Misoginisme Dalam Melihat Risma: Selalu Dinilai Emosionalnya, Bukan Kapabilitasnya Dalam Memimpin

Menteri Sosial, Tri Rismaharini selalu dilihat dari sisi emosionalnya sebagai pemimpin yang suka marah-marah, bukan dilihat kapabilitasnya dalam memimpin. Padahal pemimpin laki-laki yang suka marah-marah juga banyak. Ini merupakan penilaian misoginis yang membenci Risma sebagai pemimpin perempuan

Pernah gak sih kamu merasa inferior ketika ada seseorang yang menginginkan kamu untuk memimpin sebuah project, tapi banyak yang meragukanmu karena kamu seorang perempuan? 

Atau pernah mendapat nyinyiran, karena cara kepemimpinanmu dianggap terlalu emosional? Atau justru sering digunjingkan oleh teman satu tim karena dianggap tidak bisa menggunakan logika dengan baik?

Mungkin hampir bisa dipastikan ada banyak sekali perempuan yang memiliki pengalaman yang sama terkait hal ini. Dianggap tidak mampu memimpin karena dia seorang perempuan. 

Jika kamu jeli, hal yang serupa bisa terjadi pada perempuan manapun, juga pada seorang menteri sekalipun.

Inilah yang dialami Tri Rismaharini, Menteri Sosial era Jokowi ini belakangan kerap menjadi pusat perhatian karena cara kepemimpinannya yang dianggap emosional. Tak sedikit pemberitaan tentang Risma menjadi trending dan memancing beberapa pengamat dan politikus berkomentar tentang sisi emosional Risma, ketimbang kinerja dan kapabilitasnya sebagai seorang pemimpin.

Melihat fenomena yang terus berulang ini, Konde.co mencoba untuk mewawancarai perempuan pemimpin dalam kesempatan yang berbeda. Dalam kesempatan itu kami berkesempatan untuk bertukar pikiran dan merefleksikan tentang bagaimana hal ini bisa terjadi.

Lilis Listyowati, Direktur Eksekutif Kalyanamitra bercerita, jika dalam beberapa kesempatan, perempuan seringkali dianggap tidak kapabel dalam memimpin karena mitos yang masih berlaku di Masyarakat hingga hari ini: perempuan tidak bisa jadi pemimpin

“Kalau saya memang ada di dalam NGO (Non-Goverment Organization/bukan organisasi pemerintah) perempuan ya, jadi kawan-kawan yang ada di dalam NGO ini perspektifnya sudah selesai, malah jadi sebuah keharusan dalam NGO perempuan pemimpinnya juga harus perempuan,” jelasnya saat ditemui Konde.co melalui google meet.

Menurutnya, apa yang terjadi pada pemerintah adalah cerminan masyarakat hari ini. Tabu rasanya jika melihat perempuan menjadi seorang pemimpin. 

“Mitos seperti perempuan memiliki 9 perasaan dan 1 logika, sedangkan laki-laki memiliki 9 logika dan 1 perasaan, hal seperti inikan yang masih langgeng di society kita, ini yang menyebabkan seseorang bisa mempertanyakan kapabilitas seorang permepuan, dengan kualitas baik sekalipun,” sambungnya.

Dalam kesempatan itu ia juga berbagi kisah yang terjadi di lingkungan ia tinggal yang sering mengabaikan perempuan dalam keputusan maupun pertemuan. 

“Contoh di tempat saya tinggal aja, rapat pembuatan masjid, kemudian mereka berinisiatif untuk mengundang jamaah, nah yang diundang itu semuanya laki-laki, padahal kalau kita bicara konteks jamaah kan ada laki-laki dan perempuan, kemudian akhirnya kami protes juga, kenapa hanya laki-laki yang diundang,” katanya bercerita.

Meski aksi protesnya berhasil, namun jumlah warga yang hadir juga masih timpang antara laki-laki dan perempuan. 

“Kemudian karena protes itu, jadilah keputusan akhir, undangan jamaah 20 laki-laki dan 2 perempuan, angka ini jelas masih sangat diskriminatif, perbandingannya masih sangat jauh, padahal itu sudah melalui protes ya,” lebih lanjut Lilis menceritakan.

