Tak Menyerah di Tengah Pandemi: Para Perempuan Petani Lahirkan Coklat Mboro

Pandemi tak hanya melahirkan cerita duka. Sejumlah perempuan petani justru melahirkan contoh usaha ekonomi kreatif baru, salah satunya yang dilakukan para perempuan di Yogyakarta dengan melahirkan coklat Mboro

Pandemi adalah cerita tentang banyak duka, banyak orang kehilangan mata pencaharian di masa ini. Tapi yang ini tidak. Di tengah nasib yang semakin tidak menentu, kondisi ini justru menggetarkan perempuan-perempuan petani. Di tengah pandemi, perempuan-perempuan ini justru menemukan peluang usaha baru. Apakah itu? 

Adalah kelompok perempuan petani Kakao di Banjarasri, Yogyakarta. Melihat melimpahnya produksi kakao di daerahnya membuat perempuan-perempuan ini mulai menyadari potensi dan nilai jual kakao.

Dalam live Instagram bersama kalyanamitra, Astuti dan Sinta, membagikan pengalaman mereka dalam membentuk usaha kolektif coklat Mboro. 

Dari intensitas pertemuan para perempuan disini yang cukup tinggi, beberapa orang mengusulkan agar membuat kegiatan yang menguntungkan. 

“Sejarah terbentuknya kegiatan pengrajin coklat, awalnya di pertemuan PKK itu kita ada usul jangan pertemuan aja, sebisa mungkin kita menghasilkan, berawal dari situ kami terus menggali potensi yang ada di Banjarasri, kebetulan yang ada di sini kan kakao,” kisahnya

“Terus selama ini (kakao) cuman dijual begitu saja, dijual mentah, jadi selama ini masyarakat cuman dipetik, dijemur, lalu jual di pasar gitu aja, nah, terus dari PKK itu ada keinginan untuk mengolah sendiri bagaimana sih caranya supaya kakao bisa bernilai lebih tidak dijual begitu saja, lalu kita ada latihan, kita wajibkan ibu-ibu untuk mengikuti pelatihan. Sebelumnya kita latihan sendiri, terus kok ternyata bisa, lalu kita coba mengajukan ke desa trus minta pelatihan,” sambung perempuan yang akrab dipanggil Tuti.

Saat menjelaskan sejarah kerajinan coklatnya, ia tak sendiri, ada beberapa pengrajin lain yang ikut menyimak dan bersahutan menambahkan jawaban Tuti. Mereka terlihat sangat menikmati sharing session itu sambil meneruskan pekerjaan mengemas coklat. Coklat yang dihasilkan Banjarasri sendiri, kini terkenal dengan nama ‘chocolate Mboro’ nama yang unik, seperti bentuk-bentuknya.

Tuti menjelaskan, permodalan awal dibangun berdasarkan kerja-kerja kolektif, mulai dari semua anggota wajib mengumpulkan uang sebesar 100.000 rupiah, hingga mereka bisa membentuk badan koperasi kecil sebagai modal awal menjalankan usaha kerajinan coklat Mboro itu.

“Untuk modal, kita awalnya modal sendiri patungan dari beberapa yang mau ikut dari kelompok kakao, jadi bentuk kayak koperasi gitu, jadi tiap orang itu 100 ribu, lalu kita beli itu apa namanya, mesin, tapi mesin yang masih manual, yang masih diputer,” jelas Sinta, salah satu rekan kelompok pengrajin. 

“Terus kita waktu itu mesinnya rusak beberapa kali, lalu akhirnya kita bisa mengajukan ke desa, terus kita bisa membeli mesin sendiri, mesin giling yang juga dibantu Kalyanamitra, abis itu kita juga dibantu oleh pertemuan dengan petani kakao, supaya mereka mau menjual kakaonya ke kita,” terus Sinta menjelaskan.

Aktivitas Petani yang Berubah Karena Ada Coklat Mboro

Inilah aktivis Shinta dan para perempuan petani sekarang. Setiap Pukul 9 pagi, Sinta selalu sudah merampungkan aktivitas memasak dan membersihkan rumah. Sambil jaga toko dan momong cucu, perempuan 53 tahun itu tengah menunggu kedatangan ibu-ibu di wilayah tempat tinggalnya. Jumlahnya sekitar 8 orang.

Setiap tiga empat hari sekali, rumah Sinta memang jadi basecamp buat kelompok ibu-ibu berkumpul. Sejak beberapa bulan ke belakang, mereka memiliki aktivitas baru yakni membuat kudapan coklat yang diberi merek Chocolate Mboro. Semua bahan bakunya, didapat dari para petani setempat di desa Banjarasri, Kulon Progo, Yogyakarta. 

