Sepinya Turis Di Masa Pandemi: Perempuan Dan Pekerja Paling Kena Dampaknya

Banyak perempuan yang bekerja sebagai wirausahawan di bidang pariwisata. Mereka terlibat dalam usaha kecil dan informal seperti membuka restoran, penjual oleh-oleh, dan pemandu wisata yang terkena dampak sepinya turis di masa pandemi

Pandemi COVID-19 telah menghentikan berbagai aktivitas di dunia. Industri pariwisata merugi, terdampak pembatasan perjalanan dan pengendalian mobilitas perbatasan antardaerah yang dirancang untuk mengurangi kontak antar manusia.

Pariwisata Indonesia secara khusus sangat terpukul. Pada 2020, jumlah pengunjung mancanegara turun sebanyak 75% dan perjalanan domestik turun setengahnya. Bisnis pariwisata akhirnya tidak memiliki pilihan lain, selain mengurangi jam kerja, memberhentikan karyawan, dan menerapkan pemotongan gaji.

Kami mempelajari dampak COVID-19 terhadap pekerja dan bisnis di industri pariwisata Indonesia. Kami menemukan keruntuhan industri pariwisata, sektor penting dalam ekonomi di Asia Tenggara, sangat berdampak pada perempuan, pemuda, dan pekerja berpendidikan rendah.

Siapa yang paling berisiko?

Sebelum COVID-19 melanda, bisnis pariwisata menyumbang 5,7% Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia.

Dengan adanya COVID-19, dalam rentang Januari hingga September 2020, kerugian industri pariwisata diperkirakan berjumlah Rp 202 triliun (US$ 14 miliar). Saat ini anjloknya sektor pariwisata telah membuat Indonesia kehilangan 1,7% PDB, sebesar Rp 272,9 triliun.

Ini mengancam 3,4 juta pekerjaan (2,6% dari tenaga kerja nasional).

Bali mengalami pukulan terberat, kehilangan 32% pekerjaan, atau sama halnya dengan satu dari setiap tiga pekerjaan yang ada. Ini berarti sekitar 820.000 orang memiliki risiko tinggi kehilangan pekerjaan.

Kepulauan Riau dan Yogyakarta masing-masing kehilangan 11% pekerjaan, diikuti oleh Nusa Tenggara Barat (8%).

Sekitar 1,63 juta perempuan, 755.000 pekerja muda berusia 15-27 tahun, 1,12 juta orang berpendidikan rendah, dan 541.000 orang dengan pendapatan kurang dari Rp 1 juta per bulan termasuk yang terkena dampak di seluruh Indonesia. Ini setara dengan 3,1% adalah pekerja perempuan, 2,7% pekerja muda, 3,1% adalah pekerja berpendidikan rendah, dan 2,3% adalah pekerja berpenghasilan rendah.

Banyak perempuan yang bekerja sebagai wirausahawan di bidang pariwisata. Mereka terlibat dalam usaha kecil dan informal seperti membuka restoran, penjual oleh-oleh, dan pemandu wisata.

Pekerjaan pariwisata yang dilakukan oleh pemuda, pekerja berpendidikan rendah, atau berpenghasilan rendah termasuk jasa foto di tempat, tukang ojek, pramusaji, pemandu wisata, penyedia penyewaan peralatan pariwisata, dan petugas kebersihan.

Masing-masing kelompok dan wilayah yang terkena dampak memiliki kondisi yang berbeda-beda. Ini dipengaruhi oleh kemampuan pekerja mempertahankan pekerjaannya, dan jika tidak mampu, apakah mereka bisa mendapatkan pekerjaan baru dengan cepat demi mempertahankan pendapatan yang stabil.

Dalam situasi seperti ini, daerah dengan fokus pariwisata yang kuat sebelum COVID-19, seperti Bali dan Yogyakarta, akan kesulitan menyediakan lapangan kerja baru.

Demikian pula, orang-orang yang memiliki pekerjaan di sektor-sektor yang menghadapi pengangguran tinggi (seperti perhotelan, ritel, dan transportasi) akan sulit menemukan pekerjaan baru karena persaingan yang ketat di antara orang-orang dengan keahlian yang sama.

Akibat hilangnya pekerjaan pariwisata pada 2020, pekerja perempuan di Yogyakarta dan Bali, pekerja usia muda di Bali, karyawan berpenghasilan rendah di Kepulauan Riau dan Jakarta, serta pekerja berpendidikan rendah di Nusa Tenggara Barat menghadapi tingkat pengangguran lebih dari 10%.

Pola pekerjaan pariwisata seperti ini menunjukkan pentingnya sektor pariwisata dalam mendukung pekerja perempuan dan pengembangan pemuda di provinsi yang memiliki pertumbuhan pariwisata yang tinggi. Hal ini juga menunjukkan adanya kebutuhan untuk menyediakan pekerjaan bagi pekerja berpendidikan rendah dan berpenghasilan rendah di daerah miskin.

Pandemi telah menghancurkan banyak peluang bagi mereka yang memiliki kemampuan finansial tidak seberapa.

Apa selanjutnya?

Bekerja sama dengan Badan Kebijakan Fiskal dan Kementerian Keuangan Indonesia, kami melakukan penelitian ini untuk memberikan bukti kepada pemerintah untuk mengembangkan paket stimulus.

Ini penting karena, bahkan dengan vaksin, dampak finansial dari pandemi akan terus berdampak pada kesejahteraan masyarakat miskin dan rentan.

Untuk memutus lingkaran setan ini, pemerintah perlu menyalurkan langkah-langkah mitigasi yang cepat dan signifikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan.

Kami merekomendasikan agar pemerintah pusat mengarahkan pendanaan pusat ke daerah untuk membantu kompensasi upah, pelatihan keterampilan, atau relokasi pekerjaan. Tindakan tersebut juga perlu didukung dengan pemberian pinjaman berbunga rendah dan keringanan pajak untuk usaha pariwisata kecil dan menengah di provinsi-provinsi yang paling terkena dampak.

Kami juga merekomendasikan pemerintah untuk mempromosikan strategi mendorong perjalanan domestik untuk mengisi kamar-kamar hotel dan kursi-kursi pesawat yang kosong di destinasi yang semula mengandalkan pasar internasional.

Bagi individu yang memiliki dana untuk dibelanjakan, dukungan terbaik untuk pemulihan kerugian ini adalah dengan mulai berwisata kembali saat kondisi sudah terbilang aman, dengan tetap mengikuti protokol kesehatan.

Mengunjungi destinasi lokal dan membelanjakan uang di usaha pariwisata kecil dan menengah akan membantu membangun kembali pekerjaan bagi kaum muda, perempuan, dan pekerja berpendidikan rendah.


Penelitian ini didanai oleh pemerintah Australia melalui program PAIR yang difasilitasi oleh Australia-Indonesia Centre (AIC).

Australia-Indonesia Centre (AIC) mendukung The Conversation Indonesia (TCID) dalam penerbitan artikel ini.


Rachel Noorajavi menerjemahkan artikel ini dari bahasa Inggris.

Ya-Yen Sun, Senior Lecturer, The University of Queensland; Futu Faturay, Policy analyst, Badan Kebijakan Fiskal, Kementerian Keuangan RI; Ilmiawan Auwalin, Associate lecturer, Universitas Airlangga; Jie Wang, Senior Lecturer, The University of Queensland, dan Lintje Sie, Data Analyst, The University of Queensland

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Ya-Yen Sun

Senior Lecturer, The University of Queensland

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email