Dukungan Orang Sekitar: Cara Disable Bertahan Di Masa Pandemi

Penyandang disable tidak bersikap pasif dalam menghadapi COVID-19. Tidak sedikit penyandang disabilitas menunjukkan kreativitas dan daya juang yang tinggi dalam masa pandemi ini.

COVID-19 jelas memberi aneka dampak ekonomi, sosial, psikologis dan kesehatan lebih berat pada kalangan rentan termasuk penyandang disabilitas (difabel). Penyandang disabilitas memang sudah memiliki banyak kerentanan bahkan sebelum pandemi terjadi.

Sebuah kajian cepat (rapid assessment) dampak COVID-19 pada kelompok difabel yang dilakukan di 32 provinsi di Indonesia tahun lalu menemukan bahwa hampir 90% dari 1.683 responden yang bekerja mengalami penurunan tingkat penghasilan hingga 80%. Banyak dari mereka yang menghadapi risiko kesehatan yang lebih tinggi.

Studi tersebut juga menunjukkan bagaimana pemerintah juga kurang melibatkan komunitas penyandang disabilitas dalam proses penanganan pandemi COVID-19 dan juga pencegahannya.

Namun, di tengah risiko dan keterbatasan ruang yang disediakan pemerintah, riset terbaru kami yang didukung oleh Australia-Indonesia Centre menunjukkan bahwa kelompok penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan memiliki beberapa strategi yang membantu mereka berjuang selama pandemi.

Strategi bertahan

Kami melaksanakan riset di tiga daerah berbeda di Sulawesi Selatan yang merepresentasikan kondisi masyarakat di konteks perkotaan (Makassar), sub-perkotaan (Gowa), dan perdesaan (Bulukumba) pada November 2020 sampai Januari 2021.

Kami memilih Sulawesi Selatan karena statusnya yang memiliki kasus COVID-19 tertinggi di Pulau Sulawesi pada 2020 sampai awal 2021.

Temuan kami menunjukkan kalangan disabilitas tidak bersikap pasif dalam menghadapi COVID-19. Tidak sedikit penyandang disabilitas menunjukkan kreativitas dan daya juang yang tinggi dalam masa pandemi ini. Banyak informan secara rinci menunjukkan aneka upaya bertahan lewat bermacam-macam strategi dalam menghadapi dampak-dampak COVID-19.

Riset ini mewawancarai 86 responden dari berbagai kalangan, tidak hanya dari kelompok penyandang disabilitas tapi juga pemangku kepentingan, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan juga pejabat lokal yang mewakili lembaga-lembaga pemerintah yang terkait dengan pemberian layanan pada kalangan difabel. PerDIK (Pergerakan Difabel Indonesia untuk Kesetaraan) beserta anggota dan jaringannya juga berperan sangat penting dalam proses persiapan dan pengumpulan data studi ini.

Kami mengidentifikasi setidaknya dua strategi bertahan yang penyandang difabilitas di Sulawesi Selatan tunjukkan:

1. Strategi komunikasi

Banyak perempuan dan laki-laki penyandang disabilitas di Sulawesi Selatan mengembangkan beberapa strategi untuk mengatasi hambatan dalam berkomunikasi.

Selama pandemi, penyandang disabilitas memiliki akses yang terbatas untuk mendapatkan informasi tentang pandemi COVID-19, baik dari sumber resmi atau dari lingkungan sekitar. Hal ini karena banyak penyandang disabilitas yang mengalami hambatan dalam menerima informasi yang disampaikan.

Banyak penyandang tuli yang tidak bisa menangkap informasi karena pemakaian masker menghalangi mereka untuk membaca bibir lawan bicara. Salah satunya adalah Fadhlan (bukan nama sebenarnya).

“Selama pandemi, kita wajib memakai masker. Itu sangat menghambat kami membaca bibir dan berkomunikasi […]. Mereka sulit memahami keinginan saya dan tidak semua orang mau melepaskan masker mereka ketika berbicara dengan saya,” ujar Fadhlan.

Beberapa penyandang disabilitas seperti Fadhlan akhirnya berusaha memanfaatkan telepon genggam mereka ketika ingin berkomunikasi dengan orang lain. Ada yang menggunakan ponsel mereka untuk mengetik teks tentang apa yang ingin mereka komunikasikan. Ada juga yang menggunakan aplikasi khusus yang bisa membantu mencatat apa sedang dibicarakan.

2. Dukungan dari lingkungan terdekat

Strategi yang kedua melibatkan dukungan dari lingkungan sekitar, bisa saja keluarga, tetangga, kerabat, dan lembaga-lembaga non-pemerintah yang berkomitmen pada kalangan difabel. Mereka menerima bantuan atau solidaritas berupa penyedian aneka bahan makanan maupun dukungan psikologis dari lingkungan terdekat.

Namun banyak pula para penyandang disabilitas yang kami wawancarai kemudian menjadi relawan yang membantu sesamanya selama pandemi ini. Salah satunya adalah Nurul (bukan nama sebenarnya), mantan penyandang kusta, yang memberi dukungan pada beberapa orang yang juga penyandang kusta.

“Ada tetangga saya yang menjadi penyandang kusta. Saya membantunya mengambilkan obat di Puskesmas (Pusat Kesehatan Masyarakat) … Ada juga yang baru lulus SMA tapi tidak punya kendaraan…sebagai mantan penyandang kusta, saya merasa kasihan. Dia cantik dan kustanya sebenarnya tidak terlihat,” ujar Nurul.

Strategi-strategi tersebut menunjukkan bahwa penyandang disabilitas tidak bersikap pasif dalam menghadapi pandemi. Aneka strategi bertahan yang mereka lakukan termasuk bukan hanya menerima bantuan tapi juga bahkan ikut memberi dukungan pada sesama di komunitas difabel.

