Belajar Feminisme dari Buku Sastra, Bisa Banget!

Mempelajari nilai feminisme, tak harus melalui buku teori tebal. Banyak kok, buku sastra yang mulai mengangkat persoalan perempuan hari ini.

Ada yang bilang mempelajari feminisme hanya bisa melalui buku teks akademik yang sering bikin pusing. Nyatanya dalam beberapa kesempatan, mempelajari semangat dan nilai-nilai feminisme, tak harus melalui buku teori yang tebal-tebal.

Banyak kok, buku sastra yang mulai mengangkat permasalahan-permasalahan perempuan yang sangat dekat dengan fenomena hari ini.

Membicarakan persoalan kesetaraan dan feminisme bisa melalui banyak cara. Sastra, cara yang paling halus, untuk mengenalkan keresahan pribadi yang harusnya menjadi keresahan bersama. Jika dalam dunia nyata perempuan tak dapat ruang yang cukup, sastra masih terbuka lebar untuk teruskan kritik-kritik itu. 

Dan, kita tak kehabisan penulis sastra yang peduli dan mengangkat keresahan terhadap apa yang dialami para perempuan, sebagai bahan awal untuk memulai buku mereka. Dari buku-buku mereka ini, kita juga bisa mulai belajar bagaimana menjadi manusia yang setara.

Okky Madasari adalah salah satu contoh penulis dalam negeri yang kerap membawa permasalahan perempuan di tengah kondisi masyarakat yang sangat jarang memperlakukan perempuan secara setara dan adil.

Okky, dikenal sebagai novelis yang menaruh perhatian lebih pada isu-isu perempuan. Penulis kelahiran Magetan ini adalah perempuan termuda yang mendapat penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa. Ia meraih penghargaan karya sastra ini di usianya yang ke 28 tahun.

Tulisan Okky menggambarkan bahwa dunia sastra di Indonesia sebetulnya tidak sepi dari partisipasi penulis yang menyuarakan pesan-pesan kesetaraan.

Nah, berikut adalah 5 rekomendasi buku yang harus kamu baca jika ingin belajar feminisme dengan cara yang berbeda.

1.       Pasung Jiwa

Dengan detil dan ‘nakal’, Okky Madasari mampu memotret kehidupan dan pengalaman transpuan melalui novel Pasung Jiwa.

Sasana atau Sasa sebagai tokoh utama dalam novel ini sangat menggambarkan kondisi transpuan yang tak jauh dari penolakan masyarakat, dan pengalaman tragis transpuan. Sasa adalah seorang pengamen jalanan, hidupnya sangat bergantung dengan pendapatan harian yang ia dapat dari mengamen.

Okky berhasil membawa problematika keberagaman di Indonesia, yang bahkan sampai hari ini masih saja terus terjadi. Melalui pasung jiwa, pembaca bisa merasakan bagaimana menjadi minoritas. Dari novel ini pembaca bisa memahami kesulitan yang identik dengan kondisi kawan-kawan transpuan hingga hari ini.

2.       Perempuan Yang Memesan Takdir

Kumpulan prosa ini lebih tepat disebut sebagai kumpulan keresahan yang masih harus dihadapi perempuan hingga hari ini. ‘Perempuan yang Memesan Takdir’ terbitan Buku Mojok karya W. Sanavero ini berisi kisah perempuan-perempuan yang menjalani takdirnya masing-masing.

Buku ini bahkan seperti ensiklopedia cerita perempuan yang masih menjadi problematika hingga hari ini.

Di novel ini, Vero sang penulis menyingkap sisi lain perempuan yang tengah menjalani takdirnya masing-masing. Para tokoh perempuan dalam Perempuan yang Memesan Takdir mempunyai sudut pandang yang berbeda dalam memaknai cinta, kenangan, keluarga, budaya, pernikahan, bahkan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.

Dari sudut pandang perempuan, sebuah permasalahan terasa begitu kompleks jika itu menimpa perempuan. Sejatinya dalam kehidupan nyata, permasalahan perempuan bukanlah permasalahan yang sederhana tapi adalah masalah sosial yang sistemik lagi kompleks.

3.       Nayla

Nayla, tokoh utama yang dijadikan judul dalam novel besutan Djenar Maesa Ayu itu menghadirkan sudut pandang baru.

Nayla representasi korban kekerasan seksual yang mengalami banyak sekali dilematika dalam menjalani kehidupannya pascatragedi yang menimpanya. Di sini, Djenar mampu menggambarkan fase menerima diri sendiri yang merupakan tahap paling sulit bagi korban kekerasan seksual.

Dalam novel ini kita bisa banyak belajar tentang bagaimana di posisi korban. Kita juga diajak lebih dekat menyelami proses pergumulan batin yang dialami seorang korban kekerasan seksual. Meskipun tokoh dalam novel ini hanya rekaan alias tidak nyata, apa yang dialami Nayla, juga dialami oleh banyak perempuan di luar sana. Kita bisa belajar, bahkan orang terdekat bisa menjadi pelaku kekerasan seksual.

4.       Supernova 1: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh

Siapa sih yang gak kenal sama novel fenomenal ini? Supernova berhasil mengenalkan karakter pasangan gay yang menjadi tokoh utama dan dalang di balik cinta segitiga Putri, Ksatria dan Bintang jatuh. Cerita Supernova mungkin lebih banyak menceritakan tentang bagaimana seorang perempuan hanya bisa menerima dan tak bisa memilih.

Namun, bagian terbaiknya adalah, pasangan gay dalam supernova adalah yang berkuasa, ini sebenarnya adalah manifestasi dari kebalikan di dunianya, di mana pasangan gay tak pernah mudah memiliki ruang aman, bahkan untuk sekadar mengutarakan pendapatnya.

Namun seperti pada umumnya perlawanan dalam sastra, Dewi Lestari menciptakan tokoh perempuan yang bisa melawan berbagai stigma, yang sangat berbeda dengan apa yang biasa terjadi di dunia nyata.

Bintang jatuh, tokoh di novel ini merepresentasikan perlawanan perempuan yang digambarkan sangat ideal, dambaan semua perempuan.

5.      Perempuan di Titik Nol

Novel karya Nawal El Sadawi ini, kerap jadi perbincangan. Bukan hanya karena ceritanya yang hampir mirip dengan fenomena yang terjadi di Arab, akan tetapi Nawal berhasil mengusik ketrentaman patriarki di negaranya sendiri, melalui buku ini.

Tak heran jika banyak yang menilai buku-buku Nawal El Sadawi adalah api, darinya kita belajar banyak sekali isu perempuan yang sering menguap dan tak dihiraukan. Desakan diskriminasi berabad-abad lamanya, tak membuat pemerintah segera memberikan keputusan. Namun bagi Nawal, tak ada kata menyerah, masih banyak hal yang bisa dilakukan untuk melawan.

Menulis adalah salah satu cara yang dipilih Nawal untuk meneruskan api-api perjuangan. Dengan demikian, anak cucu perempuan dari generasi berikutnya terus terpantik untuk menciptakan ruang-ruang aman bagi perempuan lain.

Reka Kajaksana

Penulis dan Jurnalis. Menulis Adalah Jalan Ninjaku

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email