Budaya patriarki yang kerap mensubordinasi perempuan inilah yang kerap menghambat perempuan untuk menjadi seorang pemimpin. Perempuan bahkan bisa lupa dengan namanya sendiri saat menjadi istri, karena konsep kepemilikan nama yang tak masuk akal. Kita tahu, kebanyakan perempuan harus melupakan namanya sendiri dan berganti nama dengan nama suaminya. Misalnya Mirna yang akan berubah namanya menjadi ibu Hasan, atau Santi yang namanya berubah menjadi Ibu Anton.

“Biasanya waktu kita melakukan pendampingan di desa, pasti ada, yang kita temui ada yang minder, merasa tidak mampu untuk memimpin, padahal belum mencoba, hanya karena mereka merasa kecil karena profesinya ibu rumah tangga,” terang Lilis.

“Bahkan ada juga kejadian ketika kita tanyain siapa namanya, mereka dengan otomatis menjawab ‘saya bu Joko, saya bu Mustofa’ kondisi ini hampir kita temui di setiap daerah ya, sampai perempuan-perempuan ini lupa dengan nama aslinya, tapi justru dari hal-hal sederhana dari situlah mulai kita masuk, benahi perspektifnya, kita ingatkan lagi dengan jati dirinya sendiri sebagai perempuan, dengan hal sederhana menyebutkan nama asli mereka dengan percaya diri,” sambungnya 

Mengubah perspektif memang bukan hal yang mudah, namun bukan berarti tak mungkin. Dengan hal-hal sederhana, perspektif bisa jadi berubah. 

“Kita coba ubah perspektif perempuan lewat hal-hal sederhana, seperti kalau perempuan itu merasa kecil karena ia adalah ibu rumah tangga, justru itu yang kita coba kupas, karena ibu rumah tangga itu pekerjaan yang sulit ya, ibu rumah tangga itu seperti presiden loh, harus memikirkan keuangan, kebutuhan pangan, dan lain-lain, itu kita tanyain selalu ‘bu kalau di rumah yang ngurus rumah siapa? Yang bertanggung jawab untuk menjaga kebutuhan pangan siapa?’ seperti itu,” terus Lilis.

Lilis berpendapat penghalangan perempuan untuk menjadi seorang pemimpin tak lain karena laki-laki takut merasa tersaingi, karena jika dibandingkan dengan kapabilitas perempuan dan laki-laki, tentu perempuan jauh bisa mengerjakan sesuatu dengan lebih baik daripada laki-laki.

Apa pentingnya perempuan menjadi pemimpin atau punya identitas sendiri? Pentingnya adalah ketika perempuan memimpin, bentuk simbol independensinya menjadi terlihat. Walau independensi ini sering disangsikan dan dianggap tak layak, namun ini harus diperjuangkan. Selama ini yang dilakukan perempuan itu seperti membunuh kultur: karena percaya diri yang selalu dianggap kulturnya laki-laki, bukan kultur perempuan

Padahal menjadi perempuan yang tampil secara powerfull di depan publik, itu bukan sesuatu yang mudah. Sejumlah penelitian bahkan menyebut bahwa laki-laki dianggap lebih percaya diri jika tampil di depan publik dibanding perempuan. Mereka juga seperti tidak terbebani jika melakukan pidato di depan umum, karena laki-laki telah memenangkan kultur

Cara pandang yang menyebut bahwa perempuan tak pantas marah, tak pantas memimpin ini bisa jadi karena adanya misoginisme yang terlalu lama mengakar, yaitu tindakan yang membenci perempuan untuk menjadi pemimpin atau mempunyai identitas sendiri. Feminis psikoanalis mengatakan misoginisme merupakan kekerasan atau serangan terhadap perempuan yang kemudian dianggap sebagai sesuatu yang normal, institusional dan terorganisir.

Tri Rismaharini mengalami ini, banyak laki-laki yang suka berteriak dalam memimpin, tapi tak pernah dipersoalkan, namun jika ini yang melakukan Risma (perempuan), dianggap tak layak untuk berteriak, ini karena kultur tak berpihak pada perempuan

(Foto: law-justice.co)

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email