Tak Cuma Laki-laki, Perempuan Bisa Jadi Pencari Nafkah Utama

Banyak perempuan menjadi main breadwinner atau pencari nafkah utama. Ini membuktikan bahwa fungsi sebagai main breadwinner bisa dipertukarkan antara perempuan dan laki-laki

Ini cerita tentang Rasti, perempuan pekerja yang menjadi pencari nafkah utama atau main breadwinner dalam keluarga. Ia berbagi peran dengan suaminya yang bekerja mengurus anak di rumah

Hari itu, Rasti terus berlari menembus keramaian lalu lalang karyawan lain di halaman pabrik. Asap dari kendaraan bermotor para penjemput karyawan tak ia hiraukan. Hidungnya telah terbiasa sekarang. 

Dulu, mungkin ia akan terganggu dan terbatuk-batuk karenanya. Tetapi, kini hidung itu telah terlatih membaui bermacam zat yang jauh lebih buruk daripada hanya sekedar asap.

Ia bergegas membelah kerumunan untuk segera mendapatkan tempat duduk di sebuah angkutan umum jurusan rumahnya yang menunggu di sebelah timur pintu keluar pabrik. Angkutan umum itu telah penuh sesak oleh penumpang, tetapi Rasti tetap menjubelkan dirinya masuk ke dalam agar cepat dapat pulang ke rumah.

Beberapa penumpang yang tak ia kenal sedikit menampakkan raut wajah tak sukanya. Ah, mengapa mereka tak menyadari bahwa ia juga seperti mereka, sama-sama ingin segera pulang. Melepas penat seharian bekerja dan mendapat makian dari atasan. Setidaknya rumah menjadi tempat berpulang dan merasakan kenyamanan keluarga serta kelucuan anak-anak yang menantikan hadirnya ibu mereka.

Angkutan umum jurusan Mojoagung itu melaju pelan membawa penumpang yang penuh sesak. Aroma di dalam tak usah ditanyakan lagi. Oh, bau keringat para karyawan yang kelelahan dan bau bensin kendaraan bercampur aduk dan mampu membuat mual siapa saja yang tak terbiasa.

Sepanjang jalan menuju terminal Mojoagung, beberapa kali angkutan itu menurunkan satu demi satu penumpangnya. Semakin ke arah timur, semakin tinggal sedikit saja penumpang yang tersisa. Membuat Rasti dapat sedikit bernapas lega dan menikmati duduk dengan sedikit lebih leluasa daripada sebelumnya. 

Rasti adalah karyawan pabrik sepatu di kotanya. Setiap pagi hingga petang bekerja di sana dengan gaji sebatas Upah Minimum Kota/ UMK yang berlaku dan kadang kala bila ada jam lembur sampai malam, ia harus beralih naik bus untuk dapat pulang. Ia sebenarnya tidak suka naik bus, karena supirnya selalu terkesan terburu-buru sekali menaikkan penumpang. Belum juga ia duduk, bus sudah melaju kencang lagi sampai seringkali ia terhentak kaget sambil ketakutan berpegangan pada apapun yang dapat diraihnya.

“Yo, terakhir, terakhir!.” Tanpa terasa, sambil melamun, angkutan itu telah sampai di terminal Mojoagung. 

Suara teriakan sang kenek membuatnya tersadar dari lamunan dan segera turun sambil tak lupa menyerahkan sejumlah uang kepada kenek tersebut. Ia dan dua orang tetangga desanya saling sapa sekedarnya dan menuju kepada suami masing-masing yang telah menunggu di sana. Rasti dijemput oleh suaminya, Galang bersama putri kecilnya, Tiara.

Dunia telah berputar. Kini, banyak laki-laki yang bertugas menjaga anak-anak mereka di rumah ketika sang istri banting tulang bekerja di pabrik-pabrik. Fenomena ini telah menjadi pemandangan biasa, dimana memang perusahaan-perusahaan lebih banyak mencari karyawan perempuan daripada karyawan laki-laki, seperti di kotanya ini

Lowongan pekerjaan untuk laki-laki di kotanya ini sangat terbatas. Sebaliknya, lowongan untuk perempuan banyak terbuka, sehingga mau tak mau para istri dan ibu harus bergerak demi menyelamatkan ekonomi keluarga. Mencari uang demi dapat memberi makan anak-anak serta membayar kebutuhan keluarga mereka.

“Capek, Dik?” Seperti biasa, Galang akan mendekati istrinya baru setelah sang istri selesai mandi dan sedang duduk-duduk di ruang keluarga, bersenda gurau dengan putri mereka yang tengah berusia empat tahun, Tiara. 

Tak lupa Galang membawakan secangkir teh hangat dan meletakkannya di meja sebelah Rasti duduk.

“Iya, nih, Mas. Pengen pijat rasanya badan pegal-pegal semua.”

