Banyak Kreator Konten, Namun Tak Peka Isu Kemanusiaan

Pendapatan melalui iklan di YouTube dan platform media sosial lainnya telah menggiur semakin banyak orang Indonesia. Sayangnya, konten yang diunggah tidak selalu bermutu.

Pendapatan melalui iklan di YouTube dan platform media sosial lainnya telah menggiur semakin banyak orang Indonesia menjadi kreator konten.

Sebagai gambaran, sepanjang pandemi di tahun 2020, platform pemasaran influencer (selebritas media sosial) SociaBuzz mencatat kenaikan pengguna yang mendaftar layanan mereka sebesar tiga kali lipat – dari sekitar 2.500 menjadi hampir 8.000 kreator baru per bulan.

Sayangnya, konten yang diunggah tidak selalu bermutu.

Kita berkali-kali mendengar berbagai kasus konten yang kontroversial – dari Atta Halilintar yang melakukan komersialisasi insiden keguguran yang dialami istrinya, hingga kreator bernama Ferdian Paleka yang melakukan prank (lelucon) memberikan sembako berisi sampah kepada beberapa transpuan pada tahun 2020.


Baca juga: Orang dewasa penyebab indeks “kesopanan” digital Indonesia buruk: pentingnya literasi digital


Di internet juga masih minim panduan bagi kreator terkait bagaimana menghasilkan konten dengan dampak sosial yang baik dan membangun.

Bedasarkan kajian (belum dipublikasi) yang kami lakukan terhadap 16 artikel online, berbagai materi tersebut pun baru fokus pada kiat-kiat menjadi kreator sukses secara teknis atau finansial.

Di sini, kami ingin mengenalkan prinsip berkarya yang disebut oleh peneliti pendidikan Carrie James dan rekan-rekan akademisinya sebagai “kewarganegaraan digital” (digital citizenship) dalam berkarya.

Penerapan konsep ini penting untuk menghasilkan karya yang bermanfaat, relevan, dan membangun terhadap isu sosial yang dihadapi Indonesia.

Memperhatikan literasi kritis dan etika produksi

Dari beberapa prinsip kewarganegaraan digital yang diperkenalkan oleh James, salah satu yang paling penting adalah kreator harus memperlebar perspektif mereka dalam menyajikan isu atau objek.

Tempat wisata yang “instagramable” (populer di Instagram), misalnya, sering diburu sebagai bahan konten.

Sayangnya, biasanya kreator sekadar menunjukkan pengalaman mereka saat menikmati tempat tersebut. Akan lebih bermakna jika mereka juga mendalami aspek sosial dari situs tersebut.

Bagaimana cerita sejarahnya? Apa aspirasi warga sekitar terkait pembangunan di daerah mereka? Apakah lingkungan sekitar tetap nyaman? Apakah mereka turut sejahtera?

Berbagai pertanyaan ini mengisyaratkan perlunya kreator memiliki apa yang disebut peneliti pendidikan Cathy Burnett dan Guy Merchant sebagai literasi kritis dan etika produksi.

Menurut Burnett dan Merchant, kreator dengan kapasitas literasi kritis akan memperhatikan “hidden assumptions” (membongkar asumsi masyarakat), “alternative representations” (memastikan keterwakilan pihak yang terdampak), dan “bias” (meluruskan bias berpikir) dalam konten yang mereka produksi.

Hal tersebut kemudian harus bergandengan dengan etika produksi – yaitu perhatian pada pertanyaan seperti “Siapa saja yang terdampak dari produksi ini?” atau “Kepentingan siapa yang saya perjuangkan melalui konten ini?”

Dengan memenuhi beberapa pegangan di atas, kreator menjadi berpihak pada kemanusiaan dan kepentingan masyarakat.

Memanusiakan manusia

Kemudian, kreator harus mampu memanusiakan setiap pihak yang terlibat dalam kontennya. Mereka bisa melakukan ini, misalnya, dengan lebih berani menggali berbagai fakta “abu-abu” yang selama ini tidak pernah terungkap.

Salah satu kreator yang menurut kami baik dalam menerapkan ini adalah Daniel Mananta lewat kanalnya “Daniel Tetangga Kamu”. Ada juga YouTuber Barry Kusuma dalam kontennya tentang Natuna.

Dalam kanal Daniel, misalnya, ini terlihat saat ia mewawancarai aktris Dian Sastrowardoyo.

