Ini Masa Lalu Saya: Perlu Proses Panjang Membuka Pelecehan Seksual Yang Traumatik

Ini masa lalu saya: di tahun 2015, saya memberanikan diri untuk pertama kalinya membagikan masa lalu yang traumatik ke publik, yaitu pelecehan seksual yang saya alami dari seorang laki-laki seniman. Saya membagi ceritanya saat diundang sebagai dosen tamu di universitas tempat saya menempuh S2.

Akhir tahun 2000 an, saya mengalami kejadian sangat buruk yang telah mengguncang kejiwaan saya dan mengakibatkan trauma berkepanjangan. 

Saat itu saya adalah seorang mahasiswi yang baru lulus sebagai sarjana ekonomi dan sedang giat melamar pekerjaan ke beberapa perusahaan.

Namun situasi saat itu cukup sulit karena  Indonesia mulai dilanda  krisis moneter (1997-1998), sehingga banyak perusahaan gulung tikar, dan banyak sekali sarjana yang menganggur. Ya, saya adalah anak 90-an!

Semasa saya menunggu panggilan kerja, tidak sengaja saya melihat tayangan program di salah satu stasiun televisi swasta, yang menayangkan seorang seniman keramik laki-laki, sedang berpameran tunggal di Galeri Nasional Indonesia di Jakarta. Seketika itu juga saya tertarik untuk belajar seni keramik, sehingga saya mengunjungi studionya.

Saat pertama kali saya mengunjunginya dan mengutarakan niat saya belajar seni keramik, ia mengajak saya mengobrol santai dan menanyakan kesungguhan saya untuk belajar.

Laki-laki ini seorang seniman keramik terkemuka saat itu. Setelah ia yakin dengan kesungguhan saya, ia menerima saya sebagai salah satu muridnya. Saat itu ia telah mengajar banyak murid, ada yang bertahan, namun lebih banyak yang tidak meneruskan belajar.

Pada masa awal saya belajar, saya sangat menikmati menggenggam segumpal tanah liat yang bisa saya remas-remas dan bentuk sesuka hati. Lalu ia mulai mengajarkan teknik-teknik dasar pembentukan tanah liat sebelum menjadi suatu benda. Ia pun sering bercerita tentang filosofi seni keramik yang bermanfaat bagi kehidupan. Saya menjadi semakin menikmati kegiatan belajar, karena ia seorang guru yang ramah dan kaya wawasan.

Namun lama kelamaan mulai terasa kejanggalan, dimana ia mulai mencuci otak murid-muridnya dengan doktrin-doktrin yang sangat toxic. Ia menghina murid-muridnya yang telah sarjana, karena menjadi sarjana berarti harus bekerja kepada orang lain. Ia melarang murid-muridnya untuk menikah, karena ia anti pernikahan.

Dan baginya hidup yang benar adalah hidup secara hedonis. Saya pribadi tidak terlalu menggubris pandangan hidupnya tersebut.

Pelecehan terjadi di masa selanjutnya

Saat saya masih belajar seni keramik dengannya, di masa sedang krisis moneter itu, dan ternyata pada saat yang sama, saya kemudian mendapat panggilan kerja di perusahaan periklanan internasional terkemuka di Jakarta.

Tentunya saya menerima pekerjaan tersebut, karena bekerja di dunia yang dekat dengan kreativitas memang selalu menjadi dambaan saya. Selain itu saya baru lulus kuliah, sehingga masih membutuhkan pengalaman bekerja dan memerlukan uang agar saya mampu mandiri.

Ketika ia mengetahui bahwa saya akan bekerja kantoran, ia lantas tersinggung. Ia merasa bahwa saya tidak menerapkan ajarannya untuk total mandiri dari seni keramik.

Setiap hari saya dilecehkan secara verbal (verbal abuse), dengan menghujani kata-kata seperti: saya melacurkan diri karena bekerja kantoran, berarti saya mau menjadi budak orang lain.

Saya sempat bingung, karena di usia yang baru saja selesai kuliah dan baru mau belajar terjun ke masyarakat untuk mandiri, dan bekerja kantoran adalah salah satu cara saya (journey) untuk bisa mandiri secara finansial dan bisa membiayai passion saya dalam berkesenian, malah dihina dan direndahkan.

