‘Cuma bercanda’: Toksiknya Normalisasi Pelecehan terhadap Laki-laki

Pelecehan terhadap laki-laki, juga kita jumpai sehari-hari. Jika ini dibiarkan, maka ini seperti menormalisasi pelecehan terhadap laki-laki

Sepekan terakhir, ramai di media sosial dan berita, tentang kasus pelecehan dan pembullyan yang terjadi di salah satu institusi negara. Sebut saja, KPI atau Komisi Penyiaran Indonesia. Kali ini, korban dan pelaku sama-sama laki-laki.

Butuh waktu bertahun-tahun, bagi korban berani speak up, setelah sebelumnya terabaikan dalam penanganan di kepolisian hingga internal lembaga.  

Di lingkungan patriarkis, tentu hal itu tak mudah karena laki-laki selama ini diproyeksikan sebagai kalangan yang mestinya ‘macho’ dan selalu harus kuat. Tidak boleh cengeng, tidak boleh bersedih, tidak boleh gampang stres, dan tidak boleh mudah tersinggung.

“Yaelah, cuma bercanda!”

Barangkali begitu kata yang tepat untuk menggambarkan bagaimana laki-laki selama ini ‘dibungkam’ saat mencoba menyampaikan perasaan atau reaksinya soal pelecehan. 

Dari rilis yang beredar di awal September 2021 kemarin, para pembully korban di KPI menganggap aksi mereka hanya ‘guyonan’ belaka. Saat korban merasa tidak nyaman, yang sampai mengacaukan kondisi fisik dan mentalnya, para pembully tetap bertameng pada kalimat semacam, “masa laki-laki digituin aja tersinggung, kan cuma bercanda.”

Kalimat yang menunjukkan betapa maskulin ‘beracun’nya, yang berakar kuat dari patriarki. Penormalisasian pelecehan terhadap laki-laki, juga acap kali kita jumpai sehari-hari. Misalnya saja, apa yang terjadi pada kawan dekat laki-laki saya. Dia baru saja mengalami patah hati, dan teman-teman sesama laki-lakinya justru ada yang merespons dengan perkataan

“Alah, cuma gitu doang!” 

Memang sih, si teman itu tidak mengatakannya di depan wajah teman saya yang sedang patah hati secara langsung. Tapi tetap saja, si teman itu meremehkan, atau tidak memvalidasi kesedihan yang dialami temannya yang sedang patah hati. Seolah sebagai laki-laki ia tidak boleh merayakan kesedihannya, tetapi harus segera bangkit dan berburu mencari perempuan baru agar dianggap “laki-laki sejati”.

Maskulinitas beracun membuat para lelaki tidak divalidasi perasaannya karena mereka bukan perempuan, bukan perasa. Mereka tidak boleh baper (bawa perasaan)! Kalau baper bukan laki-laki! Kalau baper berarti seperti perempuan!

Sial betul hidup di tengah dunia yang patriarkis ini. Itu kemungkinan baru segelintir contoh dari banyaknya laki-laki patriarkis dengan nilai-nilai maskulinitas beracun yang tertanam dalam kepala mereka. 

Terlebih, jika para laki-laki dengan maskulinitas ‘beracun’ itu, menduduki posisi-posisi strategis di ruang atau lembaga publik, yang mungkin saja langkah dan kebijakannya mempengaruhi hajat hidup orang banyak. Maka, ini akan sangat membahayakan. Rasa-rasanya, sulit bagi saya untuk mengharapkan jaminan ruang aman, nyaman, dan bahagia yang luas bagi semua orang.

Tapi, bagaimana pun itu, saya berterima kasih kepada siapapun korban yang telah berani bersuara, yang dalam kasus terkait institusi negara ini, yang kebetulan laki-laki. Terima kasih karena sudah memulai langkah paling penting.

Saya juga berharap, dunia dapat berubah ke arah yang lebih baik. Menjadi dunia dimana polisi-polisi menyadari bahwa posisi (relasi kuasa) yang tidak setara membuat tindakan kejahatan sulit diselesaikan secara internal. Dunia dimana Rancangan Penghapusan Kekerasan Seksual/ RUU PKS disahkan dengan lebih mudah, tanpa intervensi yang membuat para penyintas kekerasan seksual patah hati. Dunia dimana aturan seperti RUU PKS mendorong tiap instansi memiliki langkah pengentasan pembullyan dan pelecehan seksual yang memadai. Dunia dimana para lelaki boleh bersedih, menangis, dan merayakan kemarahan sebagaimana mestinya manusia yang hidup dengan perasaan.

Saya pikir kasus pembullyan, pelecehan, dan kekerasan seksual adalah kasus yang ‘istimewa’. Korban yang bicara sudah sejak jauh hari menimbang segala resiko yang mungkin ia terima. Adalah wajib untuk mendapatkan dukungan dan pendampingan. 

Lagipula kasus kekerasan seksual sangat mungkin banyak terjadi di dunia yang patriarkis ini, bahkan tanpa disadari pelaku. Namun sebagai manusia, pelaku harusnya mempelajari bahwa apa yang ia lakukan sudah mengganggu ketenangan hidup orang lain.

Jika mereka benar-benar manusia, para pelaku ini mestinya tak sibuk sekadar menjaga nama baik.

Sanya Dinda

Sehari-hari bekerja sebagai pekerja media di salah satu media di Jakarta

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email