Dear Perempuan, Jadilah Pemimpin Bagi Dirimu Sendiri

Menjadi pemimpin bagi dirimu sendiri itu seperti apa? Kita bisa belajar membangun kebiasaan baru, meninggalkan hal-hal negatif di sekitar, belajar dari kesalahan, menata dan memulai segalanya dari diri sendiri.

Menengok kabar dunia hari ini pasti sangat cemas dan berpikir, “kapan ya, bisa kayak dulu lagi?”

Kini rasa-rasanya kita perlu berteman dengan jarak, menghindari pertemuan menjadi bentuk kasih sayang yang baru, dan tak jarang, kita kerap tersesat dengan segala pikiran yang kalut—kehilangan makna akan hal-hal yang dulu membuat kita hidup.

Saya jadi teringat pada Hari Perempuan Internasional 2021 yang mengambil tema mengangkat kepemimpinan perempuan di tengah pandemi “Women in Leadership: Achieving an Equal Future in a COVID-19 World”.

Kepemimpinan tidak hanya berlaku di tempat kerja; menjadi pemimpin bisa dimulai dari pengembangan diri sendiri. Lalu, bagaimana kita tetap menjadi pemimpin bagi diri sendiri, khususnya di era pandemi ini? Bagaimana kita dapat membagi peran dan tetap produktif di tengah kondisi sulit ini?

Memimpin diri di tengah pandemi

Tidak bisa dipungkiri, di tengah-tengah ketidakpastian dan kekacauan setahun terakhir, kita dituntut tetap “waras”—apa yang kita lakukan adalah bentuk dari bertahan dan menjaga kewarasan tersebut.

Misalnya, menemukan hobi baru, kembali menjalin komunikasi virtual dengan kerabat lama, dan hal-hal sederhana lain yang mungkin belum pernah atau jarang kita lakukan sebelumnya. Walaupun kondisi sulit ini juga merupakan sebuah tantangan, namun pemahaman kita terhadap diri sendiri menjadi lebih intens dan luas.

Hal ini dapat kita lihat melalui bagaimana banyak orang—kadang bahkan tidak sengaja—menemukan sisi lain dalam dirinya. We’re just realizing and seeing the other part of people that we don’t see before.

Banyak yang memaknai secara beragam perihal memimpin itu sendiri, seperti belajar bertanggung jawab, mempercayai kemampuan diri, hingga memilih bangkit di situasi sulit ini untuk terus melanjutkan mimpi. Meski begitu, kita juga diberi ruang untuk berjalan lebih pelan, nggak harus buru-buru. Kita berkesempatan mengapresiasi segala proses jatuh bangunnya, beristirahat sejenak untuk setidaknya memberi nafas dari hiruk pikuk dunia.

Menjadi pemimpin di era pandemi juga berarti menerima dan memilah apa yang perlu kita “konsumsi”. Buatku sendiri, menerima dan memahami adalah bagian dari memimpin itu sendiri, mengontrol sesuatu yang nggak perlu dipikirkan dan fokus pada apa yang bisa membuat kita tetap tumbuh.

Jenuh memang wajar, lelah pun sangat normal, namun tidak ada yang lebih penting dari merawat diri agar tetap sehat secara pikiran, mental, dan fisik. Banyak yang kehilangan pekerjaan, tidak bisa melakukan aktivitas-aktivitas normal, bahkan kehilangan diri sendiri—mungkinkah kamu salah satunya?

Faktanya, kondisi pandemi ini justru banyak membuat orang insecure atau tidak percaya akan dirinya. Insecure sendiri adalah suatu kondisi mental ketika kita merasa cemas dan takut secara berlebihan. Bahkan, seseorang yang mengalami hal tersebut kerap menaruh curiga pada orang lain, dan banyak yang pada akhirnya membandingkan kehidupan sosial dirinya dengan seseorang yang ia lihat di sosial media.

Menurut riset yang dilakukan Dove dalam Indonesia Beauty Confidence Report 2017, disebutkan bahwa 38% perempuan Indonesia suka membandingkan diri dengan orang lain, dan sebanyak 84% persen perempuan Indonesia mengaku bahwa mereka tidak tahu jika dirinya cantik, disusul dengan 72% perempuan percaya bahwa untuk mencapai kesuksesan, perempuan harus memenuhi standar kecantikan tertentu.

Itu artinya, masih banyak dari kita yang memaknai bahwa kecantikan adalah sesuatu yang diperlombakan. Padahal, setiap perempuan memiliki kecantikan yang berbeda di luar dari fisik dan penampilan. Kita memiliki potensi, keberanian, kepribadian yang justru jauh lebih penting untuk menentukan value kita di tengah masyarakat.

