangun di perusahaan. 

Menjadi pramugari: tak sekedar penampilan

Menjadi pramugari bukan pekerjaan yang mudah, ini yang seharusnya para penumpang pahami. Jacquilene menyebut, ketika di rekrut, perusahaan biasanya sudah melihat calon-calon awak kabin yang datang dengan penampilan yang perfect.

Di pusat pendidikan, umumnya mereka diajari bagaimana berpenampilan yang bagus, harus bisa menjaga make up, menjaga penampilan, menjaga berat badan. Dari sistemnya saja pramugari sudah harus jaga penampilan dan performance nya sehingga tidak bisa lagi berpenampilan buruk.

Kemudian pada saat bekerja dia harus menjaga cara penampilan di depan penumpang dan cara dia berbicara dan komunikasi dengan penumpang. Jadi alangkah menyakitkan jika para pramugari dan awak kabin sudah bekerja keras menjaga ini semua, namun masih saja ada komentar tidak enak yang mereka terima.

“Ada yang mengatakan, di kelas si A kita akan melihat bahwa yang di kelas ini badannya bagus, dan yang disini sudah ada kerutan-kerutan di wajahnya, publik ada mengeluarkan statement begitu.”

Mungkin buat mereka ini hanya jokes, tapi sebetulnya siapun dia dan apapun profesinya kita harus saling menghargai.

Apakah pramugari bisa bekerja sampai usia tua?. Jacqueline mengatakan, ada beberapa perusahaan penerbangan baik di luar negeri maupun perusahaan nasional yang masih menerima pramugari usia di atas 50 tahun. Ada juga perusahaan penerbangan yang tidak mau menerima pramugari di atas 40 tahun. Hal-hal ini yang masih menjadi problem bagi para pekerja di awak kabin udara yang notabennya khususnya pramugari yang usia 36-46 tahun yang terkena aturan ini.

“Menurut saya pramugari tidak harus wah, harus cantik, harus langsing, itu merupakan pemikiran yang keliru. Karena kita di usia tertentu akan masuk metabolismenya berubah, bentuk tubuhnya berubah, berat badannya juga akan berubah. Di Ikatan Awak Kabin Garuda Indonesia, kami sangat memperhatikan bagaimana pandangan orang terhadap pramugari tidak bisa dihubungkan dengan profesionalisme pramugari. Jadi belum tentu orang yang berpenampilan bagus belum tentu dia bisa melaksanakan tugas dia secara professional sebagai pramugari.”

Hal-hal seperti ini yang harus diketahui oleh publik, karena pramugari juga manusia, jika ada pelecehan, Jacqueline selalu mengajak pramugari dan awak kabin lain untuk berani bercerita dan melakukan pergerakan.

Semangat inilah yang harus diperjuangkan bersama dalam ekosistem penerbangan.

(Tulisan ini Merupakan Bagian Dari Program “Suara Pekerja: Stop Kekerasan dan Pelecehan di Dunia Kerja” yang Mendapat Dukungan Dari “VOICE”)

Nurul Nur Azizah dan Osi Naya

Nurul Nur Azizah, Bertahun-tahun jadi jurnalis ekonomi-bisnis, kini sedang belajar mengikuti panggilan jiwanya terkait isu perempuan dan minoritas. Penyuka story telling dan dengerin suara hujan-kodok-jangkrik saat overthinking malam-malam. Dan Osi Naya, Design Grafis Yang Senang Berkampanye Untuk Isu Perempuan

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email