Harga kakao para petani Banjarasri selama ini juga tidak stabil. Bahkan, kebanyakan dijual murah ke tengkulak senilai Rp 300 per biji (belum disortir). Padahal, jika sudah diolah jadi bubuk Cokelat Mboro harganya bisa mencapai Rp 22.000 per 75-85 gram. 

“Awalnya dari perkumpulan PKK (pemberdayaan kesejahteraan keluarga), kita ditanya, apa ya yang melimpah tapi belum diolah? Kita tertariknya di coklat,” ujar Sinta kepada Konde.co, Jumat (15/10/2021). 

Bermula dari situ, Sinta dan kawan-kawan lalu menginisiasikan sistem permodalan kolektif. Dengan patungan sekitar Rp 100 ribu per orang, mereka pun akhirnya membentuk koperasi kecil dan membeli mesin sederhana membuat Chocolate Mboro. 

Tak langsung mulus, perjalanan merintis usaha coklat itu pun, sempat mengalami hambatan. Mesin putar yang digunakan untuk menggiling biji kakao mengalami kerusakan beberapa kali. Akhirnya, mereka mengajukan pembelian mesin produksi ke pihak desa dan bantuan dari lembaga Kalyanamitra. 

“Abis itu kita juga dibantu oleh pertemuan dengan petani kakao, supaya mereka mau menjual kakaonya ke kita,” Sinta menjelaskan.

Meski masih terhitung baru usaha kolektif itu berjalan, Sinta mengaku, antusias masyarakat untuk membeli produk Chocolate Mboro. Sistem pre order (PO) yang dipromosikan Sinta dan kawan-kawan di sosial media itu pun, selalu penuh. Sementara, kapasitas produksi juga masih terbatas. 

“Nanti dulu, nanti dulu, kadang ini pesanan ini belum dibuat. Tapi ya kita sambil jalan, kita posting, nanti kita sambil buat,” kata perempuan dua orang anak ini. 

Ke depan, Sinta berharap dirinya bersama para perempuan perajin Chocolate Mboro bisa meningkatkan kapasitas produksi. Termasuk dengan mengembangkan mesin pembuat cokelat yang saat ini tengah diajukan ke dinas untuk bantuan pembiayaan. 

Sampai saat ini, sekali produksi paling banyak perajin Chocolate Mboro hanya sanggup mengolah tak lebih dari 10 kg kakao. Sehingga dengan kualitas mesin produksi yang lebih baik, kapasitas pengolahan pun bisa ditingkatkan. Dengan begitu, konsumen Chocolate Mboro yang sudah semakin luas juga bisa dilayani. 

Tantangan dan Peluang 

Windi dari Kalyanamitra menjadi salah seorang pendamping di desa tempat Sinta dan kawan-kawan mengembangkan usaha Chocolate Mboro. Dia yang selama ini juga turut membantu mendampingi ibu-ibu dalam pembuatan proposal bantuan pendanaan. Termasuk, untuk kebutuhan mesin produksi cokelat yang butuh dalam jumlah banyak dan harganya relatif mahal. 

“1 September (2021) kemarin, teman-teman (perajin kakao) mengajukan dana istimewa untuk pengadaan mesin,” kata Windi dihubungi Konde.co, Sabtu (16/10/2021). 

Tantangan mengembangkan Chocolate Mboro, menurut Windi, bukan saja dari perlunya peningkatkan kapasitas alat produksi dan SDM. Namun juga sumber daya kakao yang ada. Di kawasan Banjarasri itu, tanaman kakao telah banyak yang berumur tua. Sehingga membutuhkan peremajaan tanaman kakao.  

Dahulunya, sepengetahuan Windi, para petani kakao di Banjarasri mendapatkan bibit kakao dari bantuan pemerintah Provinsi. Per petani, mendapatkan kurang lebih 100 bibit. Meski tak semua petani sampai sekarang bisa menanam sebanyak itu, minimal tiap petani mempunyai 5 sampai 10 tanaman kakao. 

“Bibit-bibit dari pemerintah (saat ini) masih remaja, belum bisa dipanen segera. Sedangkan yang ditanam sudah tua. Karena kualitas juga berpengaruh, banyak petani kakao punya banyak pohon tapi belum tau gimana caranya merawat,” ujarnya. 

Maka dari itu, dukungan SDM petani kakao di daerah setempat juga menurutnya perlu dikembangkan. Termasuk bagaimana menjadikan tanaman kakao sehat dan bagus sebelum diolah menjadi kudapan cokelat berkualitas. Kaitannya ini, peran pemerintah setempat juga penting digalakkan: pendanaan dan edukasi. 

