Protes Bikini Dinar Candy Dianggap Porno, Perempuan Dilihat dari Tubuh Tapi Argumen Diabaikan

Penangkapan polisi atas aksi artis, Dinar Candy yang berbikini ketika melakukan aksi semakin meyakinkan bahwa seksualitas perempuan selalu dianggap masalah.

Seksualisasi perempuan lebih menyita perhatian ketimbang mendengarkan argumen yang mereka sampaikan. Beda dengan laki-laki yang tak dianggap masalah saat telanjang dada dan berargumen apapun di publik.

Tubuh berbikini artis Dinar Candy yang melakukan aksi protes atas pelaksanaan PPKM di masa pandemi tiba-tiba viral. Protes ini dilakukan ketika Dinar Candy (sebagai perempuan), untuk menunjukkan keprihatinannya atas Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) yang dianggapnya bermasalah.

Dinar candy sebenarnya sedang melakukan protes dengan kekuatan femininitasnya. Protes dengan menggunakan tubuh telanjang ini sebelumnya juga telah banyak dilakukan para perempuan di berbagai negara.

Para perempuan di Inggris yang dimotori oleh aktivis Extinction Rebellion atau XR pada Juli 2021 protes atas kebijakan perubahan iklim dengan telanjang dada. Mereka bertelanjang dada di pusat Kota Leeds, Inggris. Protes yang sama pernah dilakukan para perempuan di Australia di tahun 2019 yang dikekang kebebasannya. Perempuan Chile juga memprotes atas banyaknya kekerasan perempuan dengan telanjang dada. Ini dilakukan sejumlah aktivis pembela hak-hak perempuan di Santiago, Chile pada Desember 2019.

Di Medan, Indonesia beberapa kali para ibu menggunakan metode memakai bikini dan bertelanjang dada untuk memprotes perusahaan industri yang tak bertanggungjawab atas lingkungan hidup mereka.  Ada yang bertelanjang dada mencegat bego/ alat berat yang akan menggusur tanah-tanah mereka. Aksi telanjang dada juga dilakukan ibu-ibu warga desa Mio, Amuban Selatan, Timor Tengah Selatan, NTT pada 12 Mei 2020 memprotes relokasi yang akan dilakukan pemerintah NTT.

Dilansir dari CNN Indonesia, Dinar mengekspresikan protesnya dengan demo di pinggir jalan dengan mengenakan bikini. Dalam aksinya, Dinar menyatakan stres terkait keputusan pemerintah memperpanjang PPKM. Ia mempertanyakan, sampai kapan model pembatasan seperti ini akan berakhir. Pada Rabu, 4 Agustus 2021 Dinar mengupload video protesnya di Jl. Lebak Bulus, Jakarta. Video tersebut kemudian viral, polisi kemudian menurunkan tim dan membawanya ke kantor polisi Polres Metro Jakarta Selatan, Dinar terancam terkena UU ITE dan UU Pornografi.

Metode telanjang dada untuk voiceless

Lalu mengapa metode ini digunakan Dinar dan para perempuan untuk protes? Penyebabnya karena suara perempuan selama ini tidak didengar atau voiceless. Telanjang dada menjadi metode argumentasi untuk menarik perhatian agar perempuan mendapatkan atensi untuk bersuara.

Tapi di Indonesia, polisi dan sebagian publik hanya melihat ini sebagai ketelanjangan perempuan, bukan esensi atas protesnya.

Polisi dan sebagian publik itu juga punya standar ganda dalam melihat ketelanjangan perempuan: perempuan yang berbikini dianggap tidak sopan, jahat, jelek. Sedangkan laki-laki yang bertelanjang dada dianggap tak bermasalah. Tidak ada seksualisasi atas laki-laki, yang ada hanya seksualisasi perempuan.

Di Indonesia sebutan untuk perempuan atas aksi seperti ini, memang tak pernah lepas dari anggapan tubuh yang porno, tubuh yang melanggar agama. Namun mengapa standar ini menjadi berbeda disematkan pada laki-laki?