Lalu apa yang bisa kita lakukan untuk menjadi pemimpin pikiran dan pandangan diri sendiri?

1.Pahamilah bahwa situasi yang sedang kita hadapi adalah kesulitan juga bagi banyak orang

Banyak yang telah dikorbankan dan apa yang harus kita lakukan adalah belajar menerimanya perlahan. Proses itu tentu tidak mudah karena kamu harus berani merangkul dan menjaga hubungan baik dengan dirimu. Segala ketakutan, kekhawatiran, maupun kecemasan wajar kamu rasakan—itu artinya kamu hidup dan tengah melanjutkan perjalanan. Ketahuilah bahwa kamu sudah melakukan yang terbaik dan kamu hebat telah berjuang hingga hari ini.

2. Pernahkah kamu mengajak berbicara diri sendiri? Pernahkah kamu menyisihkan waktu beberapa menit untuk mengapresiasi dirimu?

Di masa sulit ini, mungkin hanya kamu yang dapat menguatkan dirimu sendiri. Berikan waktu sejenak untuk mengajak diri berbicara akan hal-hal yang telah atau pernah dilewati, hal ini juga sangat penting untuk mengenal dirimu lebih dalam serta untuk belajar menerima hal-hal yang mungkin pernah menyakiti. Dari sini kamu juga bisa melihat kembali kekurangan dan potensi yang dapat dikembangkan, atau ide-ide baru mengenai target jangka pendek, seperti bangun lebih pagi, memberikan waktu sejenak untuk meditasi, maupun belajar untuk mulai mengatakan hal-hal baik pada diri sendiri. Nggak perlu sesuatu yang besar, namun setidaknya, kamu “hidup” di sana.

3. Kenali batasan-batasan dirimu

Ini bukan mengenai kemampuan, namun terkadang kita perlu mempertimbangkan sesuatu yang baik dan bukan untuk kita. Misalnya. berani untuk mengatakan “tidak” dalam beberapa hal yang membuatmu nggak nyaman. Hal ini adalah bentuk dan cara bersikap untuk mempertahankan kendali dalam hidup. Kenali batasanmu, lebih banyak ruang untuk diri sendiri artinya lebih banyak waktu untuk menata kembali apa yang perlu dibenahi.

4. Menjalin komunikasi dengan kerabat terdekat

Masa sulit ini membuat kita semakin membutuhkan seseorang untuk berbagi. Hal tersebut wajar, kita nggak selalu bisa mengatasi semuanya sendirian. Jika perlu bercerita dengan seseorang, berceritalah. Jika memang hanya ingin mengobrol setelah lama tak bercengkrama, hubungilah orang tersebut. Dikelilingi oleh orang-orang yang menyayangi kita adalah anugerah yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Hargailah keberadaan mereka.

5. Belajar mencintai dan menerima dirimu

Mungkin ini adalah yang paling berat, namun ketahuilah bahwa poin ini justru paling penting di antara yang lain. Jika ada beberapa hal dalam diri yang enggan untuk kita terima, semisal sesuatu yang kerap menimbulkan trauma atau pengalaman buruk yang masih belum ingin kamu lupakan, belajarlah untuk menerima dirimu selangkah demi selangkah. Cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya ketika kita telah menerima diri kita apa adanya.

Tahap ini membuat kita tidak hanya mengenal tujuan dan diri sendiri, namun ada kedamaian dan perasaan tenang akan apapun yang kita jalani ke depan. Tidak perlu membandingkan diri dengan orang lain, fokus pada apa yang dapat membuatmu berkembang, belajar, dan bertumbuh.

Memimpin dapat kita lakukan dengan cara paling sederhana, nggak perlu tolok ukur pencapaian yang besar maupun mendapatkan sebuah kehormatan—dengan bertahan hingga hari ini adalah caramu memimpin diri sendiri.

Kita bisa belajar menjadi pemimpin untuk diri sendiri dengan berbagai hal: membangun kebiasaan baru, meninggalkan hal-hal negatif di sekitar, belajar dari kesalahan, menata dan memulai segalanya dari diri sendiri. Walaupun kondisi pandemi memang menyulitkan, namun jangan jadikan hambatan untuk berani dan memulai hubungan baik terhadap diri sendiri.

Kita adalah pemimpin bagi diri sendiri. Teruslah melangkah perlahan, jika lelah, berhenti sejenak untuk istirahat. Namun jangan lupa untuk terus tumbuh karena dunia ini membutuhkan kebaikanmu.

(Sumber: https://plainmovement.id)

Febriana Sari Lubis

Penulis Plain Movement

Let's share!

Share on facebook
Share on twitter
Share on linkedin
Share on whatsapp
Share on email