Sembari menyiapkan diri atas tantangan itu, Windi juga menyampaikan bahwa para perajin ini bisa terus memanfaatkan peluang yang ada. Salah satu rencananya, pengembangan produk dan strategi melalui pembukaan kedai Chocolate Mboro. 

“Teman-teman rencananya mau mengadakan kafe, semuanya menunya dari Mboro,” imbuhnya. 

Coklat Mboro: Memberdayakan Perempuan

Tak sekadar manfaat secara ekonomi, kehadiran Chocolate Mboro ini juga berperan sebagai wadah bersuara dan terus berdaya. Sinta bilang, perempuan-perempuan perajin cokelat di Banjarasri biasanya saling bercerita, menyemangati dan saling mendukung. Mulai dari kehidupan rumah tangga sehari-hari sampai masalah yang banyak dialami perempuan. 

“Jadi punya tempat cerita. Yang jelas, ada tempat berkumpul yang positif dari sekadar ngerumpi. Sambil nyoba dapat pemasukan, meskipun saat ini belum banyak karena masih awal-awal,” kata Sinta. 

Senada Sinta, Windi pun menyampaikan berbagai agenda edukasi dan sosialisasi lembaga Kalyanamitra soal isu pemberdayaan perempuan juga dilakukan saat pertemuan perajin Chocolate Mboro. 

“Karena ada pertemuan perajin cokelat ini rutin tiap bulan, manfaat juga untuk buat forum diskusi seperti perlindungan korban kekerasan. Di Banjarasri juga angka stuntingnya tinggi, nah ini jadi wadah edukasi juga,” kata Windi. 

Tak hanya sebagai wadah edukasi dan pemberdayaan perempuan, Windi mengatakan para perajin Chocolate Mboro ini juga mempunyai harapan kontribusi. Yaitu menyisihkan sebagian persen keuntungan penjualan cokelat untuk kepentingan masyarakat lebih luas. Utamanya sumbangsih untuk pendampingan korban kekerasan dan menyumbangkan penghasilan untuk program pemberdayaan masyarakat desa. 

“Harapan besarnya selain untuk sumbangan forum pendampingan kekerasan juga untuk menambah pendapatan desa,” pungkasnya. 

Kini Banjarsari mulai terkenal dengan chocolate mboro, kerja kolektif itu masih bisa menghidupi keluarga dn mencukupi kebutuhan sehari-hari.

Semangat Menular ke Desa Lain

Setali tiga uang, di Desa Banjaroyo, Kecamatan Kalibawang, Jogja juga mengalami kondisi yang serupa.

Perbedaannya hanya terletak pada jenis usaha dan awal mula kerja kolektif itu hadir. Zuwaeni atau biasa dipanggil Nia, ketua Guyub Remen itu menjelaskan, awal mula tercipta paguyuban usaha menengah kecil di daerahnya berasal dari banyaknya usaha kecil yang muncul, seperti penghasil gula jawa, jenang, dsb.

“Dulu kami itu ibu rumah tangga biasa, ya, cuman tau kayak gitu-gitu (pekerjaan domestik) lalu kok ada beberapa usaha kecil yang sudah lebih dulu didampingi Kalyanamitra, seperti ternak lele, penghasil gula jawa, nah berawal dari kelompok-kelompok itu tercetuslah gagasan untuk bikin Guyub Remen ini,” terang Nia.

Guyub Remen memiliki arti Paguyuban Perempuan Menoreh, adalah salah satu wadah bagi perempuan-perempuan pemilik usaha menengah sampai kecil, paguyuban ini berfungsi untuk memajukan dan memberdayakan peran perempuan dalam rumah tangga.  

Saat pandemi menerjang banyak sektor yang terdampak, termasuk usaha ekonomi kreatif, akan tetapi sektor inilah yang paling cepat untuk kembali pulih lantaran usaha yang dikerjakan merupakan kebutuhan-kebutuhan esensial. Seperti pangan, ataupun bahan makanan. 

Perempuan memiliki peran yang sangat krusial untuk menjaga roda ekonomi rumah tangga tetap berputar, perempuan-perempuan desa banjarasri dan kalibawang. Mereka membuktikan, justru dalam krisis perempuanlah yang paling mampu untuk beradaptasi dan bertahan hidup secara kolektif, maupun mandiri. 

(Artikel ini merupakan Program ‘KEDAP atau Konde dan Kalyanamitra Program: Peliputan Kondisi Perempuan Marginal di Tengah Pandemi Covid-19’ Konde.co yang didukung oleh Kalyanamitra. Hasil peliputannya dapat dibaca di Konde.co setiap Senin secara Dwi Mingguan)

Reka Kajaksana dan Nurul Nur Azizah

Jurnalis Konde.co

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email