Direndahkan dan Dianggap Buruk: Yang Dialami Perempuan Papua

Yang sangat kuingat ketika mendengarkan cerita teman perempuan Papua adalah ketika mereka mengalami rasisme yang berkali kali, direndahkan dan dianggap buruk

Kedekatanku dengan teman-teman di Papua sebenarnya sudah terjalin hampir  lima tahun ini. Tentu saja kami bertemu di banyak tempat, di acara-acara diskusi dan demonstrasi di jalanan

Banyak teman teman Papua yang menyuarakan kondisi yang mereka alami, seperti ada teman Papua yang memperjuangkan nasibnya sendiri untuk menghadapi stigma kebodohan.

Yang paling menarik bagiku adalah berteman dengan para perempuan Papua. Pertemanan ini mengalir dengan sendirinya karena ada banyak cerita-cerita pilu diskriminasi yang dialami oleh mereka. Kami biasa berkumpul untuk merajut, membuat prakarya kerajinan tangan, atau membuat kepangan rambut. Satu yang ku suka dari mereka, mereka ramah, tulus dan murah pujian.

Jika aku datang ke asrama Papua, pasti mereka akan menyambutku dengan ramah, kadang kita berpesta, karena sudah menjadi kebiasaan mereka berpesta jika ada teman diluar Papua yang sudah dianggap saudara.

Pernah satu hari ketika aku diundang ulang tahun teman Papua, mereka memberikanku hadiah pakaian dalam rajutan. Ini benar-benar mengharukan. Pembicaraan yang kami lakukan banyak di seputar isu rasisme, penindasan tubuh dan berbagai cerita yang di dalamnya mengandung kekerasan dan teman-teman menjadi korbannya.

Mereka juga selalu diberi olok- olok karena kulit mereka yang hitam, mendapatkan kekerasan pukulan pada wajahnya ketika berpacaran dan hal-hal yang merendahkan

Yang kuhayati ketika mendengarkan cerita teman perempuan Papua adalah ketika mereka mengalami rasisme yang berkali kali mereka alami

Pernah pada suatu hari, kami sama-sama menghadiri malam kebudayaan. Jadi untuk menghormati teman Papua diawali dengan menyanyikan lagu Papua. Entah kenapa kulirik muka teman teman Papua begitu khidmat. Bahkan beberapa teman perempuan menangis. Ini membuatku penasaran. Terselip rasa ingin tahu dan iba yang dalam.

Aku bertanya pada salah satu teman Papua kenapa ia menangis. Mula mula ia hanya menjawab “tidak apa apa”.

Aku tidak memaksanya ia membagikan coklat batangan kepadaku dan kami memakannya bersama. Lalu percakapan mengalir pada seputar make-up. Lalu ia mulai bercerita mengenai kekesalannya kepada orang orang-orang yang melihatnya seolah orang asing yang ditakuti, ia juga sedih kalau ada semacam candaan yang menyamakan teman Papua sebagai wajah yang hitam dan buruk, perbincangan juga semakin intens dengan membicarakan tentang aparat yang menginjak orang-orang Papua.

Kami lalu menangis bersama. Ia menambahkan bahwa tindakan rasis ini sampai kepada perlakuan dosennya di kampus. Dosennya seperti memperlakukannya tidak sama seperti mahasiswi lainnya. Ia berani mempertanyakan keadilan. Mengapa ia diperlakukan berbeda. Kenapa dosennya seperti memasang muka “jijik” dan selalu harus segera pergi dari hadapannya.

Ia mengatakan bahwa warna kulit “bukan ia yang minta, tapi Tuhan yang beri”. Perkataan ini membuat kami berpelukan dan saling menguatkan. Kami berjanji akan menjadi sepasang sahabat. Memang terkadang kehidupan itu rapuh, seperti halnya apa yang kita tunjukkan tidak sepenuhnya akan dimengerti oleh orang lain.

Semoga tulisan ini sedikit membuka paradigma pengetahuan mengenai teman Papua.

Jessica Ayudya Lesmana

Penulis Waria Autodidak, Anggota Tim Cemeti dan Kontributor Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email