Rasti mengeluh sembari memutar sedikit lehernya dan menimbulkan bunyi gemeretak tanda memang ia tengah kelelahan beberapa hari ini.

Galang trenyuh dan segera mengambil tempat di belakang sang istri duduk kemudian memijat-mijat pundak serta punggung Rasti dengan sayang. Ia benar-benar tersiksa dengan keadaan ini. Bukannya tak ingin bekerja, Galang sudah pontang-panting mencari pekerjaan tetapi tak juga mendapatkan yang bergaji sesuai dengan biaya hidup yang dibutuhkan keluarga mereka. Ada beberapa pekerjaan bergaji rendah, tetapi Rasti bilang kalau segitu tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan. 

Karena itulah, Rasti saja yang bekerja. Setiap hari rasa bersalah terus saja menghinggapi pikiran Galang. Ia tak sampai hati melihat istrinya terus-terusan bekerja sekeras itu. Tapi, apa mau dikata, sang istri lebih memilih bekerja ketimbang harus di rumah dengan gaji Galang yang hanya separuh dari gajinya sekarang.

Sehari-hari Galang di rumah menjaga anak mereka. Mengantar mengaji, pergi ke PAUD, mengajaknya bermain dan berjalan-jalan serta mengerjakan banyak hal lain, termasuk memasak makanan untuk keluarga mereka.

Dunia tak berhenti berputar. Rasti kadang berpikir ia penat dan ingin berhenti. Tetapi kebutuhan hidup memaksanya tetap bertahan dengan kondisi yang seperti itu.

Sebetulnya bila Rasti mau sedikit saja lebih memilih untuk hidup dengan kondisi keuangan yang serba pas-pasan seperti ketika suaminya yang bekerja, ia bisa fokus mengerjakan pekerjaan rumah, namun ia tak memilih itu

Yang dilakukan Rasti sebenarnya adalah bahwa laki-laki dan perempuan punya peran yang sama dan bisa dipertukarkan, laki-laki bisa menjadi bapak rumah tangga, sedangkan perempuan bisa bekerja di luar.

Pertukaran peran ini yang kadang masih asing bagi banyak orang, ada yang menyatakan jadi ibu rumah tangga itu takdir karena takdir laki-laki bekerja di luaran. Padahal anggapan itu salah, karena peran ini bisa dipertukarkan, seperti yang terjadi pada Rasti dan Galang 

Perempuan Sebagai Main Breadwinner

Main Breadwinner adalah pencari nafkah utama dalam keluarga. Sejak tahun 1950-an, para feminis mengkritik pembagian kerja dan perawatan berdasarkan gender dan peran pencari nafkah yang harus dipenuhi oleh laki-laki. Padahal peran ini bisa dipertukarkan

Model pencari nafkah ini berkembang pada akhir revolusi industri pada pertengahan abad 19 ketika orang mulai mengenal pekerjaan industri dan meninggalkan pekerjaan pertanian. Ketika itulah orang diupah dengan uang, dan sejak itu juga maka pemenuhan kebutuhan keluarga dilakukan menggunakan konsep industri yaitu berdasarkan uang atau upah untuk memenuhi kebutuhan

Namun sayangnya kerja-kerja pengupahan ini kemudian lebih mendapatkan penghargaan karena dianggap bisa memenuhi kebutuhan, sedangkan pekerjaan rumah tak dihargai.

Padahal pekerjaan rumah juga menjadi bagian pemenuhan kebutuhan rumah. Wacana tradisional inilah yang kemudian menguat dan membuat perempuan tersingkir dari anggapan bahwa ia bisa memenuhi kebutuhan rumah.

Selama masa ini ekonomi sangat bergantung pada laki-laki yang dianggap mendukung keuangan keluarga dan menyediakan sumber pendapatan utama. Tantangan bagi perempuan menjadi semakin signifikan, karena kerja-kerja rumah tangga tidak mendapat penghargaan.

Peran menjadi main breadwinner maupun menjadi pengelola rumah tangga nyatanya bisa dipertukarkan. Dan tidak pada tempatnya jika peran dalam rumah tangga tak dianggap penting, karena kerja-kerja rumah tangga justru kerja-kerja panjang yang sering tidak kelihatan, yang seharusnya diberikan upah atau penghargaan yang sama dengan kerja di luaran

(Foto/ Ilustrasi: Canva)

dian apriria mufidhah

Seorang ibu dengan dua putri pegiat literasi. Penyuka membaca dan menulis sejak kecil tetapi baru berkesempatan menulis dalam beberapa antologi cerpen maupun puisi pada awal tahun 2021. Penulis juga telah menerbitkan sebuah novel solo berjudul “Pesan Kematian Gwen” pada bulan Juni 2021 dan menyusul novel solo kedua berjudul “Sebentuk Hati untuk Jingga” juga akan terbit di tahun 2021

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email