Studi ini mendukung studi-studi sebelumnya yang menemukan bahwa kalangan difabel memiliki potensi dan berdaya. Studi ini turut membantah stereotip yang sering muncul bahwa kalangan difabel bersifat pasif, apatis, dan melulu dalam posisi menerima bantuan.

Sumbangan riset kami

Penelitian kami pada dasarnya menunjukkan beberapa temuan serupa dengan riset sebelumnya, seperti bagaimana pandemi berdampak parah pada pendapatan penyandang difabel, lalu bagaimana pembatasan yang dilakukan selama pandemi juga memperburuk kesehatan mental mereka karena merasa terisolasi.

Namun, secara metodologis dan kerangka pikir, riset kami berusaha melengkapi kajian-kajian yang dilakukan sebelumnya.

Studi kami dengan sengaja memakai pendekatan model sosial yaitu cara pandang yang melihat disabilitas secara lebih berimbang, dengan tidak melulu melihat disabilitas sebagai kekurangan yang harus diperbaiki atau disembuhkan.

Model sosial ini juga memungkinkan kami melihat lebih jelas bahwa penyandang disabilitas sebagai warga negara memiliki hak-hak dasar yang semestinya terpenuhi. Pendekatan ini melihat penyandang disabilitas yang tidak melulu pasif dan membuat masalah disabilitas dilihat dalam kaitannya yang dinamis dengan masyarakat luas maupun aneka lembaga termasuk lembaga negara.

Melalui pendekatan kualitatif dan perspektif gender, kami mengamati pula pengalaman sehari-hari, dan strategi bertahan penyandang disabilitas (laki-laki maupun perempuan) selama pandemi.

Pendekatan kualitatif, model sosial dan perspektif gender lebih memungkinkan melihat masalah disabilitas secara dinamis dan menekankan pengaruh interaksi sosial termasuk opresi dan peminggiran sosial terhadap kalangan rentan ini.

Pendekatan ini sekaligus memungkinkan kita melihat lebih jelas strategi kalangan difabel untuk bertahan dalam kondisi sulit ini, termasuk bagaimana kalangan perempuan penyandang disabilitas seringkali terdampak lebih parah.

Pandemi memperburuk akses perempuan untuk mendapatkan layanan dasar terkait kesejahteraan, kesehatan, dan pendidikan.

Lalu apa selanjutnya?

Namun terlepas dari kemampuan para penyandang disabilitas untuk bertahan, banyak responden kami yang menemukan aneka pengalaman kalangan difabel yang menunjukkan bahwa dukungan dari pemerintah masih sangat minim.

Banyak misalnya yang belum menerima bantuan langsung tunai ketika pandemi, termasuk kalangan perempuan penyandang disabilitas.

Seorang penyandang disabilitas mendapatkan suntikan vaksin COVID-19 di Panti Sosial Bina Daksa Wirajaya Makassar, Sulawesi Selatan. ANTARA FOTO/Arnas Padda/yu/wsj.

Salah satu masalahnya bersumber pada pesan yang disampaikan terkait bantuan dana ini tidak ramah pada penyandang disabilitas sehingga tidak sampai ke mereka.

Cara pemerintah mendistribusikan bantuan juga dinilai kurang efektif karena banyak melibatkan pihak ketiga. Selain itu, data penyandang disabilitas juga masih tidak lengkap.

Untuk mengatasi hal ini, riset kami juga menyampaikan beberapa rekomendasi kepada pemerintah guna memastikan para penyandang difabel tetap mendapatkan hak-hak dasarnya selama pandemi:

  1. Memastikan menggunakan metode berkomunikasi yang memungkinkan pesan juga bisa diterima oleh penyandang disabilitas.
  2. Memperluas skema bantuan untuk memastikan orang dengan disabilitas terus mendapatkan akses untuk pemenuhan kebutuhan dasar mereka.
  3. Memperbaiki sistem pendataan penyandang disabilitas.
  4. Berkolaborasi lebih erat dengan organisasi-organisasi yang peduli terhadap isu disabilitas.

Dengan melaksanakan rekomendasi di atas, pemerintah bisa mendukung upaya pemberdayaan para penyandang disabilitas dengan lebih maksimal selama pandemi.

Sahabat-sahabat PerDIK, khususnya Dr. Ishak Salim dan Syarif Ramadhan, dan seluruh pewawancara dan informan berperan penting dalam pelaksanaan riset ini.

Para peneliti muda di Center of Excellence for Interdisciplinary and Sustaibality Studies (CEISS),Sekolah Pascsarjana, Universitas Hasanuddin, yaitu Rafika Ramli, Ulil Ahsan, Amanda Priscella, Betrin Natasya membantu menerjemahkan hasil wawancara informan ke dalam Bahasa Inggris dan analisis awal hasil wawancara tersebut.

Riset ini didanai oleh pemerintah Australia melalui program PAIR program dari Australia-Indonesia Centre.

Australia-Indonesia Centre mendukung The Conversation Indonesia dalam penerbitan artikel ini.

Sudirman Nasir, Senior lecturer and researcher at the Faculty of Public Health, Universitas Hasanuddin; Becky Batagol, Associate Professor of Law, Monash Sustainable Development Institute, Monash University; Claire Spivakovsky, Senior Lecturer in Criminology, The University of Melbourne; Muhammad JUNAID, Dr/Periset dan pengajar, Universitas Hasanuddin, dan Raffaella Cresciani, PhD Candidate in Criminology, The University of Melbourne

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Sudirman Nasir

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email