Telat Bayar Kontrakan Sampai Sulit Beli Pulsa Sekolah Online: PRT Di Masa Pandemi

Sudah 3 bulan telat bayar kontrakan, sampai sulit beli pulsa internet untuk sekolah anak, itu yang saya rasakan selama masa pandemi. Ini kondisi tersulit bagi kami sekeluarga.

Pandemi Covd-19 membawa dampak buruk bagi keluarga kami. Sebelum pandemi, suami saya bekerja sebagai ojek dengan penghasilan yang cukup untuk kami. Namun situasi pandemi ini, dia kehilangan konsumen dan pelanggan. Kini dia banyak menganggur.

Saya sendiri sempat dirumahkan selama satu bulan di awal pandemi. Setelah selesai dirumahkan sebulan lamanya, saya kembali lagi bekerja.

Namun, saya kehilangan dua pekerjaan di rumah 2 majikan. Dari semula saya kerja untuk tiga orang majikan, sekarang hanya tinggal seorang saja. Saya memang kerja pocokan (paruh waktu) sebagai pekerja rumah tangga, sekitar tiga jam di satu rumah tangga untuk setiap kali datang, dengan tugas nyapu, ngepel, nyuci piring, nyuci baju dan dan setrika.

Pandemi ini membuat pendapatan keluarga kami semakin drastis, pendapatan kami hanya tinggal sekitar seperenam saja. Untungnya cicilan motor suami saya sudah lunas. Andai kata belum, entah apa jadinya.

Dulu suami saya pernah bekerja di percetakan, namun kerjaan lama-lama sepi, dan suami saya beralih jadi ojek online. Untuk itulah kami perlu kredit sepeda motor lagi. Sebelumnya kami sudah punya sepeda motor, yang kami cicil setelah kami menikah tahun 2008. Dengan motor ini saya bekerja wira-wiri sebagai PRT paruh waktu di 3-4 tempat, sambil antar-jemput anak saya sekolah. Sekarang anak sulung kami sudah kelas enam SD.   

Kesulitan bayar kontrakan dan pulsa internet untuk sekolah anak

Dengan pemasukan yang sangat kecil di masa pandemi ini dan dengan dua anak lelaki (umur 12 dan batita), pendapatan satu juta sebulan hanya cukup untuk makan.

Biaya kontrakan kamar yang Rp. 1 juta/bulan termasuk untuk listrik dan air, terpaksa nunggak beberapa bulan. Pemilik tidak bisa menggratiskan kamarnya di awal pandemi karena situasinya juga sulit, tetapi ia memberi keleluasaan penyewa untuk mencicil pembayaran. Kami sempat menunggak tiga bulan di awal pandemi. Tentu ini tetap sangat berat buat kami.

Saya sempat kalang kabut mengatur ekonomi. Belum lagi saya harus mengatur waktu, untuk bekerja dan mendampingi anak belajar secara online.

Kami kesulitan membeli paket kuota internet, apalagi tidak mendapat subsidi dari pemerintah. Hanya sebagian siswa saja yang dapat. Kami harus membeli pulsa kuota internet yang Rp. 75 ribu setiap dua minggu agar anak saya bisa tetap belajar online dari rumah.

Saya sempat merasakan benar-benar sangat stres dengan keadaan ini. Bagaimana tidak? Saya harus bekerja demi manyambung kebutuhan hidup dengan membawa bayi. Hal ini semakin membuat pekerjaan semakin lama selesainya dan badan menjadi sangat capek.

Kemudian setelah pulang harus mendampingi anak belajar online yang kuotanya kadang ada dan kadang tidak. Saat pandemi ini, benar-benar berat perjuangan yang harus saya jalani. Setelah itu masih memikirkan dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti memasak, bersih-bersih, dan lain-lain.

Pulang kampung? Tidak mungkin. Kampung asal saya di Grobogan, juga kampung suami di Purwokerto, lokasinya di pelosok. Tak ada pekerjaan buat kami di sana, kami juga tdak memiliki tanah untuk digarap. Bertahan di ibu kota adalah satu-satunya pilihan. Kami bisa menyewa kamar 4×2,5 meter persegi untuk kami berempat.

Kami sudah pindah empat kali sejak tahun 2008. Sebelumnya kami menyewa kamar di lantai dua yang lebih murah, tetapi kemudan kami dapat di lantai bawah, yang bikin was-was kalau hujan besar. Kuatir kebanjiran. 

Suami saya pernah kecelakaan. Dengan kondisi tubuhnya, ia kini tidak bisa leluasa bekerja. Ia sering merasa kelelahan, sehingga kadang kendati ia sudah berangkat ngojek, tak lama ia kembali pulang. Kadang ia narik, kadang tidak. Kadang ia bisa memberi uang belanja, kadang tidak. Kaki dan lengannya memang tidak sempurna lagi sejak kecelakaan. Akhir-akhir ini malahan ia sering merasa kesakitan di kaki dan lengannya yang pernah cedera itu.

Namun kebutuhan hidup tak bisa ditunda. Perut anak kami tak mungkin dibiarkan menunggu. Maka saya harus rajin-rajin mencari informasi soal lowongan kerja.

Bersyukur baru-baru ini saya mendapatkan seorang majikan lagi. Kami dapat pemasukan tambahan Rp 1 juta, namun yang bisa kami gunakan hanya separuhnya; karena yang Rp 500 ribu harus kami pakai untuk membayar penitipan anak karena anak saya harus dititipkan dulu selagi saya bekerja

Untuk bisa mencukupi segala kebutuhan, saya terus berusaha mencari pekerjaan tambahan dan selalu berdoa. Semoga kondisi segera membaik, semoga saya segera dapat pekerjaan tambahan lagi. Semoga suami saya segera sehat dan lancar pekerjaannya, sehingga kebutuhan ekonomi tercukupi.  Kalau kondisi tidak segera membaik, saya takut tidak bisa melunasi bayar kontrakan yang sudah menunggak.

KEDIP atau Konde Literasi Digital Perempuan”, adalah program untuk mengajak perempuan dan kelompok minoritas menuangkan gagasan melalui pendidikan literasi digital dan tulisan. Tulisan para Pekerja Rumah Tangga (PRT) merupakan kerjasama www.Konde.co yang mendapat dukungan dari Jaringan Nasional Advokasi Pekerja Rumah Tangga (JALA PRT)

Siswati

Aktif di Organisasi Pekerja Rumah Tangga dan Operata Sedap Malam Tebet

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email