Perempuan Punya Mimpi, Mimpi Bukan Privilege Laki-Laki

Semua perempuan boleh mengejar mimpi, karena mimpi bukan milik atau privilege laki-laki

Sebagai perempuan, bolehkah kami bermimpi? Jawabannya mudah: boleh. Karena semua orang boleh bermimpi.

Dan saya yakin tidak ada satu pun orang yang dengan tegas menjawab, “tidak boleh! sebab mimpi adalah privilege para laki-laki”.

Tidak ada manusia yang demikian kejam berlaku demikian saya rasa. Benarkah begitu? Baiklah. Lalu bagaimana bila pertanyaan tersebut saya ilustrasikan dengan sebuah peristiwa seperti ini?

Dian, seorang Ibu yang bekerja dan berkarir mapan. Ia memiliki suami serta dua putra-putri, Ia juga baru saja menyelesaikan program magister di kampus terkemuka di Indonesia.

Dian demikian ingin melanjutkan jenjang sekolah ke Pendidikan doktoral. Ia ingin sekali pergi ke Belanda, negeri yang ia impikan bisa menuntut ilmu di sana sejak  di bangku SMP. Dian pun mengutarakan keinginannya untuk sekolah, ia menyampaikan mimpinya. Namun, seketika itu juga harapannya terbunuh, orang tua dan suaminya berkata:

“Kamu mau mencari apa lagi? Tidakkah ini sudah cukup? Sampai kapan kamu egois dengan mimpi-mimpimu?”

Dian tidak habis pikir, mengapa ia disebut egois. Ia berusaha menjadi Ibu yang baik untuk putra-putrinya, menemani belajar daring hingga memasak untuk mereka (meski ketika sedang lembur, sesekali ia harus memesan makanan via aplikasi online). Dian juga memenuhi kebutuhan hidup keluarga inti dan orang tuanya.

Pernah, satu ketika, Dian mengambil kursus bahasa Jerman. Dian memang suka belajar bahasa asing di waktu senggangnya.  Ketika Dian menyampaikan rencananya pada orang tuanya, ternyata  ia tidak mendapat dukungan, seperti yang diharapkan. Ayah  justru menganggap tindakannya sebagai kesia-siaan.

Karena bagi mereka, waktu yang disisihkan Dian untuk kursus, akan lebih bermanfaat bila digunakan untuk merapikan rumah yang kerap berantakan karena Dian tidak bisa merapikan setiap hari. Atau, biaya kursus bisa dialihkan untuk menabung demi masa depan putra-putrinya.

Memiliki dan meraih mimpi, pada praktiknya bukanlah suatu hal yang yang mudah dikatakan “tentu saja  boleh” dimiliki perempuan. semakin bertambah usia perempuan, semakin bertambah beban yang diberikan padanya. Dan karena saking banyaknya, perempuan tak boleh lagi menambahkan “mimpi” pada apa yang telah ada di punggungnya.

Jika Martin Luther King dalam pidato “I Have A Dream” (1963) yang membius publik Amerika itu, menyampaikan visinya akan dunia yang memandang manusia secara adil, tanpa melihat warna kulit seseorang. Maka, saya memiliki mimpi, terwujudnya dunia yang bersikap lebih adil terhadap perempuan. Membolehkan mereka memiliki dan mengejar cita-citanya, lingkungan sosial yang mampu menjadi social support system (penuh tanpa tapi) ketika seorang perempuan sedang berproses memenuhi panggilan jiwanya, menggapai cita-cita.

Saya bermimpi, punahnya dunia dan orang-orang yang gemar memberondong pertanyaan:

“Nanti anak-anakmu bagaimana?”

“Siapa yang akan merawat suamimu?”

“Apalagi yang kamu cari?.”

Yang akhirnya membuat perempuan seketika mengesampingkan mimpi, mempercayai bahwa memang ia tak layak lagi berjuang untuk dirinya, dan kebahagiaan terbesarnya semestinya adalah melihat semua orang yang di sekitarnya bahagia. Ia dari waktu ke waktu, hari ke hari harus terus mengatakan itu pada dirinya.

Saya bermimpi, lahirnya dunia baru, yang lebih ramah pada setiap manusia, tanpa memandang jenis kelaminnya. Dunia yang dipenuhi oleh orang-orang yang mau membuka mata, berbagi beban, dan memberi ruang aktualisasi bagi perempuan.

Untuk perempuan yang membaca catatan ini, saya titipkan pesan, peliharalah mimpi kalian, sisihkan waktu dan tenaga untuk memupuknya, agar tumbuh kuat dan berbuah lezat.

Juga untuk para perempuan yang saat ini berupaya mewujudkan cita-cita, percayalah  bahwa lelah kalian bukanlah sesuatu yang salah. Teruslah berjalan, jangan menyerah.

Jika kalian saat ini menjadi Ibu, didiklah anak-anak perempuan kalian agar menjadi manusia yang tak takut bermimpi, setinggi angkasa.

Ketika menulis ini, mata saya terpaku pada kutipan dari Jalaluddin Rumi, yang sengaja saya print dan letakkan di atas meja baca:

“Seseorang dinilai bukan dari kaki hingga kepala, tapi dari kepala hingga ke langit.”

Nilai seseorang, bukanlah ditentukan oleh apa yang ia miliki, namun dari apa yang ingin ia capai selanjutnya

Putri Aisyiyah

Dosen ilmu komunikasi Unversitas Negeri Surabaya (UNESA), yang juga aktif sebagai peneliti di Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA UNESA)

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email