Mama Saya Adalah Ibu Rumah Tangga ‘Ideal’ Dalam Pasar Bebas Kapitalisme

Mama saya telah meletakkan kebebasannya di sudut paling gelap dalam sebuah peran ‘ideal’ keluarga di bawah tubuh kapitalisme. Sebagai ibu yang tak pernah dibayar pekerjaannya

‘Saat kapitalisme memperbudak laki-laki, dan kemudian dengan membayar perempuan melaluinya, menjadikan perempuan sebagai budak laki-laki, perempuan menjadi budaknya budak, yang mana hal itu merupakan jenis perbudakan paling buruk.’

Itu adalah kutipan kata-kata Bernard Shaw (1928). Dan ini merupakan bagian refleksi singkat atas buku ‘Mengapa Perempuan Bercinta Lebih Baik di Bawah Sosialisme’ karya Kristen R. Ghodsee yang diterjemahkan oleh Cep Subhan KM melalu Jalan Baru Publisher, khususnya pada bab “Perempuan—Seperti laki-laki, tetapi Lebih Murah: Tentang Kerja”. 

Saya akan memulainya dengan apa yang saya dengar pagi ini di ruang keluarga rumah ini. Mama saya, seorang perempuan yang memutuskan menjadi ibu rumah tangga sejak tahun ketiga pernikahannya, ketika waktu itu ia merasa saya dan saudara kembar saya telah cukup lama diasuh oleh babysitter (karena merasa telah dicukupkan oleh gaji papa saya yang seorang staff keuangan sebuah perusahaan swasta).

Namun baru saja ia mengeluh dengan berbisik (bukan kepada saya, lebih kepada dirinya sendiri).

“Duh, kuota Mama abis, nih. Nanti deh tunggu papa udah gak sibuk sama kerjaannya.”

Betul ia menunggu, sampai setengah hari, sampai ia merasa mendapati waktu yang tepat untuk meminta kuota sebesar 100 ribu dari suaminya yang menjadi jatahnya setiap bulan. Waktu yang tepat ini berarti waktu leluasa papa, waktu ketika mood papa sedang bagus.

Beberapa tahun sebelum mama mengabdikan dirinya menjadi seorang istri, ia adalah seorang sekretaris sebuah perusahaan otomotif multinasional asal Korea Selatan.

Ketika menikah dengan papa, beberapa rupiah gajinya cukup untuk membeli setengah harga rumah yang kami tempati saat ini. Mama seorang lulusan D3 Bahasa Inggris dan mengambil sertifikat kursus Bahasa Perancis di Institut Français Indonesia.

Dengan bekal ini, mama berpotensi minimal membuka kursus. Dan ya, ia memang melakukan ini, tapi lama sekali, bertahun-tahun setelah ia menyadari ia tidak bisa memiliki kartu kredit atas namanya sendiri, setelah saya memiliki seorang adik, dan tempramen papa saya belum sestabil hari ini.

Ia melakukannya. Lalu ia membuka kursus bahasa Inggris untuk anak-anak sekolah dasar demi satu tujuan: menambah pendapatan setalah dulu papa di-PHK oleh kantornya, bekerja serabutan selama sembilan tahun dan satu-satunya yang bisa diharapkan adalah sisa-sisa tabungannya. Saat itu mama melakukannya karena keharusan. 

Definisi “passion” sudah lama hilang dari kamusnya. Ia sudah menanggalkan identitasnya sebagai perempuan yang ingin bekerja dan itu kelihatannya menjadi keputusannya—sampai hari ini.

Kuota hanyalah salah satu jatah yang ia tunggu-tunggu setiap bulan. Gamis model terkini, makan bersama teman-teman di restoran, tiket nonton film, barangkali adalah jatah-jatah lain yang tidak pernah secara langsung mama sampaikan—tapi saya tahu betul ia menginginkannya.

Jadi begitulah. Selama 25 tahun, mama dan papa memainkan suatu peran keluarga tradisional. Dan seperti yang dikatakan Ghodsee dalam bukunya, secara kasat mata seluruh kerja yang mama lakukan untuk mengasuh anak-anak (baca: saya dan adik-adik saya), mengatur kehidupan kami, dan mengelola rumah ini tidaklah tampak sejauh berkaitan dengan pasar.

