Siasat PRT di Tengah Pandemi: Hidup Sederhana Sampai Jadi Ojek Online

Pembagian kerja dalam mengurus anak dengan suami, sampai pendapatan yang berkurang dirasakan oleh banyak perempuan di dunia ini sejak pandemi. Kami menyiasatinya dengan hidup sederhana hingga jadi ojek online di luar pekerjaan saya sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT).

Membereskan rumah, memasak dan berangkat kerja. Begitulah keseharianku sebelum dunia diserang pandemi Covid-19.

Hari itu, pada Minggu pertama bulan Maret 2020, sesampainya di tempat kerja, kulihat ada amplop bertuliskan namaku di meja rumah majikan. Ditujukan kepadaku, kubuka amplop itu.

Ternyata selembar surat dari majikan yang menyampaikan bahwa dia akan pulang ke negaranya dan aku bisa libur dua minggu. Tentu aku senang mendengar ini, karena aku jadi punya banyak waktu sama anakku di rumah.

Namun, belum genap dua minggu, tepatnya pertengahan bulan Maret 2020, berita mengabarkan bahwa jumlah orang yang terinfeksi Covid-19 di Indonesia meningkat sangat drastis, sehingga pemerintah mengeluarkan peraturan bahwa Jakarta akan mengambil langkah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Artinya, mobilitas warga dibatasi, tidak boleh kemana-mana, dan semua kegiatan dikerjakan di rumah. Sekolah-sekolah, perkantoran, pusat perbelanjaan, dan tempat-tempat hiburan ditutup. 

Selang beberapa hari aku menerima sebuah pesan singkat via WhatsApp dari bosku bahwa ia belum dapat kembali ke Indonesia untuk waktu yang tidak bisa ia pastikan mengingat situasi dunia yang memburuk akibat pandemi ini. Aku lega, karena hak upahku masih tetap dipenuhi bosku. Karena jika tidak, kabar ini mendadak sekali dan aku harus mencari pekerjaan baru.

Saat awal pandemi itu, aku tidak begitu merasakan perubahan yang signifikan dalam kehidupan keluargaku. Anjuran dari pemerintah agar seluruh masyarakat bekerja dan melakukan berbagai kegiatan dari rumah tidak menjadi persoalan karena anak-anak memang sudah terbiasa tinggal di rumah.

Aku pun pada waktu itu merasa memiliki lebih banyak waktu sehingga bisa lebih fokus mengurus anak-anak, seperti mendampingi putri sulungku belajar dari rumah.

Pada mulanya pandemi memberiku berkah waktu untuk keluarga. Namun, setelah enam bulan, tepatnya mulai September 2020, ketika bosku kembali dari negaranya, situasi berubah drastis.

Dalam hal pendapatan, aku masih jauh lebih beruntung dibandingkan kawan-kawanku yang kehilangan pekerjaan sejak awal pandemi. Aku masih bisa bekerja, dan bisa mendapatkan upah.

Namun, persoalan kemudian datang ketika belum ada pembagian tugas dengan suamiku dalam menemani anak kami belajar ketika kami berdua sama-sama bekerja di luar. Permasalahan demi permasalahan yang kuhadapi pada gilirannya mengakibatkan timbulnya pertengkaran antara aku dan suamiku. Memang aku tak bisa mengandalkan suami untuk mendampingi anak kami, karena sebagai kepala cleaning service, jam kerjanya lebih panjang dari jam kerjaku.

Dampaknya tentu saja menimpa putri kami. Anakku menjadi lebih pendiam. Kekhawatiran muncul di pikiranku dan suamiku. Kami coba menenangkan pikiran dan berdiskusi untuk mengatasi bersama kesulitan dan kendala yang kami alami, terutama dalam pendampingan sekolah online anak kami. Terutama ini kami lakukan agar beban belajar anak kami berkurang.

Di waktu santai, sambil bergurau, kuselipkan wejangan tentang kegiatan sekolah online-nya. Kudorong putriku untuk tidak perlu terlalu khawatir atau sedih karena sekolah tidak bertatap muka ini lumayan sulit buatnya.

Aku dan suami kemudian sepakat untuk bahu-membahu menemani putri kami. Ketika ada ujian, suamikulah yang akan mendampingi putri kami mengerjakan ulang tugas-tugasnya.

Subsidi paket internet dari pemerintah buat anak-anak sekolah, sampai sekarang pun belum memuaskan. Pernah saya dapatkan 10 GB, tapi tidak tahu fungsinya karena tetap saja kuotanya cepat habis.

Penghasilan suami yang berkurang karena sejak pandemi tidak ada lagi kerja tambahan (lembur), bukanlah suatu alasan bagi kami untuk tidak memenuhi hidup dan kebutuhan sekolah.

Berbagai macam cara kulakukan, salah satunya adalah dengan hidup sangat sederhana dan mencari tambahan pemasukan dengan menjadi ojek online, di luar jam kerja sebagai PRT.

Pandemi ini benar-benar mengubah segalanya. Kami yang jauh dari perhatian pemerintah harus lebih keras bekerja agar dapat menghadapi kerasnya dunia. Semoga wabah Covid-19 segera berlalu dan kami bisa hidup “normal” seperti sediakala.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Wina Ningsih

Bekerja sebagai Pekerja Rumah Tangga (PRT) dan aktif di Organisasi JALA PRT

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email