Lantaran saya masih bertahan untuk bekerja kantoran, ia mulai melakukan pelecehan secara seksual, yaitu dengan tiba-tiba meraba dan menyentuh bagian intim tubuh saya dan memaksa melakukan hubungan intim, bahkan mempertontonkan kelaminnya, sambil terus menerus menghina saya sebagai pelacur.

Sebenarnya saat itu, saya dalam keadaan dilema, antara perasaan sayang yang tanpa saya sadari mulai tumbuh dari kekaguman seorang murid (23 tahun) terhadap gurunya (43 tahun) serta naluri tubuh dewasa yang penasaran untuk mengalami aktivitas seksual. Namun juga sangat sadar bahwa yang ia lakukan adalah pelecehan seksual, sehingga saya membuat batasan terhadap tubuh. 

Saya telah membuat keputusan, bahwa saya hanya mau berbagi anugerah berupa kenikmatan birahi suci, kepada yang layak saya berikan. Ia memang tidak berhasil menikmati anugerah itu, namun dalam hal ini bukan perkara itu semata, tetapi lebih kepada suatu keputusan dan kuasa diri pada tubuh: “When we say no that’s mean no.”  

Saya telah berhasil menguasai tubuh saya dan dia tidak berhasil menyelesaikan egonya, yaitu mengganggu keluguan saya, bahwa ia mengira saya akan termakan rayuannya untuk melakukan hal yang sangat lapar ia inginkan, sementara saya sangat jijik berbagi kenikmatan dengannya walaupun saya mulai mencintainya. Ini menjadi pergulatan batin saya yang sangat dalam dan sulit.

Trauma yang saya alami

Peristiwa itu membuat saya mengalami trauma luar biasa bertahun-tahun, bahkan kepercayaan diri saya hancur.  Sayapun sempat bertindak sangat bodoh, yaitu berhenti bekerja, karena trauma dihina sebagai pelacur. 

Sampai suatu saat saya menyadari, bahwa saya bukan pelacur, saya tidak bodoh, dan saya tidak layak dihina, dialah manusia yang sangat hina, ia korban dari kebejatannya sendiri. Sejak sadar bahwa yang bermasalah dengan diri adalah dia, saya tidak peduli lagi, dan saya memutuskan untuk meninggalkan dia untuk selamanya. 

Saya pun mulai kembali bekerja kantoran bahkan melanjutkan studi S2. Sejak saat itu pula saya menjadi perempuan yang lebih berani untuk mengutarakan pendapat dan berani mengambil keputusan terbaik untuk diri sendiri, bukan yang ditentukan oleh orang lain, dan dengan demikian, batin lebih tenang dan lebih bahagia.

Saya pernah bertekad bahwa suatu saat saya akan mengungkapkan kisah masa lalu saya sebagai penyembuhan trauma. Perlu keberanian untuk menceritakan pengalaman luka karena terlecehkan. 

Pada tahun 2015, saya memberanikan diri untuk pertama kalinya membagikannya  ke publik, saat diundang sebagai dosen tamu di universitas tempat saya menempuh S2. Saat itu saya  menitikkan air mata, namun setelah itu, beban trauma yang saya sembunyikan selama 15 tahun, lepas sudah. 

Dari pengalaman tersebut saya belajar, bahwa salah satu cara pelepasan trauma adalah dengan berani menceritakan trauma tersebut.

Setelah itu, saya pun tidak pernah merasa sungkan (insecure) untuk menceritakan tentang pelecehan seksual yang pernah saya alami, karena paham bahwa kesalahan bukan pada diri saya.

Sebagai proses pemulihan luka batin, maka saya terapkan menjadi karya karya seni, yang meluluskan saya dari Studi Magister Seni Rupa. Karya tersebut adalah tentang ketubuhan, bahwa tubuh perempuan adalah milik perempuan sendiri. Tidak ada yang berhak menyentuh tanpa seijin diri kita sendiri:“I am the subject of my body. My body is my right – no one may see, touch and feel my body without my consent.”  

Namun seandainya keadaan buruk yang tak diinginkan terjadi, cepatlah sadar, bahwa bukan kita yang bermasalah sebagai korban, namun pelakulah yang mempunyai masalah mental karena kebiadabannya.

Nia Gautama

Biasa menulis dengan nama pena Khara, adalah pekerja seni yang berkarya dan bekerja di Bandung. Ia seorang penikmat kopi yang suka membaca, dan menulis. Karena kecewa berkarir sebagai dosen, maka sehari-harinya selain berkarya dan mulai aktif menulis, juga menjadi penjual buku online

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email