Uang Untuk Beli Beras, Sekarang Untuk Beli Masker: Beban Hidup PRT

Setiap bulan, para PRT harus menyisihkan uang untuk membeli masker dan hand sanitizer. Bagi Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang hidupnya pas-pasan, pembelian masker dan hand sanitizer akan mengurangi jatah uang untuk beli beras

Dalam sebulan, kami sekeluarga harus membeli masker 2 pack atau Rp. 50 ribu sebulan, ini belum termasuk membeli hand sanitizer. Uang yang harusnya bisa untuk membeli beras, kini harus dipakai untuk membeli masker dan hand sanitizer.

Nama saya Yuni Sri, saya bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT). Saya punya empat anak dan tinggal di Jakarta. Suasana pandemik masih juga berlangsung, dan jujur ini membuat saya selalu sedih karena merasakan imbasnya.

Sudah 11 tahun saya bekerja sebagai PRT. Selama 2 tahun terakhir menjadi Pekerja Rumah Tangga (PRT), saya pernah merasakan kehilangan pekerjaan dan harus cari tambahan uang dengan berjualan online. Tapi karena modal yang tak cukup dan sepi pembeli, saya berhenti berjualan online.

Di usia saya yang 39 tahun ini saya berjuang menghidupi ke 4 anak saya, walau keadaan sedang tidak baik-baik saja.

Karena situasi pandemi, saya sebagai PRT harus mengutamakan kesehatan diri, apalagi saya PRT yang bekerja secara part time (paruh waktu). Prokes harus selalu saya terapkan, guna melindungi diri kami dari virus corona yang tak kenal pandang bulu, juga untuk keluarga majikan.

Karena takut virus ini menyerang, maka kami harus mengikuti aturan pemerintah, seperti menggunakan masker dan hand sanitizer. Tidak menggunakan masker bisa di denda, bukan karena takut denda juga, tapi saya memakai demi melindungi diri saya, menjaga diri dan menjaga orang lain.

Tapi membeli masker tentunya akan menambah pengeluaran di masa sulit seperti ini. Masker medis biasa saya beli berkisar harga Rp. 22 ribu sampai 25 ribu per-pack. Kalau mau dituruti, saya akan menghabiskan 1 sampai 2 pack dalam sebulan. Ya, kalau mau irit saya hanya membeli 1 pack dicampur dengan masker kain. Belum lagi untuk beli hand sanitizer.

Karena sekarang ada pernyataan pemerintah harus menggunakan double masker maka mau tidak mau kami harus membelinya, apalagi saya bekerja dengan naik motor ke tempat majikan yang agak jauh jaraknya.

Sebenarnya berat untuk membelinya walaupun saya selalu membeli masker yang dijual di jalanan karena harganya lebih murah dari masker yang harus dibeli di apotek seharga 50 -55 ribu per-pack nya. Dan saya juga tidak tahu apakah masker yang saya beli ini baik atau tidak karena di luaran ada berita yang menyatakan masker yang murah adalah masker olahan yang sudah dipakai.

Di rumah  saat ini ada 4 anak saya yang harus menggunakan masker jika keluar rumah, dan kalau dituruti mungkin lebih dari 2 pack sebulan. Tapi saya hanya bisa membeli maksimal 2 pack, itupun harus saya lihat kondisi keuangan adakah uang lebih dari bayar-bayar urusan yang lain.

Mau bagaimana lagi, karena uangnya hanya bisa membeli yang seharga itu, itupun saya harus menyisihkan uang belanja. Karena saya sadar kebutuhan saya bukan hanya untuk membeli masker saja, tapi juga hand sanitizer yang tidak murah. Selain itu pasti untuk makan kami berempat yang jadi kebutuhan utama demi untuk kelangsungan hidup.

Ada 4 anak saya juga yang harus saya perhatikan makan dan gizinya, apalagi si kecil yang masih usia 4 tahun harus minum susu formula.

Karena pandemi ini saya bekerja part time, maka saya harus mengganti susu formulanya menjadi susu kental manis, walaupun saya tahu itu tidak terlalu baik untuknya, tapi mau gimana lagi, karena lagi-lagi uangnya tidak cukup, saya harus membagi-bagi upah saya untuk semua kebutuhan rumah.

Pemerintah tidak memberikan masker gratis

Selama pandemik hampir 2 tahun ini, di tahum 2020 saya pernah kehilangan pekerjaan, karena majikan harus pulang ke negaranya akibat Covid-19.

Selang beberapa lama saya memang mendapatkan ganti pekerjaan tapi tidak bertahan lama, karena majikan saya pindah ke negaranya lagi dan saya tidak bisa melanjutkan, kebetulan saat itu dalam satu rumah ada 3 majikan dan 2 majikan harus pindah keluar Jakarta.

Akhirnya saya bertahan bekerja di 2 majikan secara part time. Saya masih bersyukur karena masih ada pekerjaan dan masih mendapatkan upah. Karena di luar sana banyak kawan PRT yang malah kehilangan semua pekerjaannya.

Saya hanya berpikir harus memutar otak untuk menambah penghasilan demi kelangsungan hidup, jadi saya mencoba untuk berjualan online. Awal-awal dagangan saya sukses, tapi selanjutnya menurun karena faktor modal dan pembeli yang berkurang, dan akhirnya hutang saya malah bertambah, waktu itu saya  menjual berbagai macam tas sampai makanan frozen. Namun karena tak ada modal lagi, maka saya tak lagi jualan online.

Untuk masker ini, selama ini pemerintah tidak memberi bantuan, pemerintah memberikan gratis masker dan obat obatan bagi yang terkena Covid-19, padahal yang tidak kena harusnya juga di beri kemudahan karena mencegah lebih baik daripada mengobati.

Saya berharap pandemik Covid-19 ini segera berakhir supaya pekerjaan saya yang dulu hilang bisa saya dapatkan kembali. Supaya perekonomian kembali normal, mencari lahan pekerjaanpun mudah, karena imbas dari pandemik ini bukan hanya saya saja yang merasakan banyak kawan diluar sana yang merasakan, kehilangan pekerjaan.

Doa saya semoga jiwa raga ini sehat selalu, dan pandemi segera usai.

“KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisanTulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co dengan Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Yuni Sri

Bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) di Jakarta dan Aktif di JALA PRT

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email