Saya betul-betul tidak menyangsikan segala yang telah ia berikan kepada anak-anaknya. Sudah tentu kasihnya sepanjang masa dan pertaruhan hidup atas kami tidaklah pernah bisa terbalas. Namun, di bawah kapitalisme negara, industrialisme memperkuat satu pembagian kerja yang memusatkan laki-laki dalam ruang publik dari pekerjaan formal dan menjadikan perempuan atas kerja tanpa bayaran dalam ruang privat.

Dalam beberapa momen di jam-jam istirahat memasaknya, mama pernah mengeluh dengan lucu,

“Kemarin teman kuliah mama ngajak makan di luar, udah lama gak ketemu. Tapi papa pasti gak ngizinin.”

Firasat mama itu seringkali benar terjadi. Sebab uang bulanan mama bersumber dari uang gaji papa, jadi mama merasa papa punya kontrol atas pengeluaran di luar uang masak dan keperluan rumah tangga. Lebih lagi, mama merasa papa memiliki kendali atas waktu yang mama miliki.

Ini kelihatannnya tidak begitu pelik dan tidak perlu dipersoalkan, sebab sebagian kita mengamini konsep kepemilikan seperti ini bersifat konvensional; apa yang selama ini masyarakat kita sepakati.

Tapi izinkan saya mengatakan ini, hal yang sama sekali tidak akan pernah saya ucapkan langsung kepada mama: selamanya mama ada dalam belas kasih papa saat mereka berdua masih terikat dalam sebuah pernikahan.

Sekarang, ketika kondisi ekonomi keluarga ini dalam keadaan stabil dan lebih dari sekadar cukup, ketika mama menyaksikan saya mengambil jalan karir menulis dan bermusik (mereka masih sering menyebutnya karir sampingan) yang barangkali tidak pernah diprediksikan oleh siapa pun di rumah ini, apa yang kadang-kadang saya dengar menjadi lebih seru,

“Mama udah lama gak nari Bali, deh. Dulu pernah diminta sama TVRI.”

Ya, saya semakin bisa membayangkan masa muda mama. Mama yang masih beranjak dewasa persis seperti saya saat ini: muda, bebas, berbahaya. Bisa memilih apa yang ia mau dengan hidupnya

Mama saya telah meletakkan kebebasannya di sudut paling gelap memorinya dan menggantinya dengan pengabdian tanpa batas sebagai seorang ibu rumah tangga, sebuah peran ‘ideal’ keluarga di bawah tubuh kapitalisme.

Jika saya boleh membuat sebuah kerangka pemikiran paling sederhana dari permasalahan inti masyarakat kapitalisme yang digugat Ghodsee, maka modelnya akan seperti ini: pembagian peran tradisional yang dipilih orang tua saya—lebih khusus diputuskan papa untuk mama—adalah produk dari sebuah perjalanan panjang langgengnya kapitalisme di muka bumi ini.

Ketika memutuskan itu, saya yakin hal utama yang menjadi pertimbangan adalah tumbuh kembang anak-anak, tapi sadarkah telah lama masyarakat kita begitu berupaya menempatkan para perempuan di rumah demi memenuhi tujuan di luar kepentingan perempuan sebagai individu itu sendiri? Sepanjang hidup mereka, menjadi perempuan saja tidak cukup. Paripurna identitas mereka baru terpenuhi di depan papa dan masyarakat setelah menjadi seorang istri dan ibu. 

Ketika jabatan pekerjaan menjadi ajang kompetisi aktualisasi diri bagi para suami, para istri berbelas rasa menyisihkan sebagian uang saku yang bisa mereka gunakan untuk rekreasi atau membeli daster demi kebutuhan tambahan anak-anak mereka.

Ghodsee menyebut, “dalam teori, upah laki-laki cukup tinggi untuk menjadikan kaum laki-laki bisa menyokong istri dan anak-anak mereka.”

Jadi, maksudnya, menurut kapitalisme, para istri mestinya sudah harus merasa puas dengan menjadi ibu rumah tangga yang menggantungkan ekonominya kepada suami, karena ibu rumah tangga adalah satu-satunya pekerjaan jasa yang tidak diupah di negara ini

Aya Canina

Penulis dan penyair. Menerbitkan buku puisi Ia Meminjam Wajah Puisi (Basabasi, 2020) dan sedang banyak menulis karya fiksi berperspektif perempuan. Dapat ditemui di Instagram dan twitter @ayacanina.

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email