Kamla Bhasin: Aktivis Perempuan India dan Ikon Feminis Asia Telah Tiada

Kepergian Kamla Bhasin, aktivis perempuan India, pada 25 September 2021 ditangisi oleh para aktivis perempuan Indonesia dan Asia. Nyanyian duka dilantunkan di India oleh para perempuan muda yang menjadi muridnya. Ucapan duka terus mengalir di media sosial. Kamla Bhasin adalah feminis yang banyak bekerja untuk menciptakan dunia yang setara bagi perempuan.

Sabtu pagi, sebuah pesan di WhatsApp tiba-tiba masuk. Dari Kamala Chandrakirana, seorang aktivis perempuan.

“Ada kabar Kamla Bhasin meninggal.”

Kabar ini membuat saya shocked dan buru-buru membuka WhatsApp group dimana di WhatsApp tersebut ada nama Kamla Basin disana. Kabar yang sama muncul, berbeda 2 menit dengan pesan sebelumnya. Rasa sakit dan sedih, mendengar Kamla Bhasin meninggal

Kamla Bhasin (75) adalah seorang aktivis, penyair, penulis, dan ilmuwan sosial feminis dari India yang meninggal karena cancer pada 25 September 2021. Perjuangan Kamla Bhasin, telah dimulai pada tahun 1970. Ia banyak bekerja untuk isu gender, pendidikan, pembangunan manusia, dan media.

Kamla pernah bekerja di PBB dan mengundurkan diri dari pekerjaannya di tahun 2002, dan kemudian mendirikan Organisasi South Asian Feminist Network/ Sangat di India. Ajarannya yang sangat terkenal yaitu soal advokasi yang menggabungkan teori feminis dan aksi komunitas. Dia banyak bekerja untuk perempuan miskin dari berbagai komunitas suku dan pekerja, serta melakukan kampanye dengan memobilisasi masyarakat, khususnya di India.

Thehindu.com menulis, di India, dalam 75 tahun usianya, Kamla Bhasin dilukiskan sebagai perempuan yang lebih dari sekadar perempuan dengan wajah yang ramah dan tersenyum. Dia mewakili dan menyentuh para perempuan miskin yang berjuang untuk mendapatkan pijakan di tempat-tempat umum dimana mereka mendapatkan penolakan disana, Kamla juga bekerja, mempertanyakan negara dan pemerintah atas ketidakmampuan mereka untuk menerapkan sistem yang adil bagi perempuan.

Kamla juga menjadi salah satu koordinator India One Billion Rising, sebuah kampanye global untuk mengakhiri pemerkosaan dan kekerasan seksual terhadap perempuan. Twocircles.net menulis, Kamla juga menciptakan beberapa slogan yang sangat populer untuk perempuan di India, salah satunya adalah ‘Hum Bharat ki Nari hain, Phul Nahin, Chingari hain!’ (Kami adalah perempuan India, bukan bunga, tetapi bunga api).

Tenang, tegas dan tak pernah berhenti tersenyum, kematiannya menjadi perbincangan di Twitter di India.

“Anda mungkin pergi ke desa dengan ide atau rencana. Tetapi hanya jika Anda mau belajar dan dididik oleh orang-orang yang Anda layani, Anda akan membuat kemajuan. Ketika Anda mau mendengarkan mereka, Anda akan mulai melihat realitas mereka, bagaimana kasta dan kelas beroperasi, dan betapa tidak adilnya bagi masyarakat,” katanya dalam sebuah wawancara yang ditulis Thehindu.com

Saya bertemu dengan Kamla Bhasin pada 19 Agustus- 15 September 2017 dalam acara South Asian Feminist Capacity Building Course on Gender Sustainable, Livelihoods, Human Rights dan Peace di India yang diadakan oleh Sangat dimana Kamla Bhasin menjadi salah satu inisiatornya.

Kursus ini memberikan pelajaran bagaimana perubahan dalam kesetaraan gender tidak dapat terjadi jika pola pikir itu sendiri tidak diubah. Tidak peduli seberapa bagus kebijakannya, jika pola pikir tidak diubah, maka kesetaraan gender tidak dapat dicapai. Kamla Bhasin mengajarkan tentang cara kita melihat bagaimana dalamnya patriarki bekerja dengan menggunakan berbagai pendekatan. Dengan memeriksa suatu masalah dari pendekatan yang berbeda, kita akan dapat memahami kompleksitas yang terjadi secara komprehensif. Kami diingatkan untuk tidak mudah berasumsi dan menghakimi.

Buat saya, Kamla Bhasin adalah salah satu “guru” yang meninggalkan jejak mendalam di hati dan pikiran saya dan pasti banyak murid beliau lainnya.

Kamla adalah pribadi yang gembira, ceria sebagai gambaran sikap optimisnya yang selalu terlihat. Tapi sekaligus reflektif, sikap yang membawa seseorang pada kemampuan untuk melewati berbagai hal yang menyakitkan dengan teguh dan bijak.

Dia lucu dan hangat tapi untuk hal-hal prinsipil dia sangat tegas. Saya ingat ketika di awal-awal pelatihan, sekelompok perempuan muda seakan membuat “blok”. Pada jam dan waktu istirahat mereka cenderung bergerombol. Sebuah pemandangan yang biasa mungkin, mengingat orang akan bergaul dengan siapa mereka merasa nyaman.

Kamla tidak menegur langsung, tapi beberapa kali saya lihat dia bergabung dengan mereka. Ikut ngobrol, bercanda, merokok. Sampai pada saat dimana dia membahas perilaku itu di kelas. Dan menyatakan bahwa jika kita berbicara soal peminggiran, maka yang sedang terjadi jika kita tidak berupaya mengenal orang lain yang “serumah” dengan kita, itulah awal eksklusivisme. Dekat pada proses menganggap yang lain “the other”, liyan.

Dalam sesi Yoga yang kami lakukan hampir setiap pagi di pelatihan tersebut, dia beberapa kali akan mengatakan,”buka kakimu” atau “buka selangkanganmu”. Saya ingat, salah satu pose favorit Kamla adalah laughing Budha, dimana ia meminta kami tertawa terbahak-bahak. Pesannya jelas yaitu bebaskan badanmu dari sistem patriarki yang selalu ingin mengontrol tubuh perempuan. Harus begini, harus begitu. Bebaskanlah!

Kamla, selalu melihat dengan teliti, satu persatu dari kami, mendalami, menanyakan, mencerahkan dan menantang nilai, perilaku, pikiran yang mungkin (awalnya) kita anggap benar atau kita cerap secara tidak sadar dari lingkungan. Padahal jika dilihat dengan jernih, itu berlawanan dengan nilai feminisme, yang seharusnya setara, adil dan menentang kekerasan. Sedih sekali mengingat ini semua.

Kamla, selamat jalan.

Cinta, peluk dan hormatku. Semoga engkau dan putrimu dapat bertemu dalam keabadian.

(Foto: Meutia Faradilla dan koleksi Anik Wusari)

Anik Wusari

Aktivis dan Pengurus Indonesia untuk Kemanusiaan (IKa)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email