Saat kreator lain memilih membahas topik populer seperti pengalaman romansa atau film-film Dian, Daniel menguak lebih dalam lagi tentang aspek personal dari kehidupan Dian. https://www.youtube.com/embed/rSa2BMiXy6s?wmode=transparent&start=0

Daniel membongkar beberapa anggapan dari masyarakat terkait capaian hidup aktris tersebut. Dian, misalnya, saat kecil ditinggal ibunya ke luar negeri tak lama setelah ayahnya meninggal, dan mengungkap adanya “abandonment issue” (trauma ditinggalkan). Daniel juga berhasil membuat Dian bercerita tentang masa lalunya saat ia dan ibunya dipandang sebelah mata oleh orang-orang terdekat mereka.

Meski demikian, Dian terus berjuang dan bahkan kini punya yayasan yang memberi beasiswa pada perempuan muda.

Di sini, kami berpendapat Daniel berhasil mengajak pemirsanya untuk berempati pada Dian sebagai seorang manusia dan bukan hanya sebagai objek.

Studi tahun 2014 dari Korea Selatan juga mengungkap bahwa empati adalah salah satu emosi utama yang membuat penonton sangat tertarik dengan video di platform Youtube.

Membela kepentingan masyarakat

Aspek lain dari kewarganegaraan digital yang juga penting adalah kreator harus bisa menjadi pendukung atau pembela kepentingan masyarakat.

Kajian tahun 2020 dari Jerman menyimpulkan bagaimana video adalah format yang baik untuk aktivisme dan edukasi masyarakat karena penyebarannya cepat dan mudah diakses.

Kita miris mendengar dalam kasus Ferdian Paleka sebelumnya, misalnya, bagaimana kelompok marjinal banyak yang diperlakukan tidak manusiawi di Indonesia. Di tengah pandemi COVID-19, ada juga beberapa kelompok masyarakat yang mengabaikan protokol kesehatan dan tidak bersedia melakukan vaksinasi sehingga mengancam kesehatan warga yang lain.

Beragam masalah ini menunjukkan urgensi pentingnya memperjuangkan kepentingan masyarakat lewat konten digital.

Saat ini, sudah ada beberapa kanal YouTube yang mulai memperhatikan ini dalam karya-karyanya.

Sosok-sosok di balik kanal Menjadi Manusia, misalnya, banyak mengeluarkan video yang mengangkat pengalaman dan tantangan kelompok transpuan, orang dengan gangguan kesehatan mental, dan pemeluk agama minoritas selama hidup di Indonesia. https://www.youtube.com/embed/SErzkpN1DZE?wmode=transparent&start=0

Di sela-sela berbagai vlognya, YouTuber Fathia Izzati juga mengangkat bahasan mengenai isu kekerasan seksual terhadap perempuan di Indonesia, rasisme yang dialami orang Indonesia Timur, dan korban kekerasan aparat kepolisian bersama berbagai narasumbernya.

Tak harus menunggu YouTuber ternama melakukannya, para kreator pemula juga bisa mulai mengambil tindakan melalui konten yang mereka buat. Kerja kemanusiaan dapat bergandengan dengan upaya meraih perhatian penonton.

Menanti lebih banyak kreator yang berpihak pada kemanusiaan

Di panggung internasional, para kreator Youtube dari seluruh dunia berkumpul dalam ajang YouTube Creators Summit, salah satunya untuk mempromosikan kesadaran terkait isu global, toleransi, dan empati melalui kreasi video.

Pada tahun 2018, kanal Cameo Project menjadi wakil Indonesia dalam ajang tersebut. Mereka sebelumnya berkolaborasi dan melatih 2.000 anak Sekolah Menengah Atas (SMA) di Indonesia untuk menciptakan video-video perubahan sosial, di antaranya tentang toleransi agama, serta literasi digital untuk melawan hoaks.

Ke depannya, terbuka lebar peluang untuk memperbanyak wakil Indonesia dalam kegiatan tersebut yang memiliki semangat kewarganegaraan digital.

Kajian yang kami lakukan awal tahun ini, misalnya, menemukan tren bahwa anak muda Indonesia mulai semakin antusias menggunakan media sosial untuk mempromosikan hak asasi manusia dan memberi dampak sosial yang membangun.

Dengan mengikuti praktik baik kewarganegaraan digital dalam berkarya, akan bertambah anak muda yang bergabung dengan para kreator ini untuk menunjukkan pada dunia keberpihakan mereka pada kemanusiaan.

Puji Astuti, Associate Professor of TEFL Methodology, Universitas Negeri Semarang dan Jayne C. Lammers, Associate Professor of Education, University of Rochester

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Puji Astuti dan Jayne C. Lammers

Associate Professor of TEFL Methodology, Universitas Negeri Semarang dan Associate Professor of Education, University of Rochester

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email