Seksualisasi terhadap tubuh perempuan itu bisa berbahaya jika terus dipertahankan. Kita sering melihat perlakuan yang buruk terhadap para ibu yang sedang menyusui di angkutan umum. Tubuh ibu yang menyusui dianggap tubuh yang menggoda, karena memperlihatkan salah satu anggota badan yang dianggap porno: payudara. Padahal laki-laki yang sedang berjemur matahari dengan telanjang dada dianggap tidak porno.

Ini semakin menunjukkan jika perempuan selalu dinilai dari ketelanjangannya, dari tubuhnya yang harus menjaga kesopanan dan penilaian dari orang lain.

Jika tidak melakukan aksi berbeda, tidak mendapat perhatian

Di Indonesia, ada 2 macam aksi yang dikenal di gerakan sosial, yaitu aksi tradisional dan aksi modern. Aksi tradisional dilakukan dengan mengumpulkan massa dan turun ke jalan, sedangkan aksi modern dilakukan dengan menggunakan internet/ sosial media.

Kita tahu di Indonesia, aksi-aksi protes ini selalu dilakukan dengan susah payah: aksi harus berbeda, harus dengan kalimat yang menggelitik, harus mengikuti tren isu kekinian untuk menarik perhatian massa internet.

Sedangkan untuk aksi tradisional, harus mengumpulkan massa ribuan, gerebek pabrik, tutup jalan tol, gembok DPR. Aksi-aksi seperti ini baru menarik perhatian, jika menyedot perhatian publik. Jika tidak meyedot perhatian publik, pemerintah tidak mau dengar.

Aksi perempuan soal disahkannya RUU Penghapusan Kekerasan Seksual atau aksi Pekerja Rumah Tangga untuk pengesahan RUU Perlindungan PRT sebenarnya sudah bertahun-tahun dilakukan, namun tak juga mendapat reaksi untuk segera disahkan. Para PRT juga pernah melakukan aksi “menarik” yaitu aksi membentangkan serbet raksasa, kala itu para PRT dijanjikan ketemu DPR, namun sampai 17 tahun menunggu, RUU tak juga disahkan.

Aksi lain juga kerap dilakukan para buruh dan petani, namun sedikit sekali bisa menjadi viral seperti yang dilakukan Dinar Candy.

Dinar Candy adalah salah satu contoh protes yang memakai tubuh untuk menarik perhatian publik. Maka yang harus dilihat adalah aspek yang dimunculkan Dinar candy, kita sering lupa PPKM selalu menjadi momok buruk bagi perempuan, banyak aspek yang mereka rasakan. Aspek ini yang tak dilihat oleh polisi dan sebagian warganet.

Aksi seperti ini bagi feminis postmodern dilihat sebagai metode dekonstruksi atas norma yang menjerat perempuan. Meskipun dilihat sebagai ironi karena perempuan harus melakukan segala upaya untuk mendapatkan atensi publik, namun ini justru sebagai upaya perempuan menggunakan kekuatan dari femininitasnya untuk bersuara. 

Feminis postmodern menolak penjelasan tunggal soal opresi perempuan dan memberikan ruang bagi perempuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan mereka. Karena feminisme postmodern percaya, perempuan punya cara yang unik untuk menyelesaikan persoalan mereka. Ini juga sekaligus sebagai upaya feminisme postmodern yang menolak cara-cara penyelesaian yang dilakukan dan selalu berkiblat pada laki-laki. Karena perempuan selalu punya caranya sendiri.

Jadi pak polisi dan warganet sekalian, lihatlah argumentasi atas protes ini, jangan lagi menambah ironi karena tak mampu melihat persoalan yang sedang diperjuangkan oleh perempuan!

(Foto: Samudrapost.com)

Nur Aini dan Luviana

Nur Aini, Jurnalis dan Aktivis Perburuhan. Lulusan Pascasarjana Kajian Gender Universitas Indonesia (UI), dan Luviana, Pemimpin Redaksi Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email